
Udara pagi yang begitu menyegarkan dan begitu sejuk terasa di tubuh. Namun lain yang di rasakan Kindar Saka ia berlari kencang dengan mengendong tubuh sang Kakak yang mulai terasa dingin.
.
Kindar Saka menghentikan langkahnya di dalam hutan, dengan perlahan di letakkannya tubuh Damar Suta di tanah dan di sandarkan pada sebatang pohon.
.
Kindar Saka dengan begitu hati-hati berusaha mengalirkan hawa murni ke tubuh sang kakak, namun yang terjadi tenaga dalamnya tidak di serap lagi oleh tubuh Damar Suta. Barulah Kindar Saka menyadari kalau Damar Suta sudah tidak bernyawa lagi.
.
"Kanda! Kanda...! Kanda Damar, bangun Kanda,"
"Kandaaa......!!"
Jerit kesedihan Kindar Saka membahana di dalam hutan itu, burung-burung yang sedang bertengger di pohon yang berada di daerah itu terkejut dan bertebangan. Begitu pun dengan binatang hutan yang lain mereka lari menjauhi sumber suara itu.
.
"Awas Kau Pendekar Naga Sakti! Aku pasti akan menuntut balas kematian kakak ku, tunggu lah kedatanganku!" Guman Kindar Saka setengah berbisik.
.
Tampak Kindar Saka menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Damar Suta, bajunya pun penuh dengan darah yang mengalir dari tubuh sang Kakak. Semua itu tidak di pedulikannya lagi, dengan perlahan di anggkatnya tubuh tak bernyawa Damar Suta itu, dan di bopongnya ia pun kembali berlari.
.
Sementara itu di Perguruan Belati Terbang itu. Tampak Kala Abang begitu gelisah, ia duduk dan berdiri silih berganti, sebentar duduk dan sebentar berdiri.
.
"Ada apa Kanda? Kau begitu gelisah?" Tanya Kala Pati melihat tingkah Kala Abang itu.
.
"Perasaanku tidak enak, Kala Pati, kenapa Kau biarkan Damar Suta dan Kindar Saka pergi berdua ke desa Talang kuda itu? Yang mereka hadapib bukanlah anak kemarin sore, aku takut terjadi apa-apa pada mereka berdua?" Jawab Kala Abang tidak bisa menutupi kegelisahan dan kegusarannya.
.
"Tenanglah Kanda! Anak-anak kita itu selama ini tidak terkalahkan, apalagi mereka pergi berdua!" Sela nyi Laras Santang, ia berusaha menenangkan sang suami. Sedangkan nyi saweti duduk di samping nyi laras santang hanya diam.
.
"Kalian bisa tenang! Tapi aku merasakan hal yang tidak di inginkan!" Jawab Kala Abang sambil berjalan bolak balik, ia pun duduk di kursinya dan meminum arak yang ada si atas meja di depannya itu.
.
"Jujur, aku juga merasakan hal yang sama Kanda!" Ujar nyi laras santang lagi. Namun ia berusaha menenangkan dirinya.
__ADS_1
.
Tidak lama tampak Kindar Saka berlari cukup cepat membawa rubuh Damar Suta memasuki aula besar itu, "Ayah! Ibu...!" Kindar Saka lansung meletakkan tubuh Damar Suta di depannya. Semua orang yang ada di ruangan itu menjerit sedih yang lebih parah lagi nyi laras santang dan Kala Abang, suami istri itu berteriak histeris. Mereka mengguncang-guncangkan tubuh Damar Suta yang telah terbujur kaku itu.
.
Si Kapak maut yang sedang tidak berada di ruangan itu tampak berlari mwmasuki aula itu, ia sangat terkejut melihat Damar Suta sudah tidak bernyawa lagi.
.
"Siapa yang melakukan ini, Kindar?" Tanya Sarmada sambil duduk bersimpuh di samping mayat Damar Suta itu.
.
