
Kita tinggalkan anggala dan Wulan Ayu yang baru menguburkan seluruh anggota Penyamun beruang hitam
Kini Ujang Seta bersama Sang Guru Cakra Bima telah mengumpulkan beberapa orang tokoh hitam di daerah itu, apalagi para tokoh hitam itu cukup mengenal siapa Cakra Bima, mereka tidak mungkin menolak ajakan tokoh Sakti yang tidak jelas golongannya itu mereka juga tidak berani melawan apabila Cakra Bima berniat untuk memaksa mereka meminta dukungan
Tetapi dengan penawaran yang diberikan oleh Ujang Seta jika mereka berhasil menghabisi Pendekar Naga Sakti dan Bidadari pencabut nyawa, Ujang Seta akan memberikan seribu keping emas yang ia
punya dengan kedua saudara-saudaranya. Kepada para pendekar golongan hitam itu.
Tentu saja penawaran dari Ujang Seta cukup menggiurkan bagi para pendekar golongan hitam yang selama ini jadi pendekar bayaran dan pembunuh bayaran bagi orang-orang yang membutuhkan mereka.
Para pendekar bayaran itu rata-rata adalah para pendekar yang tidak mau mencampuri urusan dunia persilatan jika itu tidak menguntungkan dan tidak membuat mereka mendapatkan keping emas dan membuat mereka jadi kaya.
Sebagai pendekar yang telah Melanglang Buana di daerah selatan ini, tentu Cakra Bima mengetahui siapa saja pendekar yang bisa mereka beli.
Namun mereka tidak mau secara langsung mendatangi Perguruan Mawar Putih untuk membalas dendam. Kali ini mereka berniat menghabisi orang-orang dari Perguruan Mawar Putih dan Pendekar Naga Sakti bersama Bidadari pencabut nyawa dengan cara berbuat licik. Mereka merencanakan penculikan-penculikan di setiap desa yang ada di sekitar Perguruan Mawar Putih.
Tentu saja niat busuk dari Cakra Bima dan Ujang Seta di setujui oleh para pendekar golongan hitam yang mereka rekrut dan mereka beli.
kini mereka tinggal menjalani niat mereka
meneror desa-desa itu dengan menculik para gadis sedangkan tidak ada di antara orang-orang Perguruan Mawar Putih yang mengetahui dimana Cakra Bima tinggal, sedangkan mereka juga tidak mengetahui siapa yang membawa Ujang Seta pergi saat hampir di kalahkan Wulan Ayu.
Tentu saja semua ini akan membuat Pendekar Naga Sakti dan Wulan Ayu kesulitan untuk melacak keberadaan para penculik para gadis di desa, begitulah rencana Ujang Seta dan Cakra Bima.
***********
Saat ini di tengah Desa Pandan Wangi kehidupan rakyat biasa yang sehari-hari adalah bertani ada juga segelintir orang-orang yang memanfaatkan mencari ikan di daerah sungai kecil, anak Sungai Musi.
Kehidupan mereka yang tidak begitu tenang karena perilaku Tiga Pendekar mesum. Siang itu cahaya mentari cukup trik di atas kepala tidak banyak orang-orang yang berlalu-lalang hilir-mudik lagi karena rata-rata orang-orang telah beristirahat di rumah mereka dan di kebun.
Tampak di sudut Desa Pandan Wangi, sebuah di warung kecil yang di tempati oleh beberapa orang yang tampak menikmati makan siang dan istirahat di warung itu.
Mereka dikejutkan oleh suara jeritan dan tangisan dari sebuah rumah di ujung desa.
Para penduduk itu berniat untuk membantu ke arah rumah yang terdengar jeritan dan tangisan itu.
Namun apa yang terjadi dengan mereka, baru saja mereka hendak masuk kerumah itu tiga orang laki-laki langsung bermentalan keluar rumah. Tampak empat orang laki-laki bertubuh kekar dengan
membawa seorang gadis muda dalam keadaan tertotok di bahu salah seorang dari empat orang itu.
__ADS_1
Tolong...., tolong, tolong... Tuan, jangan bawa anak saya, itu anak kami satu-satunya, Tuan, tolong..,"
terdengar suara seorang wanita menangis memelas, memohon belas kasihan dari empat laki-laki bertubuh besar itu. ke empat laki-laki itu dengan pakaian hitam.
"Ha ha ha.... Kami diperintahkan oleh Ujang Seta dan Tuan Cakra Bima menculik beberapa orang gadis desa ini, jadi Jika kalian ingin hidup jangan halangi kami!"
bentak salah seorang dari empat orang itu sambil mengacungkan tongkat berwarna hitam ke arah para penduduk yang berada di depan rumah itu.
Tiga orang laki-laki dari para penduduk yang terkena serangan empat orang itu tadi tampak beringsut dan mengalami luka
di tubuh mereka.
