Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Istana Kematian


__ADS_3

Pendekar Naga Sakti segera melompat begitu cepat ke arah dua orang anggota Partai Teratai Api yang tewas terkena lemparan senjata rahasianya sendiri. Namun pemuda tampan pangeran dari Mandalika itu tidak menemukan orang lain selain dua orang itu.


"Dari mana mereka datang? Sedangkan hawa racun begitu pengap di ruang belakangku tadi, mungkinkah ada jalan lain memasuki ruang istana ini?" Anggala menggerutu seakan bertanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba.


Rek..... Rek.....!


Terdengar suara berderik dari arah belakang, Anggala menoleh ke arah belakang. Terlihat sebuah pintu jeruji besi bergerak turun dari arah atas menutupi lorong tempat Anggala masuk tadi.


"Heh...! Perangkap!"


Anggala kini terkurung di dalam ruangan itu, jalan satu-satunya adalah terus maju. Dengan Perlahan Pendekar Naga Sakti kembali melangkahkan kaki memasuki istana itu, semakin dalam. Pangeran Kerajaan Mandalika itu menajamkan semua indra yang di milikinya, baik penciuman, pendengaran dan kepekaan hatinya.


Krak!


Anggala menginjak sesuatu, begitu Pendekar Naga Sakti itu melihat ke arah bawah. Betapa terkejutnya Pendekar Naga Sakti begitu ia mengalihkan pandangannya ke bawah, beberapa tengkorak berserakan di lantai bangunan itu.


"Tengkorak!" Pendekar Naga Sakti tampak terkejut. Belum hilang keterkejutannya, tiba-tiba dinding bangunan di depan Anggala bergerak ke arah belakang.


"Apa?" Anggala sungguh tidak mengerti kenapa dinding itu bergerak ke arahnya. Pendekar Naga Sakti tanpa sadar tersurut mundur, hingga beberapa langkah.


"Hup!"


Secepat kilat Pendekar Naga Sakti melompat kebelakang ke arah ujung lorong, tapi gerakan tubuhnya, tertahan. Anggala baru sadar kalau di belakangnya ada jeruji besi menghalangi.


"Hiyaaa...!"


Pendekar Naga Sakti mendorongkan tangannya ke depan cahaya putih berkilau meluncur deras ke arah dinding yang terus bergerak.


Blaaarrr...!!


Ledakan menggelegar mengguncang tempat itu. Begitu terkejutnya Anggala melihat dinding itu tetap kokoh tidak tergores sedikit pun.


"Setan!"


Umpat Pendekar Naga Sakti setengah tidak percaya. Pukulan 'Tapak Naga'. Tingkat lima tidak menimbulkan epek sedikit pun. Sedangkan dinding itu semakin dekat dengannya.


Sret!


Sring!


Anggala cepat berpikir jernih. Pemuda itu cepat menghunus pedang naga sakti dari warangka nya. Cahaya putih kebiruan tampak bersinar terang membuat ruangan itu bagai di terangi pelita.


"Hiyaaat!"


Crang!

__ADS_1


Anggala secepat kilat menebaskan pedang naga sakti ke arah jeruji besi di depannya. Jeruji besi itu terbabat putus.


"Hup.!"


Pemuda itu melesat di antara lobang jeruji besi yang telah putus, setelah dua kali di tebasnya.


Jlek!


Shhhh....!!


"Aakh....!"


Pendekar Naga Sakti merasakan kedua kakinya bagai menginjak di atas bara api yang begitu panas. Pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi, yang ia gunakan hampir tidak berguna.


Pemuda berwajah tampan berbaju biru putih itu cepat mengerahkan dua ilmu andalannya sekaligus, yaitu jurus 'Langkah Malaikat'. dan jurus 'Delapan Langkah Mata Angin'. Walau agak menguras tenaga dalamnya Pendekar Naga Sakti terpaksa melakukan itu jika tidak ingin jadi korban keganasan racun yang ada di lantai dan di ruangan itu.


Gerakan cepat Pendekar Naga Sakti melentingkan tubuhnya, bersalto dan melesat bagai kilat ke arah pintu besar. Tempat ia pertama masuk tadi. Begitu Anggala hampir mendekati pintu besar itu, tiba-tiba.


Kreet....!


Clang!


Sebuah jeruji besi bergerak turun begitu cepat menutupi pintu besar itu dari dalam.


"Heh!"


"Hup! Hiyaaa...!"


