
Srek!
Pisau-pisau kecil runcing tampak menyembul dari ujung daun kipas elang perak. Pisau belati kecil yang berjarak setiap sekitar tiga jari diujung kipas elang perak itu. Mendengar ancaman Bidadari Pencabut Nyawa keenam anak buah Jarot tampak saling pandang.
"Heh...! Kau kira kami takut dengan ancaman anaj kecilmu gadis tolol! Heaaah..!" secara serentak keenam orang itu melompat menyerang Wulan Ayu. Sambaran senjata mereka mencerca setiap bagian tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu. Sabetan dan tebasan kudok mereka susul menyusul.
"Hiyaaat...!" Wulan Ayu melentingkan tubuhnya ke udara menghindar serangan enam orang anak buah Jarot itu. Setelah berjumpalitan beberapa kali di udara Bidadari Pencabut Nyawa mendarat begitu ringan berjarak sekitar empat tombak di belakang para pengeroyokny.
Begitu keenam orang itu berbalik arah dan melompat ke arahnya. Wulan Ayu mengibaskan Kipas elang perak kearah musuhnya itu.
Set! Set! Set!
Lebih dari sepuluh buah jarum kecil melesat dari daun kipas elang perak. Begitu cepat dan hampir tidak terlihat. Keenam orang anggota Partai Teratai Api itu terpental ketanah dan meregang nyawa dengan bagian perut dan dada tertembus jarum senjata rahasia dari kipas elang perak.
Srek!
Jarot menghunus sebuah senjata yang berbentuk kecil namun sangat tajam. Senjata itu adalah Skin, atau dikenal orang selatan dengan nama jalu ayam. Skin itu tampak di beri tali oleh Jarot, Jarot memutar Skin bertali itu bagai sebuah baling-baling, senjata itu menimbulkan suara mendengung.
Ngung! Ngung!
"Hiyaaa...!" Jarot melaju kearah Pendekar Naga Sakti dengan tali Skin itu di tangannya. Mata Skin itu menderu cepat mengincar wajah dan jantung Anggala. Namun Pendekar Naga Sakti bergerak gesit menghindari setiap cercaan dan tikaman Skin itu.
Anggala yang memakai ilmu 'Baju Besi Emas'. masih bergerak menghindar, karena ia tau senjata itu adalah senjata tradisional. Bisa saja senjata itu mampu menembus kekebalan ilmu 'Baju Besi Emas'.nya.
"Aku harus memakai ilmu 'Tirai Malaikat'. Senjata itu terbuat dari perak dan kuningan," guman Anggala dalam hati sambil bergerak menghindari sambaran ujung Skin di tangan Jarot itu.
"Hiyaa...!" Wulan Ayu melesat cepat kearah belakang Jarot. Jarot terkesiap, belum sempat ia bergerak menghindar tendangan BidadariPencabut Nyawa telah mendarat di punggungnya.
Buak!
__ADS_1
"Aakh..!" Jarot langsung terpental kedepan dan jatuh bergulingan. Tali Skin di tangannya tampak terlepas, mata skin itu tertancap cukup dalam di tanah.
"Bangsat! Kau menyerang dari belakang," kata Jarot sambil memegangi punggungnya yang terasa bagai di hantam bongkahan batu, darah segar berwarna merah kehitaman mengalir dari mulutnya.
"Mundur!" perintah Jarot pada anak buahnya. Mata Jarot menatap kearah enam anak buahnya yang sudah tidak bergerak. Sambil tertatih Jarot dan anak buahnya melompat keatas kuda, dan mereka segera mengebah kuda mereka kearah mereka datang tadi.
"Senjata apa ini?" Wulan Ayu tampak memungut senjata skin Jarot yang tergeletak di tanah. Bidadari Pencabut Nyawa itu menelisik skin di tangannya.
"Itu skin anak muda," tiba-tiba ada suara yang menjawab. Anggala dan Wulan Ayu mengalihkan pandangan mereka kearah datangnya suara tersebut. Dari balik pohon muncul seorang kakek berpakaian baju salempang berwarna putih. Hanya kain pengikat di pingganya berwarna hitam.
"Kakek siapa?" Wulan Ayu balik bertanya.
"Hehehe...! Kalian cukup hebat anak muda, kalian sanggup mengalahkan Jarot dan anak buahnya," kata kakek itu tanpa menjawab pertanyaan Wulan Ayu, "Senjata di tanganmu itu bernama jalu ayam atau skin. Eh iya tadi nisanak bertanya siapa kakek ya. Nama kakek Deja, Orang-orang memanggilku kakek pikun," tambah kakek Deja memperkenalkan diri. Dari penampilannya yang agak acak-acakan wajar kalau kakek Deja di panggil kakek pikun.
