Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kala Abang dan Kala Ireng


__ADS_3

"Biarkan dia pergi! Dinda!!" Seru Anggala, mendengar seruan Kekasihnya itu Wulan Ayu lansung menghentikan langkahnya.


.


"Kakak selalu saja menghalangi dinda mengejar orang-orang jahat itu!" Rutuk Wulan Ayu sambil tersenyum, tangan kanannya bergerak mencubit lengan Pendekar Naga Sakti itu.


.


"Aduh...!" Anggala pura kesakitan. Melihat sang kekasih mengaduh si Bidadari Pencabut Nyawa malah memeluk lengan Pendekar Naga Sakti itu.


.


"Jangan! Ah, nggak enak pada orang-orang kampung," Kata Anggala sambil tertawa. Mereka berjanji ke arah orang-orang Perguruan Belati Terbang yang masih hidup, Mereka sudah tidak mampu melarikan diri, karna tubuh mereka terluka.


.


"Kak, kita apakan mereka? Jika kita biarkan mereka pergi, mereka akan kembali dengan anggota yang lebih banyak lagi!" Tanya Wulan Ayu sambil memandang ke arah orang-orang Perguruan Belati Terbang itu.


.


"Kita peringatkan mereka, untuk terakhir kalinya Dinda! Jika mereka kembali lagi, ya suka suka dinda lah," Jawab Pendekar Naga Sakti itu, di tepuk lembutnya bahu sang Bidadari Pencabut Nyawa dengan mesra.


.


"Kalian dengar! Jika Kalian masih ingin hidup cepat tinggalkan tempat ini! Tapi kuburkan dulu mayat-mayat kawan Kalian itu terlebih dahulu!" Seru Wulan Ayu. Mendengar perkataan Wulan Ayu itu orang-orang Perguruan Belati Terbang itu lansung berusaha menguburkan mayat kawan-kawannya.


.


"Suruh saja mereka pergi pendekar, biar mayat-mayat itu kami yang akan menguburnya!" Pinta salah seorang masyarakat desa itu yang telah berkumpul, mereka membawa cangkul dan peralatan untuk menggali kubur.


.


"Baiklah Ki," Jawab Anggala sambil memandang ke arah aki-aki yang berucap tadi.


"Kalian boleh pergi! Jika aku melihat Kalian di kelompok Perguruan Belati Terbang itu. Aku tidak akan mengampuni nyawa Kalian lagi!"


Seru Anggala dengan begitu lantang. Mendengar seruan Anggala itu murid-murid Iblis Belati Terbang itu, lansung ambil langkah seribu walau keadaan mereka tertatih-tertatih.


.


"Sebelumnya Saya ucapkan terima kasih banyak kepada bapak-bapak di kampung ini yang mau membantu menguburkan mayat orang-orang Perguruan Belati Terbang itu," Ucap Anggala pada orang-orang kampung.


.


"Tidak usah berterima kasih Pendekar, kami lah yang harus berterima kasih karna di bantu mengusir penjahat yang selalu membuat onar di kampung kami ini," Jawab Salah seorang dari orang kampung itu, yang lain hanya ikut mengangguk menyetujui perkataan teman mereka itu.


.


"Ya sudah nak Pendekar istirahat lah dulu, biar kami yang mengurus mayat-mayat itu,"


"Ya, Ki," Jawab Anggala singkat.


Anggala dan Wulan Ayu kembali ke warung Aki Sarta itu, mereka di sambut hangat pengunjung warung, sedangkan Ki Sarta lansung tergopoh-gopoh menyongsong Anggala dan Wulan Ayu.


.


"Kalian tidak apa-apa? Nak Pendekar?" Tanya Ki Sarta.


"Seperti yang Aki lihat, kami baik-baik saja Ki," Jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum. Wulan Ayu lansung menghampiri Embun dan ibunya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


.


"Kak Wulan hebat sekali, murid-murid Perguruan Belati Terbang itu habis di hajar senjata rahasia Kakak!" Puji Embun sambil tersenyum, ia meletakkan secangkir air teh hangat di depan Wulan Ayu, "Minum Kak, Kakak pasti haus,"


"Terima kasih banyak Embun," Ucap Wulan Ayu sambil tersenyum, ia lansung meminum teh pemberian Embun itu, " Kakak tidak sehebat yang Embun Katakan kok," Tambah Wulan merendah.


.


"Memang seorang Pendekar hebat tidak pernah menyombongkan diri ya,"


.


"Embun bisa saja memuji," Wulan Ayu tersenyum memandang gadis manis anak Ki Sarta itu.


.


"Kenapa Kak Laras senyum-senyum? Ada yang lucu dengan Embun?"


"Tidak, tidak.. Embun cantik juga ya," Puji si Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum simpul.


