Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Keributan Di Kedai Ki Syarif


__ADS_3

Anggala hanya diam memperhatikan Wulan Ayu dan Kittibun yang sedang berhadapan, pemuda itu tampak begitu tenang. Ketenangan Anggala itu membuat Khemkhaeng tampak agak gusar.


"Heh, Anak Muda. Apa kau yang bergelar Pendekar Naga Sakti?" tanya Kamon sambil berdiri dan menatap lekat kearah Anggala, laki-laki itu berusaha melihat kekuatan tenaga dalam yang di miliki oleh pemuda berpakaian putih abu-abu itu. Namun Kamon tidak berhasil melakukannya karena Anggala memiliki ilmu 'Penutup Batin'.


"Bukankah kalian tadi sudah bertanya pada Wulan Ayu?" Anggala malah balik bertanya dan duduk dengan santai di sebuah meja yang kosong, tapi matanya masih memandang ke arah luar kedai itu.


"Binatang ******! Di tanya malah balik bertanya?!" geram Kamon, telinganya terasa panas karena seakan tidak di pandang oleh Anggala yang tidak melihat ke arahnya.


Anggala hanya tersenyum tipis mendengar bentakan Kamon tersebut.


Sementara itu Wulan Ayu dan Kattibun yang sudah memulai pertarungan mereka. Kattibun tampak mulai menyerang dengan serangan menggunakan gagang pedanya dan pukulan tangan kiri di sertai sesekali tendangan kaki kanan dan kiri.


Kattibun mulai gusar karena setiap serangannya dapat di tapaki dan di tangkis oleh Wulan Ayu, malah sesekali gadis itu memberikan serangan balik. Namun sampai sekitar sepuluh jurus pertarungan Wulan Ayu belum memberikan perlawanan yang berarti.


Ia sepertinya memang sengaja membiarkan Kattibun menyerangnya tanpa henti. Wulan Ayu yang sudah mengukur seberapa tingkat tenaga dalam yang di gunakan oleh lawannya itu mulai memberikan serangan balik di sekitar jurus kedua belas.


Buak!


"Ah...!" Kattibun cukup kaget karena tidak menyangka jika pulukan telapak tangan Wulan Ayu bakal menghantam bahu kanannya. Kattibun tampak terhuyung ke arah samping kiri, namun ia cepat menguasai keseimbangan tubuhnya.


"Kurang asam, gadis ini tampak begitu gemulai. Namun serangannya tidak bisa aku duga," dengus Kattibun dalam hati. Walau pukulan Wulan Ayu tadi tidak begitu berarti, tapi pukulan itu cukup membuat wajah si kumis tambah hitam karena menahan amarah.


Sret!"


Kattibun langsung menghunus pedangnya yang mirip pedang samurai orang Jepang itu, namun bentuk pedang di tangan Kattibun itu lebih lebar di banding dengan pedang samurai para sinobi maupun ninja.


Sret!


Wulan Ayu langsung mengeluarkan kipas elang perak dari balik lipatan bajunya. Kipas itu lantas langsung terkembang di depan dada sang Bidadari Pencabut Nyawa itu.


"He he....! Kau begitu meremehkan ku, Gadis Cantik!" kata Kattibun melihat Wulan Ayu tidak menghunus pedangnya, sebuah senyum kemenangan tampak tersungging di bibir laki-laki berkumis tebal itu.


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis sambil mempersiapkan diri, dengan pengerahan tenaga dalam yang di salurkan kearah tangan kananya yang menggenggam kipas elang perak.


"Haaaa......!" Kattibun membentak nyaring seraya melompat sambil kedua tangannya yang menggenggam erat gagang pedang membuat gerakan menusuk ke arah depan.

__ADS_1


Trang!


"Heh..!" Kattibun tersentak kaget, ia tidak menduga sama sekali jika kipas di tangan lawannya tidak dapat di tembus oleh pedangnya.


Belum hilang keterkejutan Kattibun, sebuah sambaran tendangan kaki kanan Wulan Ayu telah menghantam pinggang bagian kanannya.


Buak!


"Akgh....!!" hanya lenguhan tertahan keluar dari mulut Kattibun sebelum tubuhnya terhuyung ke arah samping, kekuatan tendangan Wulan Ayu itu cukup patal bagi anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu. Kattibun sampai jatuh terjelengkang ke arah samping.


"Bangsat!" teriak Kattibun seraya melompat berdiri, dan langsung kembali bersiap dengan kuda-kudanya.


