Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Kedatangan Iblis Kelelawar


__ADS_3

"Selamat datang, cucu-cucu. Masuklah, tidak usah sungkan. Aku tidak akan mencoba ilmu kalian lagi... Ha ha ha....!" suara tawa menggema saat Kamandaka bersama kedua adik seperguruannya tampak berdiri di depan pintu pagar menuju kediaman Elang Hitam itu.


Kamandaka dan kedua adik seperguruannya memang sempat di usili oleh Datuk Balung saat pertama kali datang ke lembah Elang. Jadi sangat wajar Kamandaka, Raja Adiwangsa dan Aryaguna agak ragu mau memasuki pekarangan rumah Datuk Balung tersebut.


Mendengar suara penguasa Lembah Elang tersebut barulah Kamandaka dan kedua adik seperguruannya berani memasuki pintu pagar yang terbuat dari kayu itu.


"Ha ha ha....! Masuk, masuk....! Tidak usah sungkan, kalian bertiga sudah diterima disini!" panggil Datuk Balung sambil bangkit dari semedinya dan melesat begitu cepat menyambut ketiga murid Pertapa Tongkat Naga Emas tersebut.


"Salam hormat kami, Kakek Guru!" ucap Kamandaka berbarengan dengan Raka Adiwangsa dan Aryaguna.


"Salam kembali, Cucu-Cucuku. Bangunlah, tidak usah begitu sungkan," kata Datuk Balung sambil tertawa menepuk pelan pundak Kamandaka.


"Terima kasih banyak, Kakek Guru!"


"Ha ha ha....! Ayo, kita masuk. Tiga Elang sedang mandi, maklum mereka tidak tahu kalian bakal datang hari ini," ajak Datuk Balung.


Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas hanya mengangguk dan menjura memberi hormat sebelum ikut masuk ke dalam rumah kediaman Elang Hitam tersebut.


.


Berita tentang kematian para murid dan pendekar dari perguruan Gagak Hitam sangat cepat tersiar, membuat orang-orang Partai Teratai Hitam heboh dan sibuk membicarakan hal tersebut.


Semua itu membuat Gagak Hitam naik pitam dan berniat mencari sendiri keberadaan Pendekar Naga Sakti dan berniat membalas sakit hati dan dendam para muridnya.


Semua keinginan Gagak Hitam itu, cepat di ketahui Fhatik dan Setan Merah Pencabut Nyawa. Fhatik cepat mencegah kepergian Gagak Hitam.


"Paman, untuk saat ini aku harap kau bersabarlah dulu, menjelang pertemuan para pendekar di Gunung Kerinci hampir tiga purnama mendatang," kata Fhatik berusaha mencagah tokoh hitam yang bernama asli Pranata Gempar tersebut.


"Tapi, Fhatik. Anak muda itu telah menghabisi lebih dari separuh murid-murid andalanku!" jawab Gagak Hitam merasa keberatan.

__ADS_1


"Paman Pranata, bukan kami tidak membolehkan mu membalas dendam para muridmu. Tapi kami tidak ingin paman juga menyusul mereka," tambah Pendekar Naga Hitam lagi.


"Apa sangat sakti bocah itu?" Pranata Gempar tampak menekan amarahnya.


"Dia Pendekar Naga Sakti, Paman. Selain pemuda itu sangat dikjaya, dia juga memiliki pusaka pedang naga sakti. Aku khawatir paman juga akan jadi korban ketidak sabaran seperti murid-murid paman itu," jawab Fhatik lagi.


"Lagian aku juga sudah mengirim beberapa kelompok perampok dan penyamun untuk mengecoh orang-orang dunia persilatan golongan putih agar tidak sempat mencari keberadaan markas kita ini," tambah Setan Merah Pencabut Nyawa.


"Baiklah, aku juga belum mau mati sebelum melihat Partai Teratai Hitam menjadi partai besar dan menjadi partai nomor satu yang di takuti di seluruh Pulau Andalas ini," jawab Pranata Genpar.


