
"Bangsat.....!" Macan Kuning memggembor marah sembari melompat ke arah Aruma Sakta dan Cakradana.
"Tap!
Aruma Sakta cepat bergerak menapaki tendangan Kerta Sura yang berniat menyerang Cakradana. Aruma Sakta yang memakai tenaga dalam cukup tinggi berhasil menggagalkan serangan Macan Kuning itu.
"He he... Rupanya kau cukup berkampuan Ketua Perguruan Bambu Kuning!" dengus Macan Kuning berusaha tertawa menekan amarahnya.
"Cobalah jurus 'Macan Membelah Bukit'. ku ini! Heaaah...!" Kerta Sura kembali melompat ke arah Aruma Sakta sambil mengayunkan kedua tangannya yang membentuk cakar macan.
Wut! Wut!
Ayunan tangan Kerta Sura begitu cepat membelah udara hingga mengeluarkan suara memgaung, udara di sekitarnya berubah panas akibat terpaan tenaga dalam tokoh silat satu itu.
Tiga Macan, sebenarnya tiga orang bersaudara itu boleh di bilang bukan golongan hitam. Sepak terjang ketiga tokoh silat itu memang terkadang membuat orang-orang dari golongan putih bingung, karena terkadang mereka memihak golongan hitam terkadang memihak golongan putih.
Entah kenapa ketiga tokoh silat itu mau menjadi antek-antek Partai Teratai Hitam, sehingga mereka mau menjadi utusan Partai Teratai Hitam untuk menyampaikan undangan yang di sebarkan oleh Fhatik dan Setan Merah Pencabut Nyawa.
Pertarungan kedua tokoh silat tingkat tinggi itu pun berjalan alot, serangan Kerta Sura yang memperlihatkan jurus-jurus Macan Hitam milik ketiga tokoh silat itu tampak masih mampu di imbangi oleh Aruma Sakta.
Sementara itu Aruni memperhatikan jalan pertarungan sang kakak dengan mata tak berkedip sedikitpun. Melihat dari tenaga dalam yang di miliki kedua orang itu cukup jauh, membuat Aruni merasa was-was melepas sang kakak.
Memang di banding Aruma Sakta, Aruni memang mempunyai tenaga dalam yang lebih tinggi dan mempunyai tulang yang lebih bagus di banding sang kakak.
Aruni bisa saja maju dan ikut mengeroyok Kerta Sura, namun sebagai pendekar yang memiliki sipat satria, semua itu tidak mungkin di lakukan. Apalagi mengingat nama besar Ki Gading Mageli yang cukup di segani di antara orang-orang dunia persilatan.
Wuk! Wuk!
Plak!
Sebuah sambaran cakar Macan Kuning berhasil di tapaki oleh Aruma Sakta, namun karena kalah tenaga dalam ketua Perguruan Bambu Kuning itu tampak terjajar kebelakang sekitar tiga langkah.
__ADS_1
Kerta Sura yang memamfaatkan keadaan itu, dengan begitu cepat bergerak memberikan sebuah tendangan ke arah Aruma Sakta.
Buak!
"Akgh...!" Aruma Sakta mengeluh tertahan sambil terhuyung ke belakang. Aruma Sakta tampak memegangi dada, darah tampak mengalir dari sela bibirnya.
"Kak, Kakak tidak apa-apa?" Aruni cepat melompat menahan tubuh Aruma Sakta yang hampir jatuh.
"Uhuakh...!" Aruma Sakta tampak memuntahkan darah segar, pertanda ia mengalami luka dalam yang cukup serius.
"Kak Aruma, istriahat dulu, biar aku yang menghadapi bajingan itu!" kata Aruni tampak mulai geram. Aruma Sakta hanya mengangguk lemah. Cakradana pun ikut membantu Aruma Sakta untuk menjauh.
"Aku sekarang lawanmu, Bajingan!" bentak Aruni sambil bangkit dari dan berjalan kearah Kerta Sura.
"Kau pun, akan ku beri pelajaran. Gadis tengik!" bentak Kerta Sura cukup lantang. Si Macan Kuning langsung melompat ke arah Aruni sambil menyarangkan sebuah jurus cakar.
"Hup!" dengan begitu sigap dan lincahnya Pendekar Kelelawar Putih melentingkan tubuhnya ke udara menghindari cercaan cakaran Si Macan Kuning. Pendekar Kelelawar Putih langsung meluruk turun sambil memberikan serangan balasan berbentuk cakar ke arah Macan Kuning.
"Hup!" begitu cepat Aruni menggeser tubuhnya ke arah bawah, sehingga srengan Kerta Sura luput dari sasarannya.
"Hiyaaat...!" sebuah tendangan dari arah bawah di berikan Aruni dengan begitu cepat.
Buak!
"Akgh...!" Kerta Sura mengeluh tertahan ketika pinggang bagian kanannya terhantam tendangan Aruni yang cukup keras. Kerta Sura tampak terhuyung ke arah samping, jika ia tidak cepat menapakkan telapak tangannya di tanah tentu saja si Macan Kuning akan jatuh.
"Kurang ajar, gadis ini begitu lincah. Tidak salah jika Pendekar Kelelawar Putih memberikan pedang pusaka itu padanya," gumam Kerta Sura membatin.
"Sebaiknya kau cepat tinggalkan tempat ini. Katakan pada Setan Merah Pencabut Nyawa bahwa Perguruan Bambu Kuning tidak menerima undangannya!" kata Aruni lantang.
"Kau baru bisa menyentuhku, jangan kau kira, kau sudah menang gadis tengik!" balas Kerta Sura tidak bergeming.
__ADS_1
Sret!
Kerta Sura menghunus sebilah keris yang dari tadi terselip dibalik pinggangnya. Keris itu berwarna hitam kemerahan memancarkan cahaya redup pertanda keris itu menyimpan racun mematikan.
"Keris Macan Hitam?!" Aruma Sakta tampak cukup terkejut melihat Kerta Sura menghunus keris dari balik pinggangnya.
Sring!
Aruni langsung menghunus pedang kelelawar putih yang tersampir di dalam warangka di balik punggungnya. Pedang itu tampak berkilauan terkena pancaran sinar mentari yang mulai naik di atas kepala.
"Aruni, hati-hati!" seru Aruma Sakta tampak mencemaskan adik bungsunya itu.
"Baik, Kak!" jawab Aruni lantang sambil bersiap dengan pedang kelelawar putih di depan dada.
"Kau akan mati hari ini, Pendekar Kelelawar Putih!" terdengar datar suara Kerta Sura tersebut, namun menggambarkan kekejaman dan kebengisan.
"Soal mati, kau bukan malaikat pencabut nyawa, macan Kuning!" balas Aruni sengit dengan suara lantang. Aruni pun tampak menyiapkan jurus-jurus pedang kelelawar putih andalannya.
"Bangsat! Heaaa.....!"
Bentakan nyaring Kerta Sura sembari melesat cepat ke arah Aruni.
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1