Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum. 09


__ADS_3

"Aku lawanmu!"


"Heh!"


Ujang Akra tersentak kaget dan segera melentingkan tubuhnya ke udara dan menjejakkan kaki sekitar dua tombak didepan Pendekar Naga Sakti.


"Kau memang mencari mampus, anak muda. Jangan salahkan aku jika Perguruan Mawar Putih ini jadi kuburanmu!" kata Kuyung Ujang Akra terdengar datar suara laki-laki itu namun cukup mencerminkan sebuah kekejaman dan kesadisannya.


"Jika ajal sudah datang, aku tidak memilih di mana akan di kubur, Kisanak!" jawab Anggala datar. Namun begitu tenang tanpa amarah sedikit pun.


"Kau akan menyesal berani ikut campur urusan tiga Pendekar Hitam," geram Ujang Akra sambil bersiap membuka kuda-kudanya.


"Sebaiknya kau katakan siapa namamu, biar kuburanmu berbeda dengan kuburan para wanita itu!" tambah Ujang Akra mendengus dan ia pun segera merangsek maju ke arah Pendekar Naga Sakti.


"Heaaa...!"


Sebuah serangan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi di sarangkan kearah Pendekar Naga Sakti oleh Ujang Akra. Namun dengan begitu sigap dan gesit pendekar dari Lembah Naga itu menapaki serangan Pimpinan Tiga Pendekar Mesum itu.


Tap! Tap!


"Hih!"


Ujang Akra mengembor marah, merasa serangannya yang di perencanaannya ingin menjatuhkan Pendekar Naga Sakti dalam serangan pertama gagal.


"Kau hebat juga anak muda, tapi jangan berbesar kepala dulu. Kau akan merasakan pembalasanku..!" kata Ujang Akra setelah melompat mundur sekitar dua tombak ke belakang.


Anggala hanya tersenyum tipis mendengar ancaman musuh di depannya, memang Pendekar Naga Sakti jarang memakai ilmu 'Mata Malaikat'.nya, karena ilmu itu cukup menguras kemampuan tenaga dalam. Namun kesaktiannya dari Lesmana dan Pertapa Naga bukanlah ilmu yang bisa di anggap enteng.


Anggala hanya mengerahkan ilmu 'Delapan Langkah Mata angin'. sehingga ia bisa bergerak leluasa dengan begitu cepat dan ringan.


"Heaaah..!"


Ujang Akra kembali mencerca ke arah Pendekar Naga Sakti, kali ini laki-laki berpakaian serba hitam itu menyerang dengan sebuah tendangan yang juga mengandung tenaga dalam tinggi.


Tap!


Dengan jurus Tapak Naga, jurus dasar Pendekar Naga Sakti menapaki tendangan kaki Ujang Akra itu. Pengaliran tenaga dalam yang cukup membuat tendangan Ujang Akra itu bagai terhenti di tengah jalan.


"Sha..!"


Ujang Akra cepat menyusulkan kaki kirinya ke arah Pendekar Naga Sakti, dengan cepat sekali Anggala menarik tubuhnya ke samping kanan. Sedangkan telapak tangan kanannya cepat menggenggam telapak kaki Ujang Akra itu dan membantingnya ke arah belakang.


"Heh!"

__ADS_1


Ujang Akra tersentak kaget dan dan cepat membuat lompatan memampaatkan tenaga bantingan Pendekar Naga Sakti itu dan bersalto dua kali hingga menginjak tanah.


"Hukh!"


Walau berhasil menjejak kaki di tanah dengan tanpa terjatuh, Ujang Akra tampak terhuyung ke belakang. Namun ia cepat memperkuat kuda-kudanya.


"Kurang ajar, hebat juga anak muda ini. Siapa dia sebenarnya?" Ujang Akra membatin.


Sret!


Ujang Akra menghunus klewang hembrug dari warangka yang tersampir di balik punggungnya, mata klewang itu berwarna hitam kemerahan. Ujang Akra memainkan jurus-jurus klewangnya dan mengebutkan senjata itu di depan tubuhnya.


Wung! Wung!


Senjata di tangannya di putar bagaikan baling-baling, hingga klewang itu berputar membentuk bulatan bagai sebuah perisai. Angin dari putaran klewang itu mengarah ke arah Pendekar Naga Sakti.