Mendengar pedang naga sakti di sebut, jauh di dalam hati Gagak Hitam ada keraguan. Bagaimana pun nama besar Pendekar Naga Sakti bukan hanya sekali ini menghebohkan dunia persilatan, bahkan tiga puluh tahun yang lalu pun nama besar Pendekar Naga Sakti merupakan momok yang begitu di segani di dunia persilatan.


"Apa kalian sendiri yakin mampu mengalahkan pendekar yang bernama Anggala itu?" Pranata Gempar tampak agak ragu.


"Dengan tangan kosong mungkin saja paman, tapi dengan pedang langit dan pedang bumi. Kami yakin bisa mengalahkan murid Pertapa Naga itu," jawab Saga Lintar.


"Jelas saja pendekar golongan putih yang lain juga akan ikut campur masalah ini," kata Pranata Gempar lagi.


Memang sampai saat ini para pendekar dan perguruan golongan hitam sudah begitu banyak yang bergabung dengan partai yang di pimpin oleh Pendekar Naga Hitam dan Setan Merah Pencabut Nyawa itu.


Belum lagi para penyamun dan perampok kelas satu yang mereka rekrut, walau banyak para perampok yang sudah tewas dan terpaksa melarikan diri setelah kalah dari para pendekar golongan putih.


Markas Partai Teratai Hitam di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah puluhan tahun tidak turun gunung, para anggota Partai Teratai Hitam pun tidak banyak yang mengetahui siapa gerangan tamu mereka itu.


"Siapa kau, apa maumu datang kesini? Hah!" bentak salah seorang penjaga gerbang pada laki-laki tua dengan pakaian serba hitam yang rambut dan jenggotnya tampak sudah memutih.


"He he he...! Anak Muda, katakan pada Saga Lintar, gurunya datang," jawab kakek tua itu.


"Kau guru ketua kami, Kakek Tua?" tanya pengawal itu tampak cukup kaget dan terkejut.

__ADS_1


"Cepat, katakan saja padanya," jawab Kelelawar Iblis sambil tertawa menyengir memperlihatkan deretan giginya yang menghitam membuat senyumannya terlihat angker.


"Kau, jangan berbohong Kakek Tua!" hardik pengawal itu lagi.


"Aku tidak berbohong, Anak Muda," jawab Kelelawar Iblis dengan tenang.


"Sebaiknya laporkan pada ketua Saga Lintar, jangan sempat ini malah jadi masalah," kata salah seorang pengawal yang lain.


"Ya, jika benar kita bisa dihukum karena menghalangi guru ketua," timpal temannya yang lain. Pengawal yang tadi hanya mengangguk dan langsung berlari memasuki gerbang.


"Kakek, Sudilah kiranya kakek menunggu di sini, temanku sedang melapor pada ketua kami," ucap pengawal itu.


"He he...! Baiklah, Anak Muda. Itu lebih baik, jika tidak karena muridku Saga Lintar yang jadi ketua kalian. Aku tentu sudah masuk secara paksa, he he he...!" tawa Kelelawar Iblis terkekeh.


"Maafkan hamba Ketua, ada orang tua di pintu gerbang depan yang mengaku sebagai guru Ketua," ucap pengawal itu sambil berlutut di depan Saga Lintar yang lagi duduk bersama Fhatik dan beberapa petinggi Partai Teratai Hitam termasuk Gagak Iblis.


"Kakek guru, apa yang terjadi sehingga kakek guru menyambangiku?" gumam Setan Merah Pencabut seakan berbicara pada dirinya sendiri.


"Mungkin saja ada keperluan oenting, Saga. Cepat temui dia," kata Fhatik mendengar gumaman Saga Lintar tersebut.


"Baiklah, Kau benar. Cepat kembali ke gerbang, bukakan pintu untuknya," perintah Saga Lintar.


"Baik, Ketua!" jawab pengawal itu sambil bangkit dan segera berlari dengan cepat kembali menuju gerbang depan.


Saga Lintar pun melesat bagai kilat begitu bangkit dari tempat duduknya. Kecepatan gerakan Setan Merah Pencabut Nyawa begitu cepat sehingga ia sampai lebih dulu ke depan gerbang di banding penjaga gerbang itu.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2