Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Ketenangan


__ADS_3

Semua orang di dalam warung Ki Syarip tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing tanpa mempedulikan siapa yang datang ke warung itu.


Khemkhaeng dan ke enam anak buahnya mengikatkan kuda mereka pada tempat yang telah di siapkan oleh Aki Syarip yang di sertai rumput untuk makan kuda.


khemkhaeng langsung berjalan masuk tanpa di curigai oleh Anggala dan Wulan Ayu maupun Ki Syarif dan mak Ripah, begitu mereka masuk dan duduk di sebuah meja yang masih kosong. Wulan Ayu datang menghampiri.


"Tuan-tuan, mau makan, atau hanya sekadar minum?" tanya Wulan Ayu sopan.


"Kami mau makan, antarkan kami makanan," jawab Khemkhaeng cukup singkat dan tenang.


"Ketua, apa kita langsung saja?" tanya Klaew Kla sambil memandangi Wulan Ayu dari belakang.


"Kita makan dulu, aku sudah cukup lapar," jawab Khemkhaeng singkat. Klaew Kla hanya mengangguk menerima keinginan Khemkhaeng tersebut.


Tidak lama kemudian Wulan Ayu di bantu Mak Ripah telah kembali membawa mampan bambu berisi piring berisi makanan pesanan Khemkhaeng tadi.


"Nini, apa gadis itu bergelar Bidadari Pencabut Nyawa?" tanya Khemkhaeng pada Mak Ripah setelah Wulan Ayu kembali ke belakang.


"Ya, benar. Apa kalian mengenalnya? Tapi mak lihat Wulan tidak mengenal kalian," jawab mak Ripah tanpa merasa curiga.


"Sayang sekali cantik-cantik, harus mati," kata Kla tanpa sadar.


"Maksud, Kisanak?" mak Ripah tersentak kaget.


"Up, tidak, tidak. Temanku salah bicara Nini," jawab Khemkhaeng sambil menoleh ke arah Kla dengan mata melotot.


Tanpa banyak bicara mak Ripah segera berjalan kebelakang dan menarik Wulan Ayu ke arah dapur.


"Nak Wulan. Perasaan mak jadi kurang enak. Mak mendengar orang-orang yang baru datang itu punya maksud hendak menghabisi kalian berdua. Sebaiknya, Nak Wulan dan nak Anggala cepat tinggalkan tempat ini," kata mak Ripah.


"Mak, dengan kami lari, bukan berarti bahaya bisa kami hindari. Kami tidak bisa meninggalkan Mak dan Aki saat ini, apalagi saat ada musuh yang mencari kami," sahut Wulan Ayu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi, Nak Wulan," wanita tua itu tampak cemas.


"Mak, tenanglah. Jika memang kami di takdirkan mati di sini untuk membela kalian, itu sudah takdir, Mak," kata Wulan Ayu.


"Ada apa, Dinda?" tanya Anggala yang baru datang ke dapur sambil meletakkan tampah bambu untuk tempat membawa makanan.


"Kata mak, orang-orang yang baru datang itu sepertinya mencari kita. Kemungkinan mereka adalah pembunuh bayaran yang di kirim oleh Partai Teratai Hitam," jawab Wulan Ayu.


"Biarkan saja, kita akan hadapi mereka."


"Tapi, perasaan mak jadi tidak enak, Nak Anggala. Mereka begitu tenang dan malah terlihat sangat santun, mak cemas kalian bisa mereka kalahkan," kata mak Ripah menjelaskan kegundahannya.


"Terima kasih, Mak. Tapi kami tidak akan meninggalkan kalian saat seperti ini," sahut Anggala sambil tersenyum.


"Ya, Mak. Mak tenang ya," pinta Wulan Ayu sambil merangkul bahu wanita tua itu. Mak Ripah hanya tersenyum kecut sambil membalas memeluk bahu Wulan Ayu.


Ada kecemasan di wajah wanita tua yang berumur hampir enam puluh tahun itu, walau Wulan Ayu dan Anggala bukan siapa-siapa bagi mereka. Namun kedua pemilik warung makan dan penginapan itu merasa sangat dekat dengan kedua pendekar muda itu.


