Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Tewasnya Sora Gambang


__ADS_3

Kepulan gelombang api, tampak membubung ke udara disertai asap putih kehitaman tanah dan debu berterbangan menutupi pemandangan.


Pendekar Naga Sakti tampak terdorong mundur sekitar lima tombak sampai ia berhasil menekan dorongan gelombang tenaga yang menghempaskannya. Pendekar Naga Sakti cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menstabilkan aliran darah dan menstabilkan pernapasannya yang terasa kacau.


Melihat kekasihnya sampai terdorong sekitar lima tombak akibat adu kekuatan dengan Sora Gambang, Wulan Ayu bak kilat melesat cepat ke arah Pendekar Naga Sakti dan menahan tubuh pemuda itu dari belakang.


"Kakak, tidak apa-apa, apa kakak terluka?" tanya gadis cantik itu dengan nada cemas, kedua bola mata indahnya menelisik ke arah wajah Pendekar Naga Sakti yang sedikit memucat.


Anggala hanya tersenyum melihat gadis cantik yang selama ini menemani perjalanannya dengan wajah cemas menelisik ke arahnya.


"Tidak apa-apa, Dinda. Kakak tidak apa-apa hanya sedikit darah kacau dan pernapasan tidak menentu," jawab anggala sambil tersenyum


"Kakak, selalu saja membuat dinda cemas," kata Wulan Ayu sambil tersenyum. Anggala hanya membalas dengan sebuah senyuman, dengan perlahan ia menaikkan kedua tangannya di samping pinggang untuk mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya.


Sementara itu Sora Gambang yang tampak telah terbaring setelah menabrak beberapa batang pohon hingga hancur dan patah baju merah yang dipakai oleh Gagak Setan Merah itu kini tampak berubah hitam, kulit wajah dan tubuhnya kini melepuh akibat terhantam pukulan 'Tinju Halilintar'. milik Pendekar Naga Sakti.


Beberapa saat Gagak Setan Merah masih menggeliat di tanah, dan berusaha mengangkat tangannya ada rasa tidak percaya di dalam hati manusia satu itu jika ilmu iblis yang ia gunakan dapat dikalahkan oleh musuh. Setelah tubuhnya bergetar dan tangan kanan Sora Gambang yang tampak hitam menggelupas jatuh ke tanah, mulutnya tampak ternganga dengan mata terbeliak. Namun nyawanya sudah terbang dari tubuhnya yang setengah hangus terpanggang.


Awan hitam yang tadi menutupi langit kini menghilang, angin kencang yang tadi seakan-akan mau meluluh lantakkan hutan kini pun sirna bagai ditelan sinar mentari yang telah kembali menyinari hutan tempat kedua pendekar itu adu kesaktian.


Hutan yang tadinya hampir gelap gulita kini tampak terang benderang, namun tempat itu telah hancur luluh lantak.

__ADS_1


Sebuah kawah tanpa air tampak mengangga di tanah, kawah yang cukup besar yang mempunyai kedalaman tidak kurang dari satu tombak tampak terbentuk di antara Anggala dan Sora Gambang. Jarak keduanya tidak kurang dari dua puluh lima sampai tiga puluh tombak.


Wulan Wulan Ayu merasa lega melihat musuh Anggala telah tewas dengan tubuh menghitam, memang ada kebencian kepada tokoh hitam itu, tapi tidak dengan sesama manusia ia hanya benci dengan sifat sombong dan jahat kejinya.


Namun dia tidak membenci sebagai sesama manusia ciptaan yang kuasa, melihat Pendekar Naga Sakti duduk bersemedi, Wulan Ayu malah duduk di sampingnya sambil bersandar ia tidak menyadari jika aki Syarip dan mak Ripah sudah memperhatikan mereka dari kejauhan.


Melihat tempat itu yang porak-poranda tidak kurang dari satu hektar barulah kaki Sarip menyadari jika anggala menjauh dari depan warungnya untuk adu kesaktian dengan Sora Gambang tadi, "Jika Anggala tidak menjauh dari perkampungan dan warung kita, seluruh rumah penduduk akan hancur akibat kedua pukulan pendekar itu, Nyi," kata kaki Syarip memecah kesunyian.