"Bagaimana kisanak, dimana senyum kemenangan mu tadi?" kata Wulan Ayu setengah mengejek. Tentu saja perkataan Bidadari Pencabut Nyawa itu membuat kuping Kattibun menjadi panas, ia mengembor marah sambil melompat menyerang lagi.


"Heaaahhh......!!"


Trang!


Lagi-lagi serangan sambaran pedang di tangan Kattibun dengan begitu tenang di tangkis Wulan Ayu dengan daun kipas elang perak, suara berdentangan pun kembali terdengar.


"Kau kira kipasku ini hanya kipas biasa, Kisanak?" ujar Wulan Ayu tersenyum simpul, melihat Kattibun mengerutu kesal.


"Hup!" Kattibun melompat menjauh sekitar lima langkah kebelakang, laki-laki berambut cepak dengan kumis tebal itu tampak mempersiapkan jurus andalannya. Pedangnya di angkat setara dengan bahu kanan, matanya menatap tajam ke depan.


"Ketua, biar aku yang akan mencincang manusia sombong itu!" geram Kamon menoleh kearah Khemkhaeng meminta persetujuan.


"Silahkan, berhati-hatilah. Aku yakin pemuda itu bukan orang sembarangan sehingga Saga Lintar menyewa kita untuk membunuhnya," kata Khemkhaeng memperingatkan.


"Baik, Ketua," ucap Kamon sebelum bangkit berdiri.


"Jadi, jika kita mampu membawa kedua kepala gadis dan pemuda itu, tetap upahnya seribu keping emas, Ketua?" tanya Klaw Kla.


"Saga Lintar mengatakan jika keduanya kita bunuh, dia akan menambahkan lima ratus keping emas lagi. Yang paling penting itu kata Pendekar Naga Hitam adalah kepala Pendekar Naga Sakti," jawab Khemkhaeng.


Nun jauh dari tempat itu Ketiga Pendekar Tongkat Naga Emas telah bertemu dengan Tiga Elang, setelah meminta izin kakek guru mereka Elang Hitam. Dewi Arau, Dewi Pingai dan Dewi Aurora memutuskan turun gunung untuk mencari keberadaan Anggala dan Wulan Ayu.

__ADS_1


"Kalian harus hati-hati, tetaplah bersama. Dengan kalian tidak terpisah. Kalian akan sulit dikalahkan. Oh...., ya. Jika kalian sudah bertemu dengan kedua pendekar muda itu, sampaikan salamku. Aku sudah sangat lama tidak bertemu Lesmana, apalagi si Pertapa Naga," kata Datuk Balung.


"Baik, Kakek Guru. Kami izin pergi dulu," ucap Dewi Arau mewakili kedua adiknya.


"Daka. Kau yang paling tua, jagalah ketiga cucuku, jangan biarkan tokoh-tokoh golongan hitam itu menyakiti mereka," kata Datuk Balung sambil menepuk pelan bahu Kamandaka saat pemuda itu menyalaminya.


"Saya akan menjaga mereka dengan nyawa saya, Kakek Guru," sahut Kamandaka sambil menunduk memberi hormat.


"Ha ha ha....! Aku tau itu Kamandaka. Kau tidak akan membiarkan kekasihmu di sakiti orang lain," kata Elang Hitam sambil tertawa, "Pergilah, Pendekar Naga Sakti membutuhkan kalian."


"Kami permisi, Kakek Guru," ucap mereka berbarengan sebelum melangkah meninggalkan lembah yang di kenal dengan Lembah Elang tersebut.


*******


Desa Gragan, matahari mulai turun di ufuk barat, namun masih tampak dan masih cukup menyengat kulit. Suasana Desa Gragan tampak mencekam, para penduduk mengintip dari kejauhan dan dari jendela dan pintu rumah mereka.


Pandangan mereka tertuju pada pertarungan antara Bidadari Pencabut Nyawa dengan bendahara Tujuh Pedang Pembunuh dari Negeri Muathai itu.


"Heh...., kau...!" tunjuk Kamon pada Anggala yang duduk tenang di mejanya.


"Kisanak, memanggilku?" jawab Anggala begitu tenang, sambil menoleh ke arah Kamon.


"Heaaah....!"


Brak!


Meja di depan Anggala langsung hancur berkeping-keping terkena pukulan tinju Kamon yang mengembor marah karena merasa di remehkan. Sedangkan Anggala telah melesat secepat kilat keluar warung.


"Kedai itu akan hancur, Kisanak. Di sini lebih luas!"


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2