Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Kecemasan Tuan Tanah


__ADS_3

Sementara itu di arah puncak gunung kerinci tampak puluhan bahkan ratusan orang yang berjalan berbondong-bondong dengan beberapa bendera berwarna putih dengan gambar bunga teratai berwarna hitam.


Mereka tidak lain adalah anggota Partai Teratai Hitam yang dalam perjalanan menuju puncak gunung kerinci.


Sedangkan Fhatik dan Saga Lintar tentu tidak ada di dalam rombongan itu, kedua pimpinan besar Partai Teratai Hitam tersebut telah lebih dahulu mencapai puncak gunung kerinci.


Beberapa perguruan golongan hitam pun tampak telah ikut bergerak menuju puncak gunung kerinci, tidak ketinggalan pula para pendekar golongan hitam yang telah menjadi antek-antek Partai Teratai Hitam.


Beberapa orang pendekar golongan putih dan perguruan golongan putih yang akan ikut dalam pertemuan juga telah banyak yang mencapai daerah kaki gunung kerinci.


Tidak ketinggalan pula tiga Pendekar Tongkat Naga dan Tiga Elang yang sudah lebih dahulu menginap di sebuah desa di dekat Danau Kerinci.


Beberapa warung makan di beberapa Desa daerah kaki gunung kerinci tampak ramai oleh pengunjung, mereka semua adalah para pendekar dari berbagai perguruan yang ada di Pulau Andalas.


Beberapa pendekar yang ikut menyusul masih dalam perjalanan. Memang pertemuan di puncak gunung kerinci tinggal empat hari di muka.

__ADS_1


"Ramai sekali para pendekar yang menuju puncak gunung kerinci, Kayo..," celetuk salah seorang penduduk yang lagi istirahat di sebuah pondok di tengah kebun sayuran.


(Kayo adalah kata sapaan atau panggilan untuk orang yang lebih tua di daerah kerinci. Kayo bisa di artikan dengan Abang atau kakak) panggilan untuk orang yang sedikit lebih tua).


"Ya, purnama dua belas, 'kan tinggal tiga hari lagi. Pertemuan pendekar golongan putih dan golongan hitam yang akan melakukan pertandingan atau pertaruhan golongan mana yang akan memegang dunia persilatan akan datang, aku berharap para pendekar golongan putih bisa menang. Jika tidak orang-orang jahat itu tentu akan berbuat seenaknya para orang-orang lemah seperti kita," sahut laki-laki yang di panggil Kayo tersebut.


"Jangan keras-keras bicaranya, Ngah. nanti mereka dengar, bisa berabe urusannya," timpal seorang wanita setengah baya sambil meletakkan air teh hangat dan sepiring ubi jalar rebus.


"Mereka jauh di jalan sana, lagian,'kan kita tidak bicara keras," sahut laki-laki itu.


"Bagaimana, Keadaan paman Wangsala, Tabib?" tanya Surya Karta begitu sang tabib kekuar dari kamar tempat Wangsala.


"Datuk Wangsala terluka dalam yang cukup parah, ia harus melakukan semedi untuk mengobati luka dalamnya. Luka luarnya sudah saya obati, Tuan," sahut sang tabib sambil menunduk memberi hormat.


"Jadi, sekarang bagaimana, Paman Wangsaka?" tanya tuan tanah Surya Karta pada Datuk Wangsaka yang tampak duduk di sebuah kursi.

__ADS_1


"Kau tidak usah takut Surya Karta, aku akan menemui Fhatik dan Saga Lintar. Kita akan bekerja sama dengan Partai Teratai Hitam. Lagian kami juga mengenal guru Saga Lintar si Kelelawar Iblis," sahut Datuk Wangsaka meyakinkan tuan tanah Surya Karta.


"Apakah para pendekar dan Nini Sumirah tidak akan menyerang kesini, Datuk?"


"Nini Sumirah terluka dan terkena racun Harimau Hitam, mereka tentu akan sibuk mengobati Nini Sumirah. Aku rasa mereka akan berpikir dua untuk datang menyerang kesini," sahut Datuk Wangsaka sambil mengangkat cangkir arak dan meneguknya sampai habis.


"Aku harap ide paman itu bagus, Jika sampai para pendekar itu datang menyerang, habislah kita!" keluh tuan tanah Surya Karta.


"Kau tidak usah takut Surya Karta, aku sudah mengirim undangan pada para pendekar muda itu, kami menunggu mereka di puncak gunung kerinci tiga hari di muka," Datuk Wangsaka meyakinkan.


Surya Karta hanya mengangguk pelan, walau hatinya masih merasa cemas, apalagi melihat Datuk Wangsala terluka parah setelah bertarung dengan Pendekar Naga Sakti.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2