
Hai Readers... Selamat membaca.
Jika suka tinggalkan jejak ya...
Semilir angin terasa sejuk di kulit, suara kicau burung mengiringi matahari yang mulai turun ke arah barat. Suasana warung di perempatan di tengah Desa yang tadinya sepi dan sunyi yang sangat tenang.
Kini terdengar riuh, bagaimana tidak kurang dari tiga puluh orang. Orang-orang berpakaian serba hitam dengan baju rompi dan gelang hitam berlingkaran merah itu terdengar sibuk memanggil empunya warung karena pesanan mereka lama di antar.
"Cepat, Ki... Kami lapar...!" hardik salah seorang dari orang-orang itu yang tampak sudah mulai kesal terlalu lama menunggu.
"Maaf, Aki hanya berdua yang kerja. Jadi mohon pengertiannya jika pesanan kisanak lama datangnya," ucap Ki Tolo sambil meletakkan piring berisi lauk dan nasi di atas meja.
"Hah... Dasar Aki peot... Kerja begitu saja lelet amat!" bentak orang itu sambil mengambil piring nasi.
"Maaf," ucap Ki Tolo tampak agak kerakutan, takut di sakiti orang-orang berpakaian hitam itu.
Anggala berjalan ke belakang setelah menghabiskan makanan pesanannya. Pendekar Naga Sakti mendekati Ki Tolo dan bertanya.
"Ki, siapa mereka? Apa mereka orang-orang Perguruan Gagak Hitam?" tanya Anggala berbisik.
"Iya nak, mereka adalah orang-orang Perguruan Gagak Hitam. Hati-hati, mereka sangat kejam dan tidak berperasaan," jawab Ki Tolo memperingatkan.
"Iya Ki, saya hanya bertanya," kata Anggala sambil mengambil beberapa cangkir bambu dan membawanya ke depan.
"Hhh...!" Wulan Ayu menarik napas dalam-dalam melihat tingkah orang-orang Perguruan Gagak Hitam yang begitu urakan dan berlaku seenaknya itu.
"Sabar dulu, Dinda. Jika mereka kelewat batas, baru kita beri mereka pelajaran!" bisik Anggala walau ia sendiri agak jengkel melihat ulah orang-orang tersebut.
Setelah selesai makan, minum teh hangat dan kopi. Para begundal itu seenaknya mulai ngeluyur pergi tanpa berniat membayar, Ki Tolo tampak bingung, di tagih buat masalah. Tidak di tagih ia jelas di rugikan.
Tiba-tiba..
__ADS_1
"Hidup Bagai lintah, datang menghisap darah setelah itu pergi tanpa permisi...!"
Orang-orang Perguruan Gagak Hitam itu terkejut mendengar suara yang jelas-jelas tertuju untuk mereka.
"Siapa itu... Keluar....!" bentak salah seorang anggota Perguruan Gagak Hitam yang memakai gelang berjumlah empat buah, seluruh orang-orang itu mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling warung. Pandangan mereka berhenti pada Anggala, Wulan Ayu dan Ki Sudrajat yang tampak duduk dengan tenang.
"Aku tidak melihat mereka berbicara, Kak," kata salah seorang yang memakai gelang tiga buah. Anggala tampak duduk tenang sambil menikmati kopi yang di antar Ki Tolo tadi.
"Heh... Kisanak... Apa kalian yang mau bermain-main dengan kami hah!" hardik salah seorang yang memakai gelang tiga buah itu.
"Yang di katakan suara itu benar'kan, kalian seperti lintah dasar manusia tidak punya perasaan. Apa kalian tidak punya hati?!" kata Wulan Ayu mulai dongkol.
"Yang punya warung saja tidak sibuk, malah kau yang sibuk hah!" protes laki-laki yang memakai gelang empat itu.
"Dasar orang tidak punya hati, kalian pesan begitu banyak makanan, setelah itu tidak bayar. Apa ini warung nenek moyang kalian?!" bentak Wulan Ayu sambil berdiri.