"Kalau boleh tau, anak muda berdua mau kemana?" tanya kakek Deja.
"Kami adalah pengembara Kek, nama saya Anggala dan ini Wulan Ayu," jawab Pendekar Naga Sakti memperkenalkan diri dan kekasihnya Wulan Ayu.
"Iya Kek, kami sepasang kekasih," jawab Anggala malu-malu. Sedangkan Wulan Ayu hanya ikut tersenyum.
"Kakek dari tadi sudah berada di sini, menyaksikan kalian menghadapi Jarot dan anak buahnya, kakek mengenal jurus-jurus yang kalian gunakan," tutur kakek Deja.
"Kakek kenal jurus-jurus kami?" tanya Wulan Ayu.
"Kipas elang perak yang kau gunakan itu adalah senjata andalan Bidadari Galak dan jurus-jurusmu, ilmu 'Baju Besi Emas'. itu adalah ciftaan Pertapa Naga dari lembah naga, namun ilmu 'Tapak Dewa'. darimana kau mendapatkannya anak muda, apa dari Sura Jaya?" tutur kakek Deja sambil bertanya.
"Kakek benar, kami adalah murid dari orang-orang yang kakek sebutkan, ilmu Tapak Dewa saya dapatkan dari kakek Sura Jaya," jawab Anggala.
"Kebetulan sekali Anggala, Wulan Ayu, kakek butuh bantuan kalian," kata kakek Deja tanpa menjelaskan.
__ADS_1
"Maksud kakek, kami kurang mengerti? Saya lihat kakek juga bukan orang sembarangan," jawab Anggala tampak masih bingung.
"Di balik gunung ini ada sebuah kerajaan kecil yang bernama Pasemah Agung. Namun akhir-akhir ini kerajaan itu mengalami kekacauan yang tidak tau dari mana datangnya. Orang-orang yang menggangu ketenangan Kerajaan Pasemah Agung adalah kelompok orang-orang yang kalian kalahlan tadi. Istana lama Pasemah Agung berubah menjadi tempat menakutkan, sudah banyak pendekar yang tewas menemui ajal jika memasuki istana itu. Termasuk beberapa orang senopati kerajaan Pasemah sendiri. Kakek mencoba mencari bantuan dari luar, namun kakek selalu di halangi oleh orang-orang yang mengaku anggota Partai Teratai Api itu. Ada beberapa orang pendekar yang berhasil membantu kakek namun mereka harus gugur dalam menyelidiki istana yang kami beri nama Istana Kematian itu," jelas kakek Deja.
Pandangan orang tua itu tampak menerawang dan agak sedih. Anggala mendekati orang tua itu dan memegang bahunya.
"Kek, kenapa Kakek tampak begitu sedih menceritakan tentang istana kematian itu, apa yang begitu menyakitkan Kakek?" tanya Pendekar Naga Sakti, Wulan Ayu pun tampak berdiri disamping Anggala.
"Putra sulung kakek adalah seorang senopati di Kerajaan Pasemah Agung, ia tewas saat mencoba menyelidiki istana kematian," jawab kakek Deja, wajah orang tua itu berubah sendu.
"Sabar ya Kek, kami akan mencoba menolong Kakek sebisa yang kami bisa," ucap Anggala sambil memegang bahu kakek Deja, dan berusaha menghibur orang tua itu.
"Ya Kek, kami akan berusaha membantu Kakek sebisa kami," tambah Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Terima kasih ya nak, hati kalian begitu mulia, tidak salah kalau kalian adalah murid-murid pendekar ternama itu," ucap kakek Deja, "Ya sudah kita bisa berangkat sekarang?" tanya kakek Deja.
"Bisa Kek," jawab Anggala dan Wulan Ayu berbarengan. Wulan Ayu memberikan kudanya pada kakek Deja, ia sendiri berkuda bersama Anggala.
Baru saja mereka memasuki hutan, tidak begitu jauh mereka meninggalkan tempat, mereka bertemu.
"Berhenti kalian...!!"
Tiba-tiba mereka di hadang oleh serombongan orang berbaju hitam dan memakai topeng tipis.
"Deja... Rupanya kau tidak pernah jera, membawa orang-orang yang akan jadi tumbal istana kematian!" bentak salah seorang berbaju hitam, namun orang itu memakai kain pengikat pinggang berwarna merah.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
.