Anggala dan Wulan Ayu seakan tidak mempedulikan Khemkhaeng dan keenam anak buahnya masih duduk di sebuah meja besar. Khemkhaeng sudah membayar makanan yang mereka pesan, tapi mereka memesan arak dan minuman teh jahe bikinan Aki Syarip.


"Hei, gadis cantik!" panggil Kla pada Wulan Ayu yang sedang membersihkan sebuah meja yang cukup kotor di tinggal penghuninya.


"Ya, Kisanak memanggil saya?" sahut Wulan Ayu ramah.


"Apa kalian berdua yang bergelar Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa?" tanya Kla, dan Klahan berbarengan.


"Yah, begitulah orang-orang memberi gelar pada kami berdua," sahut Wulan Ayu ringan seakan tanpa beban.


"Kau tau kenapa kami begitu lama disini?"


"Kalian lama disini karena menunggu pengunjung sepi, dan kalian memang sengaja menunggu kami berdua," sahut Wulan Ayu tenang.

__ADS_1


"Kurang ajar, baru kali ini aku bertemu sasaran yang begitu tenang. Aku telah membunuh ratusan orang cuma demi uang dan emas, tapi gadis ini begitu cantik menawan dan yang lebih menakjubkan ia begitu tenang. Padahal dia tahu kami adalah musuhnya," gumam Khemkhaeng dalam hati setengah menggerutu melihat Wulan Ayu begitu tenang.


"Heh! Gadis bodoh, apa kau tidak takut mati? Jelas-jelas, kami adalah orang yang akan membunuhmu. Kenapa kau tidak lari, jika masih ada kesempatan?" kata Kittibun merasa geram.


"Soal hidup dan mati, bukan di tangan manusia kawan, mati itu tergantung ajal. Jika belum ajal, nyawa berpantang pergi dari badan," jawab Wulan Ayu begitu tenang.


"Kurang ajar! Kau meremehkan kami Tujuh Pedang Pembunuh dari Muathai!" bentak Kittibun sambil bangkit dari duduknya dan mengacungkan pedangnya yang masih di dalam warangka kearah Bidadari Pencabut Nyawa.


"Apa perkataanku tadi bernada mengejekmu, Kisanak?" sahut Wulan Ayu malah tersenyum manis.


"Bangsat!" Kittibun langsung melompat ke arah Wulan Ayu sambil menyorongkan gagang pedangnya yang terbuat dari kayu agak panjang sekitar dua jengkalan orang dewasa ke arah dada Wulan Ayu.


Gadis cantik berbaju biru itu hanya tersenyum dengan begitu cepat ia melentingkan diri menghindar, setelah itu dengan sekali lompatan saja ia sudah berada di depan warung Ki Syarip dan berdiri tegak menghadap ke dalam.


Kittibun mengembor marah merasa kesal, kerena serangannya dapat di hindari oleh Wulan Ayu, dengan sekali lompatan yang begitu ringan laki-laki berperawakan tinggi hitam dengan kumis tebal dan rambut cepak berdiri sudah berada di depan Wulan Ayu.


"Kau akan mati hari ini!" kata Kittibun terdengar bergetar, nada suara yang begitu kejam tanpa perasaan dan keji.


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis, diam-diam murid dua Pendekar Pemarah itu mempersiapkan tenaga dalam tingkat tinggi di kedua telapak tangannya.


Tanpa tanggung lagi, Wulan Ayu mempersiapkan jurus 'Bidadari Kayangan'. tingkat empat di sertai pengarahan ilmu 'Baju Besi'. tingkat dua belas. Wulan Ayu memang sudah mempelajari ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat pertama hingga tingkat tiga, namun ia belum berani menggunakannya.


Kittibun tampak menatap tajam ke arah Wulan Ayu dengan tatapan mata yang tidak berkedip, tatapan laki-laki itu bagai mata singa yang siap menerkam mangsanya.


Wulan Ayu yang sempat menggunakan ilmu 'Mata Bidadari'.nya, hingga ia bisa melihat aliran tenaga dalam Kittibun yang tampak di kerahkan ke arah kepala tangan kiri dan di kaki kanannya.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2