Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Pukulan Perak Neraka


__ADS_3

Bidadari Pencabut Nyawa tampak menggerutu melihat Kelabang Ungu berhasil kabur, "Hmm..Rupanya serangan pukulan tenaga dalamnya hanya pengalihan. Licik juga Kau Kelabang Ungu,"


"Hehehe...! Tampaknya datang delapan pulang tiga itu pun dalam keadaan babak belur," kata kakek Wiratama sambil bangkit dari duduknya. Kakek Wiratama dari tadi duduk di depan rumahnya.


"Hei! Wiratama... Tampaknya Kau baru bisa membawa bantuan yang tepat," teriak Pendekar Tapak Dewa dari kejauhan.


"Hehehe... Sura Jaya, bertahun sudah ku tidak melihay sepak terjang Pendekar Tapak Dewa, kenapa hari ini Kau ikut campur?" jawab kakek Wiratama sambil berteriak, namun tawanya masih terdengar.


"Kita sudah tua, jadi Kau tentu mengerti, tubuh dan jiwa kita sudah berubah. Namun melihat Pendekar Naga Sakti semangatku rasanya juga kembali muda," ucap Ki Sura Jaya, ia telah berdiri di depan kakek Wiratama sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe...! Aku rasa, aku beruntung kali ini, hehehe...!" tawa kakek Wiratama terkekeh diiringi tawa Pendekar Tapak Dewa.


Sementara itu Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa tampak mendekati Nyi Tantri dan Nyi Pelangi bersama Melati.


Wulan Ayu mengedarkan pandangannya. Namun tidak melihat tiga Pendekar Kembar, "Dimana tiga Pendekar Kembar?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa. Semua orang batu menyadari kemana Tiga Pendekar Kembar menghilangnya?


Nun jauh di belakang desa. Tampak Tiga Pendekar Kembar sedang bertarung dengan dua orang Iblis Perak. Ketiga Pendekar Kembar berhasil mendesak dua orang Iblis Perak yang mereka hadapi. Dua Iblis Perak itu mencoba melarikan diri, namun ketiga gadis cantik bersenjata payung tiga warna itu berhasil mengejarnya.


"Hehe...! Iblis Perak. Kalian tidak bisa melarikan diri dari kami, sudah cukup kalian meneror kampung kami!" bentak salah seorang Tiga Pendekar Kembar.


"Hmm..! Apa boleh buat Ranca, kita harus mengadu nyawa dengan ketiga gadis ini," guman salah seorang Iblis Perak sambil memegangi lengannya yang terluka terkena ujung payung salah seorang Tiga Pendekar Kembar.


"Hati-hati Suta, tampaknya senjata diujung payung ketiga gadis itu bisa menembus kekebalan ilmu kita," kata Ranca memperingatkan temannya Suta.


Wuss..!


Sebuah pedang berwarna hitam muncul ditangan keduanya. Ranca mengalirkan tenaga dalam dan hawa murni kearah lukanya. Tidak seberapa lama tampak luka di lengan Ranca itu menutup tidak mengalirkan darah lagi.


"Ayo gadis-gadis cantik! Jika kalian ingin merasakan racun pedang hitam kami ini," ujar Ranca sambil menatap tajam Tiga Pendekar Kembar.


"Huh.. Masih saja besar mulut! Hiyaaa...!" dua orang gadis kembar itu melompat berbarengan dari dua arah. Ujung payung mereka menusuk cepat kearah Ranca dan Suta.


Trang!


Ranca cepat mengibaskan pedang berwarna hitam di tangannya menangkis serangan salah satu gadis kembar itu.


Wut! Rrrr.....!


Payung ditangan Dipayani tiba-tiba berkembang ujung daun itu pun terdapat mata pisau kecil sepanjang satu jengkal yang bisa keluar masuk di besi skor daun payung itu.

__ADS_1


Ranca cepat menarik tubuhnya kebelakang, jika terlambat maka tubuhnya akan jadi sasaran pisau di payung Dipayani itu.


Sedangkan Suta tampak hampir kalang kabut menangkis serangan payung Dilayani. Sedangkan Suryani tampak duduk diakar sebatang pohon sambil memperhatikan pertarungan kedua saudara kembarnya.


Trang! Trang!


Bunga api memercik di pertemuan dua senjata itu. Suta memcoba mengoyak kain payung Dilayani. Namun tidak berhasil, kain itu bagai besi tipis yang tidak bisa ditembus.


Buak!


"Aakh...!" Suta terkejut dan meringis kesakitan. Ketika tendangan kaki Dilayani berhasil menghantam perutnya. Suta terhuyung kebelakang sambil memegangi perutnya. Namun rupanya Dilayani tidak memberi kesempatan. Gadis cantik itu melompat dengan begitu cepat sambil menusukkan ujung panggungnya kearah leher Suta.


