
"Bagaimana kisanak? Kita lanjutkan?
"Apa....??!"
Mata Arga Kirana melotot seakan tidak percaya melihat pemandangan di depannya. Wulan Ayu berdiri tegak sekitar satu tombak di depannya, tanpa mengalami suatu apa pun.
"Sebegitu hebatkah gadis ini? Dia tidak terluka sedikit pun menghadapi ilmuku," keluh Arga Kirana dalam hati, ia mulai cemas jika Bidadari Pencabut Nyawa menyerangnya saat ini. Namun Wulan Ayu tidak melakukan hal itu, gadis berpakaian biru itu tegak menatap ke arah Arga Kirana yang berusaha mengobati lukanya.
"Baiklah, gadis cantik, aku tidak tau apa hubunganmu dengan Pendekar Tapak Dewa. Tapi aku akan mengadu jiwa denganmu!" kata Arga Kirana sambil menyeka darah dari sela-sela bibirnya.
"Kau rupanya memang tidak bisa di ajak damai, kisanak!" jawab Wulan Ayu dingin dengan nada suara datar.
Perlahan Arga berdiri, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Cahaya merah mulai menyelimuti kedua tangannya yang bersilang, cahaya merah itu kemudian membentuk sebuah telapak tangan yang kemudian berubah menggenggam tinju.
"Pukulan Tinju Api Membakar Bumi!"
Teriakan Arga Kirana menggema sambil mengangkat kedua tangannya yang bersilang ke atas kepala.
"Baiklah, kisanak jika itu mau mu, jangan salahkan aku," kata Wulan Ayu datar, setelah itu Bidadari Pencabut Nyawa melompat mundur sekitar dua tombak ke belakang. Setelah menjejak tanah Wulan Ayu lalu dengan perlahan menyatukan kedua tangannya di depan dada, sinar putih kembali menyelubungi kedua telapak tangannya. Cahaya putih itu kemudian membesar dan membentuk sebuah bayangan orang yang lagi duduk bersila, namun kali ini kedua tangannya di satu di depan dada dan satu menghadap ke depan.
Arga Kirana mengumpulkan semua kekuatan tenaga dalamnya ke tingkat tertinggi yang ia miliki. Kali ini Arga Kirana memang mempertaruhkan nyawanya untuk pertarungannya kali ini, tampaknya ia sudah tidak memikirkan uang yang selama ini ia kejar, yang ada hanya amarah dan dendam di hatinya.
"Heaaa...!!"
Bentakan Arga Kirana mengawali kedua tangannya menyentak dan mendorong ke depan, dua buah bola api besar menderu ke arah Wulan Ayu. Sedangkan Wulan Ayu masih merapatkan telapak tangannya di depan dada, begitu dua bola api dari pukulan Arga Kirana mendekat barulah Bidadari Pencabut Nyawa itu menyentak tangannya ke depan.
Wuss! Wuss!
Swoss..! Swoss..!
Duaaarrr........!
Ledakan besar kembali mengguncang tempat itu, tanah dan pepohonan bagai terhantam gempa, gumpalan api dan asap mengepul di sertai debu dan tanah ke udara.
"Aaaa......!!"
Arga Kirana terpental jauh lintang pukang, dan jatuh bergulingan setelah menabrak beberapa pohon hingga patah, tubuh Arga Kirana berubah menjadi hitam legam dengan pakaian berubah menjadi compang camping dan mengeluarkan asap.
"Hmm...! Maaf kisanak, aku sudah memperingatkanmu," gumam Wulan Ayu setengah berbisik, "Aku tidak membencimu sebagai sesama manusia, tapi aku tidak menyukai kelakuanmu yang merajalela,"
__ADS_1
Setelah bergumam Wulan Ayu menutup mata Arga Kirana yang masih melotot, sedangkan mulutnya masih mengalir darah kehitaman.
Sementara itu Anggala yang telah selesai membantu Ambara Wati dan Nila Sari tampak memperhatikan jalan pertarungan Kenanga yang melawan anggota Empat Iblis Sekawan itu.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Wulan Ayu pada ketiga saudara seperguruan itu, ketiga gadis itu tampak duduk setengah semedi sambil memperhatikan pertarungan Kenanga.