"Iya, Ki, aku juga baru menyadari jika anak Anggala tadi melarikan diri bukan karena takut kepada orang perguruan Gagak Hitam itu. Tapi dia menjauh karena tidak mau kita terkena dampak adu kesaktian mereka," timpal mak Ripah.


Mendengar suara mak Ripah dan aki Syarip berbicara, Wulan Ayu cepat berdiri wajahnya memerah menyadari di sana ada Ki Syarip dan mak Ripah. Ia malu karena kepergok sedang memeluk Anggala yang sedang duduk bersemedi.


"Kami dari tadi memperhatikan dari kejauhan nak Wulan. Kami ingin tahu apa yang terjadi dengan Anggala dan manusia jahat itu," jawab aki Syarip.


"Bagaimana keadaannya Anggala nak Wulan?" tanya mak Ripah.


"Saya baik-baik saja, Ki. Hanya mengalami kacau peredaran darah dan pernapasan saja," jawab Anggala sambil bangkit dari duduknya, dan tersenyum ke arah mak Ripah dan aki Syarip.


"Syukurlah, Nak. Jika kau tidak apa-apa, kami cukup mencemaskanmu. Jika sempat kau dikalahkan oleh Sora Gambang itu, kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kami dan penduduk Desa. Bisa saja dia melepaskan kemarahan dan melampiaskan dendamnya kepada kami dan Anak Wulan Ayu," kata aki Syarip.


"Allah masih melindungi kita semua Ki, bersyukurlah kepada tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini karena izinnya lah kita masih diberi perlindungan. Apa pun yang terjadi di dunia ini, tidak akan terjadi tanpa seizinnya," ucap Anggala.

__ADS_1


"Kau memang seorang pendekar, dan pemuda yang baik Anggala. Tidak hanya kepandaianmu sebagai pendekar yang tinggi, namun kepribadian dan ilmumu sebagai manusia dan sebagai hamba Allah, kau begitu mumpuni sebagai seorang manusia yang baik," puji aki Syarip.


"Saya tidak sehebat pujian aki," tukas Anggala sambil tersenyum malu. Anggala menolehkan pandangannya ke arah Wulan Ayu yang berusaha menenangkan perasaannya.


"Ada apa Dinda, kenapa wajah dinda memerah?" bisik Anggala setengah bergumam.


"Mereka berdua memergoki dinda memeluk kakak tadi," jawab Wulan Ayu sambil menutup wajahnya karena malu.


"Tidak apa-apa, Nak Wulan. Kami tahu kalian adalah sepasang kekasih wajar saja kalau kau memeluk Anggala karena menghilangkan rasa cemasmu, mak pun akan melakukan hal yang sama bila hal itu terjadi kepada aki," kata mak Ripah karena mendengar ucapan Wulan Ayu.


walaupun tadi Wulan Ayu setengah berbisik, "Mak, Wulan malu," jawab Wulan Ayu sambil tersipu malu wajahnya yang tadi sempat normal kini kembali memerah bak sebuah jambu *** yang sedang matang.


"Ya sudahlah, tidak enak kita bersenda gurau dan bercakap-cakap di tengah hutan ini. Sebaiknya kita kembali ke desa kita bisa beristirahat di warung," ujar aki Syarip melihat Wulan Ayu yang tampak kebingungan dan menahan malu, mak Ripah hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Wulan Ayu dan mengajak gadis itu berjalan meninggalkan tempat itu.


Anggala hanya tersenyum melihat tingkah dua orang pemilik pemilik warung yang seakan-akan menganggap kedua pendekar muda itu adalah keluarga mereka.


Suasan hening dan aman kini kembali suara burung terdengar berkicau mengiringi matahari yang perlahan turun di ufuk barat, kicauan burung yang terdengar riang seakan menyambut hari yang mulai tentram itu.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2