Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Ambisi Ki Dukun


__ADS_3

Sementara itu di desa Talang kuda tampak para penduduk berjaga-jaga di sekitar rumah Ki Sarwala itu.


Mereka bersiap-siap kalau Kelompok Topeng Hitam itu menyerang lagi.


.


Anggala si Pendekar Naga Sakti dan Wulan Ayu si Bidadari Pencabut Nyawa pun tampak berada di tengah para penduduk itu. Para penduduk yang ada di sana merasa sangat terbantu dengan kehadiran dua pendekar muda itu.


.


"Nak Anggala dan nak Wulan makanlah dulu, Lastri dan ibunya sudah menyiapkan makanan," Ujar Ki Sarwala pada kedua tamunya itu.


.


"Ki, ajak kawan-kawan Aki, kita makan bersama," Pinta mak Tarsih pada suaminya itu.


.


"Baik Mak," Jawab Ki Sarwala sambil keluar rumah memanggil para penduduk yang berjaga-jaga di depan rumahnya itu.


.


"Ayo kawan-Kawan, kita makan bersama, makanan sudah siap!" Panggil Ki Sarwala.


.


"Ya Ki!" Para penduduk itu lansung masuk ke rumah Ki Sarwala. Mereka mengambil makanan dan kembali duduk di teras rumah Ki Sarwala itu, untuk menyantap makanan yang mereka ambil.


.


"Ayo nak Anggala, nak Wulan, kenapa pada diam, kita makan bersama," Ajak Ki Sarwala melihat Anggala dan Wulan Ayu duduk diam di dekat Lastri, dan mak Tarsih.


.


"Iya Ki, biarlah! Kawan-kawan kita duluan, kita kan tuan rumah," Jawab Anggala sambil tersenyum lebar.


.


"Iya nak Anggala, nak Wulan, Kalian belum makan dari pagi, malah sarapan paginya bertarung!" Seloroh mak Tarsih sambil tertawa memandang ke arah Wulan Ayu.


Si Bidadari Pencabut Nyawa itu hanya tersenyum membalas selorohan mak Tarsih itu.


.


"Ayo Wulan Kita makan, Lastri juga belum makan dari pagi," Ujar Lastri sambil bangkit dari duduknya dan menarik tangan Wulan Ayu. Gadis cantik anak Ki Sarwala itu tampang riang, karna ia merasa aman dengan adanya Anggala dan Wulan Ayu di rumahnya.


.


"Ayo, Lastri tidak sabaran!" Wulan Ayu pun bangkit dari duduknya, mereka berdua mengambil nasi dan ikan panggang masakan Lastri dan Mak Tarsih itu. Wulan Ayu lansung mengambilkan nasi dan lauk nya untuk Anggala.


.


"Ni Kak, dari tadi kok bengong, malah senyaman senyum," Seloroh Wulan Ayu sambil menyodorkan pinggan nasi ke arah Anggala.

__ADS_1


.


"Tidak, Aku hanya senang melihat para penduduk di sini begitu kompak," Jawab Pendekar Naga Sakti itu, ia mengambil pinggan berisi nasi yang di sodorkan Wulan Ayu ke arahnya.


.


"Ayo mak, kita makan bersama," Ajak Wulan Ayu sambil memandang ke arah mak Tarsih.


"Eh.. iya nak Wulan,"


.


Mereka makan bersama, ada yang memilih duduk di teras rumah, ada juga yang duduk di dalam rumah, bergabung dengan Anggala dan Wulan Ayu duduk di ruang depan rumah Ki Sarwala itu.


.


.


Kita tinggalkan Anggala, Wulan Ayu dan orang-orang kampung Talang Kuda yang sedang makan di rumah Ki Sarwala itu. kita kembali ke bekas perguruan Silat Melayu yang di tempati Kelompok Topeng Hitam itu.


.


"Tuja kita berangkat siang ini, kita porak-porandakan Desa Talang kuda itu, Kalau perlu kita habisi semua orang yang ada di sana!" Perintah Ki Dukun pada Tuja.


.


"Kita bawa berapa orang Anggota Ki?"


.