"Kak, gelar Kakak menakutkan juga ya?"


"Kok menakutkan?"


"Bidadari Pencabut Nyawa! Apa tidak menakutkan Kak?"


"He he he...! Embun benar, gelar Kakak jika di dengar lumayan juga,"


"Tapi sesuai ya Kak?"


"Sesuai maksud Embun?"


"Emang menurut Embun Kakak cantik?"


"Cantik sekali Kak!" Puji Embun lagi.


"Embun pintar memuji," Ujar Wulan Ayu sambil tertawa lepas.


"Enak nih ngobrol, sambil minum teh!" Anggala tampak berdiri di samping meja yang di gunakan Embun dan Wulan Ayu itu


"Kak Anggala mau? Embun bikin kan?" Embun memberi tawaran.


"Boleh! Jika Embun tidak keberatan?"


"Bentar ya, embun bikin dulu," Jawab Embun seraya bangkit dan berjalan ke arah dapur.


"Kak Kapan kita meneruskan Perjalanan kita?" Tanya Wulan Ayu.


"Jika sekarang kita tinggalkan Desa ini, rakyat Desa ini yang akan sengsara karna kita!"


"Maksud Kakak?"


"Orang-orang Perguruan Belati Terbang itu akan datang kesini, dan akan menyakiti orang-orang kampung. Apalagi mereka tau kalau orang-orang kampung mendukung kita, jadi kita harus di sini dulu beberapa hari," Jawab Anggala lagi.


.


.


Kita tinggalkan Anggala yang lagi di warung Ki SartSementara itu di Perguruan Belati Terbang, para murid Perguruan yang lagi asyik berlatih di kejutkan dengan kedatangan Kala Pati dalam keadaan yang cukup memprihatinkan darah mengalir dari tubuhnya yang terkena senjata rahasia Bidadari Pencabut Nyawa tadi, untunglah ilmu kesaktian dan tenaga dalam yang di miliki Kala Pati itu tinggi, sehingga ia bisa menghentikan pendarahan di lukanya.

__ADS_1


.


Beberapa orang murid senior yang mengawasi latihan itu, lansung menyongsong Kala Pati dan lansung membantunya.


"Apa yang terjadi Sesepuh?" Tanya salah seorang murid senior itu.


"Jangan banyak tanya dulu, cepat bawa aku menemui Kanda Kala Ireng dan Kanda Kala Abang!" Tegas Kala Pati sambil terbatuk-batuk, dari sela bibirnya menalir darah segar. Tanpa banyak tanya lagi para murid senior itu lansung membawa Kala Pati ke dalam bangunan besar terbuat dari kayu jati itu.


.


Melihat Kala Pati di papah para muridnya, Kala Ireng dan Kala Abang lansung menemui adik mereka itu.


"Siapa yang berani berbuat ini padamu Kala Pati?" Tanya Kala Abang. Kala Abang terkenal dengan kesaktian ilmu pisau menembus rohnya. Pisau Belati Kala Abang terbuat dari tenaga dalam yang bentuk mata pisau, jika orang biasa terkena jurus belati menembus rohnya. orang itu akan tewas tanpa mengalami luka luar.


.


Sedangkan Kala Ireng menggunakan pisau belati yang bisa ia kendalikan seperti memiliki tali. Kala Ireng tidak pernah membawa pisau belati lebih dari selusin, karna pisau belatinya tidak akan hilang bila di lemparkan ke arah sasarannya.


.


Kala Abang dan Kala Ireng lansung berusaha mengobati luka di tubuh Kala Pati itu, setelah luka Kala Pati agak sembuh barulah kedua saudaranya itu bertanya.


.


"Apa yang terjadi Kala Pati? Siapa yang berani melukaimu dengan senjata rahasia itu,? Tanya Kala Abang lagi. karna Kala Pati belum menjawab pertanyaan nya tadi.


.


"Aku bertarung dengan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa Kanda," Jawab Kala Pati. Ia masih lemah, namun ia sudah berusaha duduk di atas dipan di sebuah kamar, tempat khusus pengobatan untuk para murid Perguruan Belati Terbang itu.


.


"Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa? Para pendekar yang lagi jadi pembicaraan di kalangan dunia persilatan baru baru ini?"


.


"Ya, Kanda, Dia murid Lesmana, aku terkena senjata rahasia dari kipas elang perak milik bidadari Pencabut Nyawa itu," Jelas Kala Pati.


.


"Bangsat! Apa keperluan dua pendekar dari barat itu di daerah selatan ini?"


"Entahlah Kanda, tampaknya kita bertemu lawan yang sepadan!"Jawab Kala Pati lagi.


.


.


Bersambung


.


Jangan lupa like


Koment


Vote


dan Favoritnya ya.

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2