"Jika kalian ingin merebut para gadis ini, kalian katakan kepada orang-orang perguruan Mawar Putih bahwa empat iblis Sekawan telah menculik gadis di Desa Pandan Wangi ini. Kalian salah kan mereka, karena mereka telah membunuh dua dari murid Tuan Cakra Bima, Jika kalian ingin gadis-gadis ini selamat, datanglah ke tempat Cakra Bima," kata salah seorang dari Empat Iblis Sekawan itu, tampak di belakangnya seseorang laki-laki yang berumur sekitar lima puluh tahunan telah terbaring dengan mulut mengalir darah bekas dihajar oleh empat orang itu.
"Bajingan kalian! Kalian memang manusia tidak punya perasaan selama ini kalian telah menjadi orang-orang yang menyusahkan orang-orang Kampung Ini," kata aki Wali. Aki Wali adalah kepala Kampung Pandan Wangi ini.
"Ha ha ha... Aki Wali. Kau tahu siapa aku dan siapa kami berempat, sebaiknya kau tidak halangi aku dan teman-temanku!" bentak Ronggo.
"Selama ini kami tidak pernah mempedulikan semua perbuatan kalian tapi kenapa kalian malah membantu orang-orang mesum itu?" tanya Aki Wali dengan mata mendelik memandang penuh kebencian ke arah Ronggo.
"Sudahlah, Ronggo sebaiknya kita tinggalkan tempat ini," kata Lingkar Langit
"Baiklah, Lingkar, tidak ada gunanya kita membunuhi penduduk yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa hanya akan membuat kotor tangan tangan kita saja," kata Ronggo sambil berjalan
ke arah pintu depan.
Beberapa orang penduduk yang tidak kurang jumlahnya dari lima belas orang bergerak mundur tidak berani menghalangi Empat Iblis Sekawan itu.
"Kalian Dengar jika kalian menginginkan gadis ini hidup-hidup kami menunggu orang-orang dari Perguruan Mawa Putih di kediaman tuan Cakra Bima, kalian mengerti!" bentak Ronggo lagi.
Para penduduk tidak menjawab, mereka hanya memandang penuh kemarahan dan kebencian ke arah Empat Iblis Sekawan itu.
Sambil tertawa terbahak-bahak Empat Iblis Sekawan itu melesat meninggalkan tempat itu, meninggalkan beberapa orang penduduk yang terluka.
Aki Wali memutuskan pergi sendiri ke arah Perguruan Mawar Putih, yang jika ditempuh dari Desa Pandan Wangi ini berjalan kaki akan memakan waktu sekitar setengah hari perjalanan, namun jika menaiki kuda maka sekitar dua jam perjalanan saja, sudah bisa mencapai Perguruan Mawar Putih. Dengan menaiki kudanya laki-laki tua pemimpin kampung Pandan Wangi itu mengebah kuda
tunggangannya menerobos hutan belantara.
.
__ADS_1
********
Sementara itu di desa Jati Liar tidak jauh dari Desa Pandan Wangi.
Para penduduknya nampak bergelimpangan setelah dihajar oleh dua orang pendekar yang memakai Topeng Hitam kedua orang yang menghajar para penduduk itu adalah Sepasang Topeng Hitam.
Kedua pendekar golongan hitam ini adalah pembunuh bayaran yang tinggal di Lembah Hitam.
Kedua orang ini terkenal kekejaman dan kekejian nya dengan kesaktian dan kepandaian mereka yang cukup mumpuni. Puluhan penduduk Desa Jari Liar bergelimpangan di tanah setelah mencoba menghalangi kedua orang itu membawa empat orang gadis.
"Ha ha ha.... Percuma kalian menghalangi kami, nyawa kalian tidak ada artinya. Jika kalian ingin membalas dendam dan merebut para gadis ini, cepat katakan pada Dewi Mawar, bahwa Kamis Sepasang Topeng Hitam menunggu mereka di kediaman Ki Cakra Bima," kata salah seorang Topeng Hitam pada para penduduk.
Setelah berkata demikian secepat kilat kedua orang itu melesat begitu cepat
bagaikan tidak membawa beban sedikitpun kemampuan peringan tubuh dan tenaga dalam mereka sudah begitu tinggi.
Dua orang penghuni Lembah Hitam Itu sudah merupakan tokoh tua, namun mereka bukanlah pendekar golongan hitam yang
suka mencampuri urusan dunia persilatan. Jika tidak mempunyai hasil yang paling besar mereka tidak akan mau menerima pekerjaan kotor itu, penawaran yang diberikan Ujang Seta kepada dua orang Iblis Topeng Hitam itu yang membuat mereka bersedia turun gunung dan mencampuri urusan Cakra Bima dan Ujang Seta.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.