
Kita kembali ke awal pertarungan, seperti yang di ketahui... Pemgemis Gila yang awalnya berhadapan dengan Datuk Wajangkara atau yang di kenal dengan Elang Hitam.
Pengemis Gila yang memang sengaja menghadang Datuk Wajangkara saat ia berniat menyerang Pendekar Naga Sakti. Namun baru berhadapan Datuk Wajangkara di hadang oleh seorang pendekar muda yang baru datang di puncak Gunung Kerinci ini.
"Maaf, Kek. Saya mempunyai urusan pada manusia iblis itu," ucap pemuda yang tiba-tiba menghadang pergerakan Datuk Wajangkara itu.
"He he he.....! Anak Muda, siapa kau? Aku belum pernah bertemu denganmu," sahut Pengemus Gila dengan tawanya yang setengah menggelitik.
"Saya Arca Soma, murid Datuk Pati Satria Elang Emas," sahut pemuda itu memperkenalkan diri.
"He he he....! Rupanya Pati Sangga Buana sudah mempunyai murid, ada urusan apa kau dengan Elang Hitam itu, Anak Muda?" tanya Pemgemis Gila, wajah orang tua itu berubah serius.
"Dua puluh tahun yang lalu, manusia iblis itu telah membantai penduduk sebuah desa termasuk kedua orang tua dan tiga kakak perempuanku, Kek," sahut Arca Soma.
"He he he...! Baiklah, jika urusan dendam orang satu kampung. Aku tidak ikut campur, tapi berhati-hatilah, ilmu Wajangkara itu tidak bisa di anggap enteng, Anak Muda," kata Pengemis Gila memperingati.
"Terima kasih, Kek," ucap Arca Soma sambil tersenyum.
"Hmm....! Tenaga dalam pemuda ini cukup tinggi, rupanya pusaka Elang Emas juga telah di berikan padanya oleh Pati Sangga Buana," batin Pengemis Gila.
Setelah menjauh dari Arca Soma, Pengemis Gila lalu berhadapan dengan Datuk Wangsaka dan bertarung hingga tokoh hitam dari Gunung Tujuh itu tewas mengenaskan akibat racun yang ia gunakan sendiri.
Kembali ke Arca Soma yang berhadapan dengan Elang Hitam, setelah di tinggal oleh Pengemis Gila, Datuk Wajangkara menatap ke arah Arca Soma.
"Rasanya aku tidak mengenalmu, Anak Muda. Ada dendam apa di antara kita?" tanya Datuk Wajangkara terdengar menggema.
"Kau mungkin sudah pikun, Wajangkara. Coba kau ingat, dua puluh tahun yang lalu. Kau dan orang-orang mu telah membantai penduduk sebuah desa, di sana ada ayah ibuku dan kedua kakakku yang telah kau bantai!" sahut Arca Soma dengan suara keras dengan tatapan mata penuh kebencian.
"Apa kau putra kepala kampung Aren Seribu, hah?" bentak Datuk Wajangkara.
"Ya, aku putra bungsu Pati Soma yang telah kau bunuh dan penduduknya kau bantai, Bajingan Wajangkara!" hardik Arca Soma lantang.
__ADS_1
"Kau akan menyusul kelurgamu hari ini, Anak Muda!" sahut Datuk Wajangkara lantang, "Majulah...!"
"Heaaah.....!" Arca Soma langsung melompat dengan jurus-jurus yang telah ia pelajari selama ini dari Datuk Pati Sangga Buana, yaitu jurus-jurus 'Elang Emas'.
Plak!
Suara tamparan tangan Arca Soma ketika beradu dengan jurus-jurus 'Elang Hitam'. Datuk Wajangkara. Pertarungan sengit pun tidak terelakkan lagi.
"Hup! Ku akui, Anak Muda. Kau cukup berilmu. Tapi ketahuilah kau tidak akan mudah mengalahkanku!" kata Datuk Wajangkara setelah mengadu jurus tidak kurang dari dua puluh jurus dengan Arca Soma.
"Pertarungan ini belum selesai, Datuk. Kau atau aku yang akan mati hari ini!" ketus Arca Soma sengit. Pemuda itu tampak meningkatkan tenaga dalamnya, ia terlihat menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Kedua tangan Arca Soma yang di aliri tenaga dalam itu kini terlihat berubah menjadi kemasan.
"Jurus 'Cakar Emas Elang Besi'."
