
Sebuah tembok yang di kelilingi hutan belantara. Tembok itu tampak kokoh berdiri menjadi penghalang binatang buas untuk memasukinya. Tembok itu tampak cukup besar kearah kiri dan kanan. Tidak lama kemudian pintu gerbang tembok itu perlahan terbuka.
Tampak sekitar sepuluh orang prajurit mendorong pintu gerbang besar itu. Kakek Deja pun mengajak Anggala dan Wulan Ayu memasuki gerbang besar itu. Para prajurit itu menunduk memberi hormat pada kakek Deja, begitu orang tua itu lewat di depan mereka.
"Sayang, tampan dan cantik, mereka hanya akan jadi tumbal istana kematian lagi," desah seorang prajurit setelah menutup kembali pintu gerbang besar.
"Ya, semoga saja keduanya bisa melepaskan ketakutan yang merongrong kita yang tidak tau dari mana asalnya itu," timpal prajurit yang satunya lagi. Prajurit yang lain tampak hanya diam mendengar celoteh kedua teman mereka itu.
Kakek Deja melambatkan lari kuda yang ia tunggangi, rupanya di dalam tembok tinggi yang mengelilingi itu terdapat sebuah tempat mirip kota, ada ratusan rumah yang bersusun rapi di kiri kanan jalan yang cukup besar.
Orang-orang menatap kearah kakek Deja yang menunggang kuda dengan perlahan. Mereka banyak yang saling berbisik melihat Anggala dan Wulan Ayu. Hanya anak-anak yang tidak mempedulikan siapa yang lewat depan mereka.
Di ujung deretan rumah itu tampak sebuah bangunan besar seperti istana, di depannya terdapat lapangan luas di sekeliling rumah besar itu terdapat beberapa rumah yang tertata rapi mengelilingi bangunan besar itu.
Kakek Deja menghentikan kuda di depan sebuah rumah paling ujung deretan rumah yang mengelilingi bangunan besar itu. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa mengikuti dari belakang.
"Ayo nak turun, kita mampir dulu ke rumah kakek," ajak kakek Deja, baru saja kakek Deja mendekati pintu rumahnya, pintu itu tiba-tiba terbuka. Seorang gadis cantik berpakaian merah muda tampak keluar dari balik pintu itu.
"Ayah sudah pulang, syukurlah ayah tidak apa-apa," ucap gadis cantik itu, "Siapa lagi mereka ayah?" tanya gadis itu pada kakek Deja.
"Pendekar, teman ayah. Cepat siapkan makanan, kami lapar," perintah kakek Deja sambil berjalan masuk, "Ayo nak Anggala, nak Wulan, kita istirahat dulu sambil Sarsih menyiapkan makanan untuk kita," ajak kakek Deja.
"Baik Kek!" jawab Anggala dan Wulan Ayu berbarengan. Kedua pendekar itu pun langsung ikut memasuki rumah kakek Deja.
Sambil menunggu Sarsih menyiapkan makanan, kakek Deja bercerita tentang dirinya. Orang tua itu menjelaskan semua yang membuat Anggala dan Wulan Ayu ragu. Kakek Deja memberi tahu nama aslinya adalah Deja Wantara, mantan patih Kerajaan Pasemah Agung itu.
"Jadi siapa yang Kakek curigai dalang dari semua teror di Kerajaan Pasemah Agung ini?" tanya Anggala sambil memelankan suaranya.
"Sebenarnya aku mencurigai Sembung Merah, namun aku belum ada bukti tentang keterlibatannya dengan Partai Teratai Api itu, nak Anggala," jawab kakek Deja Wantara agak berbisik.
"Apa Kakek mempunyai dasar mencurigai Sembung Merah?"
__ADS_1
"Aku pernah melihat dia berbicara dengan si topeng hitam yang kalian kalahkan, tapi jika aku ceritakan pada Baginda Raja, beliau pasti tidak akan percaya. Karna Sembung Merah adalah suami putri Baginda Raja satu-satunya. Lagian putri Nilam Sari begitu mencintai suaminya," tutur kakek Deja Wantara.
"Ayah juga di tuduh oleh Sembung sebagai orang yang ingin menggulingkan kekuasan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta," timpal Sarsih sudah berdiri di belakang ayahnya.
"Hus.. Tidak sopan menyela percakapan orang tua," sanggah kakek Deja Wantara.