Sambil berusaha memperlambat gerakannya, Pendekar Naga Sakti cepat mengibaskan pedang mustika naga di tangannya kedepan. Jurus 'Pedang Sembilan Naga tingkat lima langsung di gunakan, cahaya merah membentuk mata pedang besar melesat di depan tubuh Anggala begitu cepat.


Crang!


Blammm....!


Suara bunyi besi putus terbabat cahaya merah itu, di sertai ledakan gelombang api menghantam pintu jeruji besi di depan Pendekar Naga Sakti. Lobang sebesar seekor kerbau menganga di pintu jeruji besi itu.


"Hup!"


Pendekar Naga Sakti meluncur di antara celah yang berhasil ia buat, walau cukup menguras tenaga dalam.


Buak!


Tubuh Anggala langsung jatuh bergulingan di tanah. Pendekar Naga Sakti cepat melompat bangun sambil mengibaskan pedang mustikanya.


Set!


Set!

__ADS_1


"Sungguh istana yang berbahaya. Tidak heran jika di beri nama Istana Kematian, jika aku tidak mempunyai kesaktian dari kakek Pertapa Naga, aku pun akan tewas seperti para pendekar lainnya," gumam Pendekar Naga Sakti sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, karena aliran darahnya yang cukup hampir kacau, sebab menggunakan tenaga dalam tinggi.


Sret!


Anggala kembali menyarungkan pedang pusakanya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya. Kain putih pembalut pedang itu kembali ia rapikan. Pendekar Naga Sakti cepat melompat keatas pohon besar tempat ia menunggu pagi tadi malam.


Setelah berada di atas pohon itu, barulah Pendekar Naga Sakti melakukan semedi, untuk mengembalikan aliran darahnya.


Setelah selesai bersemedi sebentar mengatur aliran darahnya, Pendekar Naga Sakti melompat turun dan berjalan mengelilingi istana kematian itu. Cukup Lama Anggala mengitari istana kematian itu, namun ia tidak menemukan apa yang di carinya. Yaitu pintu selain pintu depan untuk masuk ke dalam istana.


Setelah bosan mencari, akhirnya Anggala kembali melompat ke atas pohon menunggu, dan berharap bisa mendapat petunjuk di mana kakek Deja Wantara berada.


Tidak lama Anggala di atas sana, ia mendengar suara orang yang bercakap-cakap mengarah ke tempat itu. Pendekar Naga Sakti segera menggunakan ilmu 'Mata Malaikat'. Tampak dari kejauhan Raden Sembung Merah bersama patih kerajaan Pasemah Agung yang baru tersebut.


"Raden Sembung Merah, kenapa putra bangsawan itu bersama patih menuju kemari?" bisik Anggala dalam hati. Matanya terus menatap kedua orang yang sedang berjalan santai ke arah bangunan besar yang di sebut Istana Kematian itu.


"Istana ini semakin hari semakin hancur, Eyang Wira," kata Raden Sembung Merah sambil berjalan menuju pintu besar yang sudah kembali seperti semula. Pintu jeruji besi itu telah kembali menutup ke arah atas.


"Kau benar, Raden," jawab jawab orang tua yang berpakaian bak seorang bangsawan itu yang di panggil Eyang Wira oleh Raden Sembung Merah.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat mayat Pendekar sombong itu, Eyang," kata Raden Sembung Merah lagi.


"Hati-hati, Raden. Aku melihat Pendekar Naga Sakti tidak seperti pendekar yang lain, aku tidak bisa melihat seberapa tinggi tenaga dalam yang ia miliki. Mungkin pemuda itu menggunakan ilmu penutup batin," ujar Eyang Wira memperingatkan. Laki-laki tua itu bernama asli Wira Cendana.


Raden Sembung Merah hanya tersenyum mendengar peringatan eyang Wira Cendana tersebut. Keduanya lalu memasuki pintu istana itu.


Sementara Pendekar Naga Sakti yang memperhatikan dari atas pohon dengan penuh pertanyaan. Namun pemuda itu tetap diam memperhatikan.


Tidak lama kedua orang itu masuk, tampak mereka sudah kembali keluar dengan tergopoh-gopoh. Wajah pemuda tampan berpakaian bangsawan istana itu terlihat memerah, ia adalah Raden Sembung Merah di ikuti eyang Wira Cendana dari belakang.


Keduanya tanpa banyak bicara segera melompat ke atas kuda, yang di tunggui empat orang prajurit. Mereka segera mengebah kudanya meninggalkan tempat itu.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa


Like


Koment


Rate


Hadiah

__ADS_1


dan Votenya teman-teman. Terima kasih banyak.


__ADS_2