Creb!


"Aaarrrk......!!" terdengar menggorok suara tertahan Suta. Matanya terbelalak menatap kearah Dilayani. Darah mengalir deras dari lukanya. Kedua tangan Suta memegangi lehernya. Tidak lama kemudian Suta jatuh tertelungkup dengan darah mengalir dari lehernya.


"Suta....!" teriak Ranca sambil melompat mundur, menghindari putaran payung Dipayani. Wajah Ranca tampak memerah menahan marah.


Crab!


Ranca menghujamkan pedang hitamnya ketanah didepanya. Ranca meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat tertinggi. Cahaya merah menyelubungi kedua kepalan tinjunya.


Ranca Merapal Tinju Perak Neraka, Pukulan yang bisa merenggut nyawa musuh dan nyawanya sendiri jika kekurangan tenaga dalam.


Begitu dua cahaya merah itu hampir menghantam payung kedua gadis itu. Dua bayangan melesat cepat dan menepis dua bola api Pukulan Tinju Perak Neraka milik Ranca itu.


Dess..!


Wuss...!"


Satu bola api itu berbalik arah dengan begitu cepat melebihi kecepatan sebelumnya. Ranca tampak terkejut namun terlambat begity ia berniat menghindar. Pukulannya sendiri telah menghantam telak di dadanya.


"Aaaa.....!" jeritan Ranca membahana di sertai tubuhnya terlempar jauh sekitar delapan tombak kebelakang. Tubuh Ranca kemudian berhenti disebatang pohon sebesar pohon kelapa, sehingga pohon itu patah menjadi dua.


Braaakk!


Bruuumm....!!


Pohon itu tumbang bersama dengan tubuh Ranca jatuh ketanah dan tidak berkutik lagi. Ranca tewas di pukulan tenaga dalamnya sendiri.

__ADS_1


Kita Kembali beberapa detik sebelum pukulan Tinju Perak Neraka Ranca menghantam balik kearahnya. Salah satu cahaya merah yang mengarah ke arah Dilayani hampir mengenai payung gadis itu.


Dess..!


Cahaya merah itu membual kearah sebatang pohon besar, sehingga pohon itu hancur berkeping-keping.


Blaaarrr..!


Bruuumm...!


Pohon itupun tumbang ketanah dengan sebagian batangnya hancur.


"Pendekar Naga Sakti!" Dipayani tampak terkejut. Gadis itu menutup payungnya, dan berjalan kearah Pendekar Naga Sakti.


"Terima kasih banyak Pendekar Naga Sakti, Kau menyelamatkanku," ucap Dilayani.


"Kau tidak apa-apa? Gadis kembar?" tanya Anggala sambil tersenyum.


"Namaku Dipayani," kata Dipayani memperkenalkan diri.


Anggala hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku bingung mengenal kalian, wajah kalian begitu mirip dan identik. Hanya pakaian dan payung kalian yang berbeda," kata Anggala lagi. Tidak lama kemudian Wulan Ayu pun sampai disana bersama Melati.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa itu, karena melihat tempat itu porak-poranda bekas pertarungan.


"Pendekar Naga Sakti menyelamatkanku," jawab Dipayani. Suryani pun telah bangkit dari duduknya dan menghampiri saudara kembarnya tersebut.


"Syukurlah para pendekar lain datang, jika tidak, entah apa yang terjadi dengan kedua saudaraku," ucap Suryani sambil tersenyum lega.


"Hehehe..! Apa Kau tidak apa Dilayani?" tanya Pendekar Tapak Dewa sambil menggaruk kepalanya.


Dilayani perlahan membuka matanya, "Ki Sura, Kau?" Dilayani tampak terkejut melihat yang menyelamatkannya adalah Ki Sura Jaya.


"Hehehe...! Maaf Dila, selama ini aki tidak memperlihatkan siapa aki, hehehe..!" tawa Ki Sura Jaya terkekeh. Dilayani memandang kearah dua saudara kembarnya yang lagi bersama Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa penuh tanda tanya.


"Kau tidak apa-apa Dila?" tanya Melati sambil tersenyum.


"Ya, aku tidak apa-apa, ayahmu menyelamatkanku," jawab Dilayani, "Kau juga seorang pendekar?" Dilayani tampak agak bingung.


"Hehe...Iya Dila, maaf selama ini kami menyembunyikan jati diri kami," jawab Melati sambil tersenyum manis. Dilayani hanya menatap bingung, gadis itu agak bingung dengan orang-orang yang ada disekitarnya, ternyata banyak pendekar yang hebat-hebat.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2