"Baik, Ki!" Jawab Tuja alias Manusia Batu itu. Tuja lalu meninggalkan ruangan tempat Ki Dukun menuju tempat anak buahnya berlatih di depan bangunan itu.


.


.


.


Matahari telah mulai condong ke barat, cahaya matahari yang cukup terik membuat cuaca terasa panas, para penduduk Desa Talang Kuda yang berjaga di sekitar rumah Ki Sarwala itu, tampak pada duduk di teras rumah. Mereka saling berbincang-bincang sambil berkipas-Kipas ke arah tubuh mereka.


Ada juga yang memilih tidur di atas dipan teras rumah Ki Sarwala itu. Anggala dan Wulan Ayu bersama Lastri tampak duduk di bawah sebatang pohon yang cukup rindang di samping rumah itu.


Anggala berbaring di atas tikar di samping Wulan Ayu. Wulan Ayu tampak asyik mengobrol dengan Lastri. Kipas Elang Perak di jadikannya kipas pengusir rasa panas uap mata hari.


Di tengah ke keasyikan mereka beristirahat dan mengobrol terdengar riuh suara derap kaki kuda menuju tempat itu. Tampak di kejauhan Ki Dukun dan rombongannya memacu kuda dengan begitu cepat.


.


Para penduduk yang berada di luar rumah berlarian ke dalam rumah mereka. Sedangkan yang berada di rumah Aki Sarwala lansung bangkit dan bersiap-siap menunggu kedatangan musuh meraka itu.


.


"Kak, bangun! Tampaknya Manusia Batu itu membawa anggota lebih banyak!" Wulan Ayu pun bangkit dari duduknya nya di ikuti Anggala si Pendekar Naga Sakti itu.

__ADS_1


Lastri lansung lari ke dalam rumahnya, untuk bersembunyi, ia dan mak Tarsih mengintip dari celah dinding rumah mereka.


.


Begitu sampai di depan rumah Ki Sarwala itu para anggota Kelompok Topeng Hitam itu lansung berlompatan mengepung rumah Ki Sarwala yang di jaga para penduduk itu.


.


"Ha ha ha Ki Sarwala! Sebaiknya Kau serahkan putrimu dan kedua orang pendekar itu! Jika Kalian ingin hidup!!"


Bentak Tuja dengan tawa membahana. Para penduduk yang mendengarnya menutup telinga. Karna telinga mereka terasa sakit karna suara Tuja itu.


.


Anggala dan Wulan Ayu melompat ke depan Ki Sarwala dan Para penduduk itu. Mereka berdua berdiri tidak jauh dari Tuja si Manusia Batu itu, jarak mereka hanya sekitar tiga tombak lagi.


.


"Heh.! Rupanya si pengecut Manusia Batu datang membawa kroco-kroco lagi!" Kata Wulan Ayu sambil tersenyum sinis ke arah Tuja itu.


.


"Huh! Kali ini Kau akan mati Bidadari Pencabut Nyawa!"


Bentak Tuja sembari menunjuk ke arah Wulan Ayu.


.


"Ha ha ha...! Rupanya di sini ada dua pendekar yang cukup Sakti, pantas saja anak buahku sampai dua kali mengalami kegagalan!!" Ki Dukun melompat begitu ringan dari atas Kudanya. Telapak kakinya tidak menimbulkan suara begitu menyentuh tanah, pertanda ilmu peringan tubuhnya begitu tinggi.


"Hati-hati! Pendekar, dia lah Dukun laknat itu," Ujar Sarja yang berdiri tidak jauh dari Ki Sarwala. Trisula sepanjang setengah hasta tergenggam erat di tangan pemuda yang menghianati Kelompok Topeng Hitam itu.


.


"Sarja! Di mana Sota? Kau harus membayar penghianatanmu dengan nyawamu!" Seru Tuja dengan suara membahana dengan penuh kemarahan, melihat anak buahnya berdiri membela orang yang jadi musuhnya.


.


"Orang orang golongan putih tidak seperti Kalian tokoh sesat, Sota hanya di jadikan tawanan,Tuja!" Sahut Sarja dengan sengit.


.


"Serang...!"


.


.


Bersambung....


Jangan lupa like, Koment dan favorit ya.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2