"Tapi yang Sarsih katakan benar Pendekar," tukas Sarsih sambil meletakkan nampan berisi nasi dan lauk di depan ayahnya.
"Tapi Baginda Raja Kalingga Jaya Karta tidak mempercayai semua tuduhan itu, makanya orang-orang Partai Teratai Api itu mengincar nyawaku anak muda," lanjut kakek Deja Wantara,"Ya sudah, kita makan dulu, Setelah itu kita keistana, aku akan memperkenalkan kalian pada baginda raja," tambahnya lagi.
Selesai makan kakek Deja Wantara mengajak Anggala dan Wulan Ayu menuju istana, untuk memperkenalkan diri pada baginda raja.
"Selamat datang Paman Deja, Siapa gerangan yang datang bersamamu ini?" Baginda Raja Kalingga Jaya Karta menyambut kedatangan kakek Deja Wantara dengan begitu ramah. Namun patih yang sekarang bersama Sembung Merah tampak diam saja melihat kedatangan kakek Deja Wantara bersama Anggala dan Wulan Ayu.
"Salam hormat saya Baginda," ucap kakek Deja sambil menunduk memberi hormat pada baginda raja Kindar Saka.
"Ha ha ha..! Bangunlah Paman, perkenalkan dua tamu kita itu padaku," jawab Baginda Raja Kalingga Jaya Karta, sambil memegang bahu kakek Deja Wantara dan mengajaknya berdiri.
"Salam hormat kami Baginda," ucap Anggala dan Wulan Ayu berbarengan sambil menunduk memberi hormat.
"Bangunlah anak muda, kalian adalah tamu kami, jadi jangan terlalu sungkan," titah Baginda Raja Kalingga Jaya Karta sambil tertawa, "Suatu kebanggaan bisa bertemu dengan pendekar hebat yang lagi jadi sebutan di dunia persilatan saat ini," tambahnya lagi.
"Kami tidak sehebat yang Baginda katakan," jawab Anggala merendah.
"Apa Ayahanda yakin kedua orang ini adalah pendekar yang mengaku sebagai pendekar terkenal dari barat itu, bisa-bisa mereka hanya menipu kita untuk mendapat pujian," sela Sembung Merah.
"Kau..!" Wulan Ayu hampir membentak Sembung Merah, tapi Anggala cepat meraih tangan si Bidadari Pencabut Nyawa.
"Apa maksudmu Sembung? Apa kau ingin membuktikan kalau mereka memang pendekar dari barat yang terkenal dari barat itu, silahkan?" tanya Baginda Raja Kalingga Jaya Karta.
"Tapi Ayahanda?" tanya Sembung Merah tampak terkejut.
__ADS_1
"Bukankah kau pendekar yang dikjaya Sembung, Anggala tentu mau menerima tantangannya," timpal kakek Deja Wantara penuh kemenangan.
"Baiklah..," dengus Sembung Merah tampak kesal.
"Silahkan..," lanjut Sembung Merah sambil berjalan ke tengah ruangan. Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu melangkah mundur beberapa langkah kebelakang. Pendekar Naga Sakti hanya mengangguk dan berjalan kedepan Sembung Merah.
"Jangan sungkan, anak muda," ucap Sembung Merah dengan senyum tipis, pemuda dua puluh lima tahunan itu langsung membuka kuda-kuda, dengan kedua tangan menghadap kedepan.
"Heaaa...!"
Sembung Merah langsung maju dengan serangan telapak tangan kearah dada Anggala, dengan begitu santai dan tenang Pendekar Naga Sakti menyambut serangan Sembung Merah itu.
Tap!
Tap!
Anggala langsung menangkap pergelangan tangan kanan Sembung Merah. Namun dengan cukup cepat Sembung Merah menyusulkan telapak tangannya kearah leher Pendekar Naga Sakti itu. Tapi dengan menggeser sedikit tubuhnya kesamping membuat telapak tangan Sembung Merah yang mencoba menusuk leher Pendekar Naga Sakti itu hanya mengenai angin kosong.
"Hup!"
Begitu cepat Anggala menyorongkan telapak tangan kanannya kearah dada Sembung Merah. Pemuda itu terkesiap tidak menyangka serangan Anggala begitu cepat. Sembung Merah mencoba menghindar dengan berusaha menggesar tubuhnya kesamping kiri, namun terlambat.
Tap!
"Ahh...!!"
.
.
Bersambung...
__ADS_1