
Sabetan dan tebasan klewang gembrug di tangan orang bertopeng hitam itu itu mencerca begitu cepat kearah tubuh kakek Deja. Namun orang tua yang di sebut sebagai Pendekar Gila itu dapat menghindarinya sambil tertawa terkekeh. Tiba-tiba dalam serangan klewangnya orang bertopeng hitam itu melempar sesuatu kearah kakek Deja dengan begitu cepat.
Kakek Deja yang tidak menduga akan ada kecurangan tampak tidak sempat menghindar. Namun di saat yang begitu genting sebuah bayangan putih biru tiba-tiba melesat kearah depan kakek Deja begitu cepat bagaikan kilat.
Tap!
Rupanya Pendekar Naga Sakti yang baru mau mengejar orang bertopeng hitam berikat pinggang berwarna merah itu, melihat orang yang bertarung dengan kakek Deja itu melakukan kecurangan. Setelah menangkap senjata rahasia dari sebuah kayu berwarna hitam dan di ujungnya ada warna merah darah itu, Pendekar Naga Sakti secepat kilat melemparkan kembali senjata rahasia itu kearah pemiliknya.
Set!
"Aaaa...!"
Jerit kesakitan menyayat hati, di sertai tubuh orang bertopeng hitam itu terpental ketanah dengan bagian dadanya tertembus senjata rahasianya sendiri. Orang bertopeng hitam itu tewas seketika dengan mata terbelalak dan darah segar mengalir dari luka dan mulutnya.
"He he he.... Terima kasih anak muda, kau sudah membuat orang tua ini berhutang nyawa padamu," ucap kakek Deja sambil memegang kepalanya, "Dasar.. Orang culas... Rasakan kau dimakan cacing tanah," kata kakek Deja, penampilan dan gaya bicaranya bagai orang gila. Pendekar Naga Sakti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Hmm... Pantas kalau orang bertopeng tadi memanggilnya Pendekar Gila, tingkah kakek ini terkadang memang mirip orang gila," guman Pendekar Naga Sakti sambil menoleh kearah Bidadari Pencabut Nyawa yang baru saja menjatuhkan dua orang bertopeng itu. Tanpa basa-basi lagi kedua orang bertopeng itu lari tunggang langgang kearah dalam hutan yang begitu lebat dan rimbun itu.
Kita Kembali beberapa saat sebelum Anggala membunuh orang yang berhadapan dengan kakek Deja. Wulan Ayu yang sudah berhasil menyarangkan pukulan telapak tangannya di dada dua orang bertopeng hitam yang menjadi musuh bertarungnya itu.
Kedua orang bertopeng itu merasa sudah di pecundangi dalam satu jurus. Keduanya langsung menghunus klewang gembrug yang tersalip di balik punggung mereka itu.
"Heaaah..! Mati kau...!"
kedua orang itu menyerang dengan serentak, klewang ditangan mereka menderu-deru memecah udara mencerca setiap bagian tubuh gadis cantik yang bernama asli Wulan Ayu tersebut. Sabetan dan tebasan klewang di tangan mereka cukup teratur dan saling susul menyusul. Bidadari Pencabut Nyawa terpaksa berjumpalitan menghindari setiap cercaan dua senjata musuhnya itu.
Kesal di serang habis-habisan Wulan Ayu melompat mundur sekitar tiga tombak dari kedua musuhnya itu. Bidadari Pencabut Nyawa segera merapal ilmu 'Baju Besi Emas tingkat'. lima belas. Setelah merapal ilmu yang ia pelajari dari kekasihnya itu. Wulan Ayu langsung melompat menyongsong kembali serangan dua orang bertopeng hitam itu.
__ADS_1
"Heaaah...! Shaaa...!
Set! Set!
Wut! Wut..!
Suara dua klewang itu memecah keheningan, Tebasan dan tikaman klewang kedua orang bertopeng itu memecah udara, suara klewang keduanya berdesingan memecah udara. Kali ini Bidadari Pencabut Nyawa tidak menghindari tebasan dan sabetan klewang kedua orang bertopeng itu. Wulan Ayu membiarkan kedua senjata musuhnya mencerca titik mematikan di tubuhnya.