"Panas! Angin putaran klewang itu mengandung racun!" Anggala membatin. Cepat Pendekar Naga Sakti meningkatkan tenaga dalam dan menggunakan ilmu 'Tirai Malaikat'.nya untuk melindungi diri dari hawa racun yang menyebar.


"Huh!"


Ujang Akra semakin mempercepat putaran klewangnya dan mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk mengirim hawa racun ke arah Pendekar Naga Sakti.


Cukup lama Ujang Akra mengerahkan tenaga dalam tinggi, tapi Anggala hanya tersenyum tipis menyungging memandang ke arahnya dan tampak begitu tenang. Hawa racun dari putaran klewang itu tidak berpengaruh sedikit pun pada Pendekar Naga Sakti itu.


"Heaah....!"


.


****


Beberapa saat sebelum Ujang Akra habis-habisan menyerang dan berusaha menjatuhkan Anggala. Ujang Seta yang mencoba merangsek ke arah Dewi Mawar tertahan oleh Bidadari Pencabut Nyawa yang melompat menghadangnya.


"Kau hadapi aku dulu, Kisanak!" bentak Wulan Ayu sambil berlagak pinggang di depan Dewi Mawar.


"Ha ha ha..! Rupanya kau ingin bermain-main denganku gadis cantik. Bagaimana kalau kita bermain-main di ranjang! Ha ha ha...!" tawa Ujang Seta dengan perkataan otak mesumnya.


"Ajak dedemit penunggu hutan sana, kalau aku hanya ingin mengoyak dadamu, seperti dada Si pengecut itu!" jawab Wulan Ayu lantang.


"Jadi kau yang membunuh Ujang Komar. Hmm.. Baiklah.. Aku tidak akan berbelas kasihan padamu, gadis cantik!" bentak Ujang Seta, "Kau akan merasakan pembalasanku!"


"O, jadi bajingan pengecut itu namanya Ujang Komar. Selanjutnya giliranmu!" balas Bidadari Pencabut Nyawa sengit.


"Heaaah...!"

__ADS_1


Teruskan Ujang Seta terdengar melengking membahana, maka seketika itu pula laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahunan dengan wajah yang lumayan tampan dengan kumis tipis di atas bibirnya. Kumis Ujang Seta terlihat rapi. Namun berbeda dengan penampilannya yang cukup rapi dan baik sipat dan sikap Ujang Seta bagai gondoruwo pemangsa manusia.


Entah berapa orang sudah gadis desa yang jadi korban n4fsu bej4t Pendekar Mesum itu.


Ujang Seta melepaskan sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi ke arah Bidadari Pencabut Nyawa, tapi gadis cantik berbaju serba biru itu tidak tinggal diam. Wulan Ayu menunggu serangan Ujang Seta itu dengan jurus 'Bidadari Kayangan'.


Tap!


Wulan Ayu menyambut tendangan Ujang Seta dengan telapak tangannya. Secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa memberikan balasan dengan mengibaskan telapak tangan ya ke arah pergelangan kaki Ujang Seta, tapi laki-laki itu cepat menarik kakinya ke belakang dan segera bersalto dua kali ke arah belakang.


"Kau hebat juga, Nisanak. Tapi aku tidak peduli, kau tetap harus mati untuk menebus kematian Ujang Komar!" ujar Ujang Seta terdengar datar namun begitu dingin menggambarkan sebuah kekejian dan dendam yang begitu dalam.


Set! Set!


Ujang Seta segera membuka jurus andalannya, sebuah jurus yang mirip jurus ular. Ujang Akra merapal sebuah jurus yang cukup menakutkan, yaitu jurus 'Jari Kematian'. seluruh jemari tangan Ujang Seta tersusun lurus merapat di depan dada.


Perlahan asap tipis berwarna putih kehitaman keluar dari arah kedua tangan Ujang Seta, setelah asap tipis itu sirna. Tangan Ujang Seta berubah menjadi merah kehitaman dari ujung kedua telapak tangannya sampai ke pangkal telapak tangan.


"Jurus 'Jari Kematian'.? Rupanya Kau memiliki jurus Jari Beracun itu, Kisanak?!"


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favorit


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2