"Ha ha ha....! Kau sudah bosan hidup gadis cantik, berani membuat masalah dengan anggota Perguruan Gagak Hitam!" kata orang yang memakai gelang berjumlah empat buah itu sambil tertawa di ikuti tawa kawan-kawannya.
Ki Tolo tampak ketakutan sambil mendekati Wulan Ayu, "Sudah, Nak. Biarkan saja mereka... Mereka nanti malah menyakiti kalian," kata Ki Tolo.
Tanpa banyak bicara Wulan Ayu melesat ke depan warung menghadang orang-orang Perguruan Gagak Hitam tersebut.
"Kalian boleh meninggalkan tempat ini dengan syarat bayar dulu makanan yang telah kalian santap!" kata Wulan Ayu datar.
"Ha ha ha... Bayar....?! Bayar kepalamu gadis tengik! Heaaah....!!" salah seorang anggota Perguruan Gagak Hitam itu langsung melompat menyerang Wulan Ayu dengan sebuah tendangan, namun sang Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu tenang menahan tendangan laki-laki itu.
Tap!
"Hup!" anggota Perguruan Gagak Hitam itu cepat melentingkan diri ke belakang, begitu menjejak tanah ia kembali menegoskan tubuhnya memberikan serangan susulan pada Wulan Ayu.
"Hup! Hiyaaat..!" kali ini Wulan Ayu tidak hanya menangkis serangan musuhnya, dengan begitu cepat telapak tangannya bergerak menghantam dada si penyerang.
__ADS_1
Buk!
"Agkh!" lenguhan tertahan keluar dari mulut ke laki-laki dengan gelang dua buah itu sebelum tubhnya terpental ke arah belakang dan jatuh di dekat kawan-kawannya.
"Bangsat! Kau boleh juga!" geram dua orang temannya tanpa perintah sekitar lima orang langsung merangsek maju mengepung setelah menghunus golok dari pinggang mereka.
"Hup!" Tiba-tiba Pendekar Naga Sakti melesat dan bersalto kemudian mendarat di samping Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu ringan.
"Sekarang aku bertanya pada kalian. Apa kalian yang merampas harta orang-orang Desa ini?" tanya Anggala dengan nada suara datar namun cukup sengit.
"Ha ha ha...! Ya, memang bukan kami yang secara langsung. Tapi itu di lakukan oleh kakak-kakak seperguruan kami, kau mau apa?" jawab laki-laki yang memakai gelang empat buah itu.
"Berarti kalian harus meninggalkan seluruh uang yang ada di kantong kalian, barulah kalian boleh pergi!" kata Anggala dengan nada ancaman.
"Ha ha ha....! Kau mengancam kami hah. Apa kau tidak tau dengan siapa kau berhadapan!" ujar laki-laki memakai gelang empat buah itu.
"Aku tidak mengancam kalian, tapi aku hanya memberi peringatan! Jika kalia ingin keluar dari sini dengan aman!" jawab Anggala dengan begitu tenang.
"Kalahkan kami dulu, kisanak. Baru kau bisa mengumbar bacot di depan kami!" balas orang yang memakai gelang berjumlah empat buah itu.
"Habisi mereka!" perintahnya nyaring, mendengar perintah sekitar dua puluh orang langsung bergerak mengepung Anggala dan Wulan Ayu.
"Hmm... Rupanya kalian memang harus di beri pelajaran!" dengus Wulan Ayu sambil bersiap-siap, gimana pun lawan yang mengepung mereka berdua sangat banyak, lebih dari dua puluh orang dengan golok terhunus lagi.
"Rongga, Samat, Ludra, kau juga keroyok mereka!" perintah laki-laki yang dari tadi hanya diam itu, di lihat dari jumlah gelangnya ia adalah kakak tertua dalam kelompok itu.
"Baik, Kak Jatandra," jawab Rongga sambil bergerak maju di ikuti Samat dan Ludra. Orang-orang yang memakai gelang dua buah dan satu gelang tampak memberi peluang bagi ketiga orang itu untuk maju ke arah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...........