Datuk Wajangkara tampak terkesiap melihat jurus yang di persiapkan oleh Arca Soma itu. Datuk Wajangkara tidak ingin kalah di awal pertarungan, ia langsung merapal jurus 'Elang Hitam Mencakar Gunung'.
"Ayo kelurkan ilmu andalanmu, Datuk. Aku tidak ingin di katakan mengalahkan musuh yang tidak sepadan!" kata Arca Soma sembari mengerakkan kedua telapak tangannya yang membentuk cakar ke arah depan dada.
Bet! Bet!
"Huh...!" gerutu Datuk Wajangkara begitu serangannya di tapaki oleh Arca Soma dengan cukup mudah, bahkan dengan cukup cepat Arca Soma memutar telapak tangannya dan hampir mengenai dada sang Datuk.
"Shaaa....!" Sebuah tendangan cukup cepat di lancarkan oleh Arca Soma ke arah pinggang Datuk Wajangkara, namun tokoh hitam tua yang cukup berpengalaman itu cepat berkelit dan menarik tubuhnya ke belakang.
"Bagaimana, Datuk?" cerca Arca Soma setelah Datuk Wajangkara melompat mundur sekitar dua tombak ke arah belakang.
"Jurus 'Elang Besi'. Heaaah....!!" Datuk Wajangkara cepat merubah jurus yang ia gunakan, kedua telapak tangannya yang membentuk cakar kini berubah kehitaman.
Crang!
__ADS_1
"Heh!" Datuk Wajangkara tersentak kaget begitu cakar telapak tangan kanannya mengenai pergelangan tangan Arca Soma yang berwarna keemasan. Jangankan terluka malah telapak tangan kanan sang Datuk terasa kesemutan dan ngilu.
"Kurang ajar! Rupanya jurus 'Cakar Emas Elang Besi. memiliki kekebalan dari serangan musuh, aku harus mengincar tubuh bocah ini," desis Datuk Wajangkara membatin.
"Aku harus menggunakan pukulan 'Elang Hitam Melebur Api'." gumam Datuk Wajangkara setengah berbisik.
"Haaaaa.....!" Datuk Wajangkara menyilangkan kedua tangannya yang membentuk cakar kemudian ia mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dada. Sebuah cahaya merah kehitaman kini terlihat di antara kedua telak tangan Elang Hitam itu.
"Mungkinkah itu pukulan 'Elang Hitam Melebur Api'.?" gumam Arca Soma, "Aku harus merapal pukulan 'Elang Emas Mengitari Awan'."
Cahaya kuning keemasan mulai menyelubungi tubuh Arca Soma dari ujung kaki hingga ke atas kepala. Perlahan Arca Soma menarik kedua tanganya yang membentuk cakar ke arah dua sisi tubuhnya.
Cahaya keemasan itu kini membentuk seekor elang yang berwarna kuning keemasan mengelilingi tubuh Arca Soma.
Begitupun cahaya kehitaman yang ada di kedua telapak tangan Datuk Wajangkara kini telah membesar setelah sang Datuk menarik kedua telapak tangannya ke sisi perutnya. Cahaya hitam itu kini terlihat membentuk sebuah kepala burung elang berwana hitam.
Wusss! Swosss!
Setelah cahaya keemasan yang mengelilingi tubuh Arca Soma membentuk seekor elang berwarna kuning keemasan, angin kencang berputar tiba-tiba muncul di sekeliling pemuda itu.
Angin mirip ****** beliung itu muncul setelah burung dari cahaya keemasan itu melingkarkan sayapnya ke arah Arca Soma.
"Heaaahhh.........!!!!" bentakan nyaring Datuk Wajangkara terdengar menggema. Datuk Wajangkara menyentakkan kedua tangannya ke depan, cahaya hitam membentuk kepala elang itu meluncur deras ke arah Arca Soma yang berjarak sekitar lima tombak di depannya.
Arca Soma menatap tak berkedip ke arah Datuk Wajangkara dengan kedua tangan masih di samping tubuhnya. Perlahan cahaya kuning keemasan yang membentuk seekor elang itu membuka sayapnya.
"Heaaah....!!" Arca Soma pun membentak nyaring ketika cahaya hitam yang membentuk kepala elang itu sudah cukup dekat padanya. Arca Soma langsung menyorongkan kedua telapak tangannya yang berwarna keemasan ke depan dada.
Swoss! Wusss.....!!!
.
__ADS_1
.
Bersambung.....