Trang! Trang...!
Betapa kaget dan terkejutnya kedua orang bertopeng itu, klewang yang selama ini jadi senjata andalannya. Kini bagaikan sebuah pedang tumpul yang mengenai sebuah bongkahan besi, jangankan melukai tubuh Wulan Ayu. Menggores kulit bidadari Pencabut Nyawa itu saja klewang mereka berdua tidak mampu. Kedua klewang mereka membal dan membuat telapak tangan mereka berdua terasa kesemutan.
"Heh..!"
Belum hilang keterkejutan kedua orang bertopeng hitam itu, Wulan Ayu telah bergerak begitu cepat bagaikan kilat. Kedua orang bertopeng hitam itu hanya sempat termangu ketika Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu bergerak menghajar dengan telapak tangannya.
Dess! Desss..!"
"Ha ha ha...! Dasar manusia berprilaku seperti anjing, melihat pimpinannya kabur. Anak buahnya kehilangan mental keberanian mereka," kata Wulan Ayu sambil tertawa. Anggala hanya tersenyum melihat kekasihnya mentertawakan orang-orang Partai Teratai Api itu.
"He he he..! Tampaknya kakek tidak salah meminta bantuan kalian, orang-orang bertopeng hitam itu lari ketakutan, he he he..," tawa kakek Deja terkekeh.
"Sekarang kita apakan mayat orang bertopeng itu Kek?" tanya Anggala.
"Coba buka topengnya," jawab kakek Deja.
"Baiklah, saya akan membuka topeng orang itu," kata Anggala seraya berjalan kearah mayat orang bertopeng hitam yang tewas itu. Begitu Pendekar Naga Sakti membuka topeng orang tersebut. Kakek Deja tampak terkejut.
__ADS_1
"Sumbang!" kata kakek Deja dalam keterkejutannya.
"Kakek kenal orang ini?" tanya Anggala lagi.
"Dia adalah salah seorang prajurit khusus Kerajaan Pasemah Agung yang menghilang di istana kematian dua tahun yang lalu," jelas kakek Deja, "Apa kemungkinan dia di tawarkan kedudukan tinggi oleh orang-orang Partai Teratai Api itu, atau di dalam kerajaan Pasemah Agung ada para penghianatan?" guman Pendekar Gila seperti berbicara pada diri sendiri.
"Apa kita kubur mayat ini Kek?" tanya Anggala lagi.
"Biarkan saja Anggala, teman-teman mereka akan mengambil mayat itu," jawab kakek Deja, "Sekarang ikuti aku," tambah kakek Deja, tanpa banyak bicara lagi orang tua itu mengambil kuda yang di pinjamkan Wulan Ayu dan segera meninggalkan tempat itu. Anggala dan Wulan Ayu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakek Deja yang tampak terburu-buru.
"Huh.. Dasar orang tua, selalu tidak sabaran," rutuk Wulan Ayu.
"Kakak yakin ketergesaan kakek Deja, ada kaitannya dengan prajurit yang tewas itu Dinda," kata Anggala sambil mengebah kudanya mengikuti kakek Deja dari belakang.
"Sepertinya iya Kak, tapi kenapa kakek Deja tidak menceritakan secara detil kepada kita, dinda agak bingung dengan semua ini?" jawab Wulan Ayu.
"Sudahlah.. Begitu orang-orang rimba persilatan, perangai dan sipat mereka susah kita mengerti," kata Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.
"Terserahlah..," decak Wulan Ayu.
"Dinda menyesal membantu kakek Deja?" tanya Anggala mendengar decakan Wulan Ayu tersebut.
"Menyesal sih nggak, tapi dinda kesal di bikin seperti kita yang butuh dia, bukan dia yang butuh bantuan kita," gerutu Wulan Ayu.
"Sepertinya ada yang di cemaskan oleh kakek Deja, Dinda," terka Anggala, "Kita ikuti saja dia, nanti baru kita tanyakan kenapa kakek Deja tampak begitu tergesa-gesa," tambahnya lagi. Tanpa terasa mereka telah sampai kedepan sebuah tembok yang cukup tinggi memiliki dua buah pintu gerbang yang cukup besar di tengah hutan itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung....