
Begitu cepat Wulan Ayu memasuki ruangan bangunan yang digunakan untuk menyekap anak-anak dari desa itu.
"Siapa kau? apa maumu!" tanya salah seorang anak yang paling besar walau wajahnya agak ketakutan namun melihat gelagat Wulan Ayu yang tidak seperti anak buah tuan tanah itu anak itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak usah takut, Nak. Aku datang menolongmu," jawab bulan Ayu sambil tersenyum dan dengan suara lembut.
"Kakak ini siapa?" tanya salah seorang anak kecil perempuan yang tampak langsung mengejar ke arah bulan Ayu mendengar jawaban itu anak-anak itu langsung mendekat.
"Baiklah, aku akan membawa kalian dari sini tapi tidak serentak ya, aku akan membawa dua orang dua orang terlebih dahulu," kata Wulan Ayu.
"Baik, Kak," sahut bocah yang paling tua tadi.
Tidak lama kemudian Pendekar Naga Sakti pun telah masuk melalui pintu depan anak-anak yang berada di dekat Wulan Ayu pada bersembunyi di belakang Wulan Ayu.
"Tidak usah takut, dia teman kakak," kata Wulan Ayu menenangkan anak-anak itu.
"Baiklah," kata Anggala, "Dua orang ikut kakak kita akan menyeberang tembok di belakang bangunan ini," kata Anggala dua orang anak yang berada di samping Wulan Ayu segera mendekat ke arah Anggala.
Tanpa banyak bicara lagi Anggala segera menggendong dua orang anak laki-laki, dan secepat kilat Anggala melompati tembok batu yang tingginya tidak kurang dari empat meteran.
Begitu juga dengan Wulan Ayu dalam waktu yang begitu singkat mereka telah berhasil membawa semua anak-anak yang berada di dalam bangunan penyekapan itu.
"Kalian jangan berisik ya, kita tinggalkan tempat ini kita kembali ke desa kalian," kata Wulan Ayu.
"Baik, Kak," sahut bocah laki-laki yang paling tua itu mereka berjalan mengikuti Anggala dari belakang dan Wulan Ayu sengaja berada di belakang untuk memperhatikan keadaan sekitarnya dan berjaga-jaga.
"Paman, biasanya ada orang-orang yang meronda di dalam Desa, mereka takut orang tua kami melarikan diri pada malam hari," kata bocah itu.
"Kalian tidak usah takut kami akan menghadapi orang-orang yang akan menyakiti kalian, sekarang ini kita kembali dulu ke desa kalian," kata Anggala sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baik, Paman," kata anak kecil itu mereka menyusuri jalan setapak yang tampak cukup terang di tengah hutan itu.
"Paman, kita lewat jalan sebelah kanan kita saja, karena melalui jalan itu kita akan lebih cepat mencapai Desa," tunjuk bocah laki-laki yang paling tua.
"Sepertinya kau mengetahui jalan ini?" tanya Anggala.
"Iya, Paman. Aku tertangkap tiga hari yang lalu karena adikku disekap oleh orang-orang itu."
"jadi, kau sendiri ke sini?" tanya Wulan Ayu.
"Iya, Kak. Karena ibuku sangat sedih takut adik-adikku dibunuh oleh orang-orang tuan tanah Surya Karta itu," jawab anak kecil itu.
"Tapi apakah adik-adikmu baik-baik saja?" tanya Anggala.
"Ya, Paman. Adikku baik-baik saja, yang berada di tengah satu laki-laki dan satu perempuan itu adalah adik saya," sahut bocah laki-laki itu sambil menunjuk dua orang bocah yang berada di tengah rombongan.
"Paman, di depan kita ini tidak jauh lagi banyak rumah penduduk sepertinya kita harus sembunyi-sembunyi untuk masuk desa."
"Bagaimana dengan kami Bibi?" tanya salah seorang bocah perempuan agak ketakutan.
"Kan sudah bibi katakan, Sayang. di sini ada paman dan bibi, jadi kalian tidak usah takut. Jika ada musuh nanti kalian sembunyi dulu ya," sahut Wulan Ayu.
"Baik, Bibi!" jawab anak-anak itu serentak. Baru saja mereka melangkah melalui beberapa rumah secara diam-diam, tiba-tiba sekitar sepuluh orang lebih berpakaian serba merah tiba-tiba mengepung mereka.
"Mau ke mana kalian?!" bentak salah seorang pengepung itu.
Anggala dan Wulan Ayu tanpa basa-basi langsung saja menyerang para pengepung yang mengepung mereka dalam waktu yang singkat saja ke-sepuluh orang pengepung itu telah bergelimpangan di tanah dalam keadaan terluka dalam dan beberapa orang tewas terkena sambaran kipas elang perak di tangan Wulan Ayu.
Salah seorang yang berada paling belakang mencoba melarikan diri, namun Wulan Ayu segera melompat bagai kilat dan menghadang.
__ADS_1
"Mau kemana kau bajingan!" bentak Wulan Ayu.
"Kau...., kau hanya berani dengan orang yang berkemampuan rendah seperti kami jika kau memang berani tantang Datuk kembar Wangsala dan Datuk Wangsaka!" kata laki-laki itu mencoba menggertak Wulan Ayu.
"Kau kira aku takut dengan Datuk Sesat itu, suatu hari aku akan menghadapi tokoh dedengkot golongan hitam yang menguras. keringat dan harta rakyat kecil itu. Tapi saat ini kau sebagai anak kacungnya harus kukirim ke neraka lebih dahulu!" geram Wulan Ayu.
"Bajingan.... Kau kira aku takut denganmu!" laki-laki itu langsung menerjang cepat ke arah Wulan Ayu sambil menikamkan goloknya, namun dengan begitu sikap Bidadari Pencabut Nyawa memiringkan tubuhnya dan menangkap pergelangan tangan laki-laki itu secepat kilat kaki kanan Wulan Ayu langsung menendang laki-laki itu.
Buak!
"Akgh...!!" laki-laki itu mengeluh tertahan dengan darah menyembur dari mulutnya, sebelum tubuhnya terpental dan jatuh tertelungkup golok di tangannya pun terlepas.
Beberapa saat laki-laki itu tampak menggelepar dengan kedua tangan mencengkram tanah, menandakan ia merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutnya. Tidak lama kemudian laki-laki itu langsung tewas seketika begitu Wulan Ayu dan Anggala berhasil mengalahkan tidak kurang sepuluh orang yang tadi mengepung mereka, terlihat para penduduk keluar dari rumah mereka.
"Apa yang kau lakukan, Anak Muda. Kau hanya akan membuat kami disiksa oleh orang-orang Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka!" kata salah seorang laki-laki yang tampaknya sudah cukup berumur kemungkinan umur laki-laki itu tidak kurang dari enam puluh lima tahun.
Namun belum sempat Anggala menjawab perkataan laki-laki tua itu anak-anak yang tadi bersembunyi tampak riuh keluar langsung berlari menemui orang-orang tua mereka isak tangis terdengar dari wanita dan orang tua laki-laki mereka merasa gembira melihat anak-anak mereka telah selamat dari sekapan orang-orang tuan tanah.
"Jadi kalian yang menyelamatkan anak-anak kami, Anak Muda?" kata laki-laki tua itu.
"iya, Ki. Kami telah diberitahu oleh teman kami bahwa anak-anak dari Desa Bukit Kayangan telah disekap oleh tuan tanah agar Nini Sumirah tidak mengadakan perlawanan kami mengadakan penyelidikan dan langsung berusaha melepaskan anak-anak yang telah disekap," sahut Anggala.
"Terima kasih, Anak Muda. Tapi orang-orang tua tanah dan anak buah Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka tidak akan tinggal diam," kata laki-laki itu.
"Kakek tidak usah takut kami yang akan menghadapi mereka jika kalian tidak keberatan, kami ingin kakek mengajak para penduduk untuk mengungsi terlebih dahulu," kata Wulan Ayu menyampaikan maksudnya.
"Baiklah, Nak. Kami juga tidak ingin dibantai oleh orang-orang Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka dan orang-orang yang menjadi kaki tangan tuan tanah tidak mempunyai prikemanusiaan itu," kata kakek tersebut.
.
__ADS_1
.
Bersambung....