"Kanda Damar Suta Kalah bertarung melawan Pendekar Naga Sakti Sarmada, aku sudah.. Sudah berusaha menyelamatkannya, tapi terlambat, luka kanda Damar Suta begitu parah, hiks..!" Jawab Kindar Saka sambil sesegukan menahan tangis.
.
"Kita harus membalaskan kematian Kanda Damar Suta dan Kematian wak Kala Ireng. Ibu izinkan aku pergi membalaskan kematian Kanda Damar Suta!" Ujar Sarmada. Wajahnya memerah menahan kemarahan.
.
"Kau tidak boleh pergi sendiri Sarmada! Jika Kau pergi sendiri, Kau pun akan menyusul kakak dan wak mu Kala Ireng!" Tegas Kala Abang.
.
"Kala Pati, Kindar Saka! Ajak lah sebanyak munfkin murid kita, temani Sarmada, bakar sekalian Desa itu!" Perintah Kala Abang.
.
"Baik Kanda!" Jawab Kala Pati, tanpa banyak bicara ia pun segera berdiri sambil mengusap air matanya.
.
"Tunggu..!"
Semua mata tertuju pada asal suara itu. Si Cakar Beracun tampak berdiri dengan mata memerah, "Aku ikut dengan Kalian!" Kata nyi laras santang sambil menyeka air matanya dengan sudut lengan bajunya.
.
"Tapi, Ibu!" Kindar Saka berusaha mencegah nyi laras santang.
.
"Kematian Damar Suta harus di bayar dengan nyawa Pendekar Naga Sakti itu!" Tegas nyi laras santang lagi. Kindar Saka tidak berani mencegah keinginan nyi laras santang itu.
.
"Aku juga ikut!" Ujar nyi Saweti tampak ikut berdiri menyusul.
__ADS_1
"Hati-hati Dinda," Kata Kala Abang sambil memegang tangan nyi laras santang. Wanita tua itu hanya mengangguk pelan. Mereka pun meninggalkan ruangan itu, kini hanya ada Kala Abang dan Damar Suta yang telah terbujur kaku itu, di dalam ruangan aula itu.
.
Beberapa orang murid Kala abang datang membawa keranda dari bambu, mereka bersiap mengurus jenazah Damar Suta itu.
.
.
Sementara itu di Desa Talang Kuda, tampak orang-orang saling bergotong royong menggali lobang kuburan, untuk teman mereka dan untuk mayat murid Perguruan Belati Terbang yang tewas semalam. orang-orang kampung yang terluka telah di rawat di rumah rumah warga. Wulan Ayu bersama Embun dan wanita desa lainnya membantu membuatkan ramuan obat.
.
Sedangkan Anggala tampak sibuk bersama Ki Sarta dan beberapa orang lainnya membangun kembali rumah warga yang hangus di bakar orang-orang Perguruan Belati Terbang tadi malam.
.
"Ki, bagaimana kalau kita bikin lobang besar, kita kubur mayat-mayat orang-orang Perguruan Belati Terbang itu dalam satu lobang saja!" Kata Anggala, memberi saran pada Ki Sarta.
.
"Terserah nak Anggala lah?" Bagaimana kawan-kawan?"
"Saya lihat kawan-Kawan sudah kelelahan, maka nya saya ajak seperti itu?" Timpal Anggala sambil duduk di bawah sebatang pohon.
.
"Ya, kami ikut saja Anggala, lagian mayat murid Perguruan Belati Terbang itu banyak sekali!" Jawab salah seorang penduduk, yang tampah sudah kelelahan, baju dan tubuhnya penuh dengan tanah.
.
Pendekar Naga Sakti pun segera membuat lobang mengunakan tenaga dalamnya, dengan sekali pukulan lobang besar terbuat, kini tinggal mereka merapikan dan mendatarkan dasarnya saja.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like
Koment
Vote
DanFavorit nya ya
Terima kasih banyak...
__ADS_1