"Eh, Wulan Ayu, kami sudah cukup baikan, obat yang kau berikan tadi cukup membantu kami mengobati luka-luka kami," jawab Seruni sambil tersenyum.
"Syukurlah, kalau kalian sudah baikan, kalian harus mempersiapkan tenaga, musuh-musuh yang menunggu kita tampaknya semakin tangguh,"
"Ya, kau benar, Wulan. jika tidak ada kalian berdua, kami tentu sudah tewas dan jadi mangsa para pembunuh bayaran itu," kata Ambara Wati.
"Jadi, mereka ini adalah pembunuh bayaran, bukan saudara seperguruan Ujang Seta?" tanya Wulan Ayu sambil mengerenyitkan keningnya.
"Bukan, setau kami Ujang Seta cuma bertiga itu saja yang satu perguruan," jawab Nila Sari sambil menatap ke depan tanpa memalingkan pandangannya.
"Heaaa...!"
Rajenta, adalah kakak tertua di kelompok Empat Iblis Sekawan itu, ia cukup terkejut melihat para kawanan musuhnya telah duduk memperhatikan, semula Rajenta berniat bermain-main dengan Kenanga. Namun ia agak ragu-ragu melihat tidak ada satu pun masuk ketiga kawananya yang tewas, berarti sebaliknya.
"Kurang ajar, aku tidak bisa meneruskan pertarungan ini, mereka bertiga tampaknya sudah tewas. Aku tidak akan mampu menghadapi ilmu mereka, jika mereka mengeroyokku," gumam Rajenta setengah berbisik pada dirinya sendiri.
"Heaaa...!"
Wuss! Wuss!
Rajenta cepat melempar dua benda putih ke arah Kenanga, namun dengan cepat Dewi Selendang Kuning melompat menghindar. Tapi begitu dua benda putih itu mengenai tanah, dua ledakan kecil berturut-turut. Asap putih dengan bau menyengat dan menutupi pandangan.
"Bangsat! Jangan kabur, kau..!"
Teriak Kenanga sambil melesat menembus kepulan asap putih itu, tapi Rajenta sudah tidak ada di sana lagi.
"Biarkan saja, Kenanga, dia hanya pendekar bayaran. Dia tau peraturannya, aku rasa dia juga tidak mendendam, jika dia mencari kalian, katakan kami yang membunuh ketiga temannya," kata Wulan Ayu yang sudah berada di samping Kenanga.
"Kau benar, kita harus cepat, jangan sampai para gadis itu jadi korban Arga Kirana," jawab Kenanga sambil tersenyum.
.
.
__ADS_1
*****
Setelah istirahat sejenak, kelima pendekar itu kembali melanjutkan perjalanan mereka, perjalanan yang tidak seberapa jauhnya lagi.
Lembah Ukam sudah di injak, namun yang belum bertemu kediaman Cakra Bima dan Ujang Seta.
Sekitar dua ratus tombak mereka berjalan meninggalkan tiga mayat Empat Iblis Sekawan itu, Suara tawa menggema di seantero hutan itu.
"Ha ha ha ha ha......!
"Agkh...! Telingaku sakit," keluh Seruni sambil berusaha menutup telinganya, begitu pun dengan Nila Wati dan Ambara Wati keduanya juga meringis menahan sakit di telinga mereka.
Hanya Anggala, Wulan Ayu dan Kenanga yang tampak belum kesakitan, Kenanga sendiri sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir efek suara yang menyakiti telinga itu.
"Totok pendengaran kalian," kata Wulan Ayu memberi peringatan, tanpa menunggu lama lagi, Nila Sari dan Seruni, maupun Ambara Wati cepat melakukan apa yang di katakan oleh Wulan Ayu.
"Hei Bajingan....! Keluarlah... Tampakkan wujudmu.....!"
Teriak Wulan Ayu dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Ha ha ha....! Kami di sini anak muda..!"
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.