
Pagi yang begitu indah, matahari tampak cerah menyinari di ufuk timur. Burung-burung berkicau menyambut hari.
Orang-orang tampak lalu lalang di sebuah Desa kecil di pinggiran sungai Batang Hari. Tampak tiga ekor kuda berlari cukup kencang menyusuri jalanan di tengah Desa. Para penduduk tampak menepi memberi jalan pada penunggang kuda itu.
Tiga orang yang ada di atas kuda itu adalah tiga pendekar muda dari Bukit Tambun Tulang, yaitu Singo Abang dan kedua adiknya Singo Jayo dan si cantik Singo Sarai.
Sebuah keris tampak terselip di pinggang ketiga murid Datuk Panglima Hijau tersebut. Ketiga murid yang melakukan perjalanan turun gunung memenuhi perintah sang guru mencari keberadaan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.
Ketiga murid Perguruan Tiga Harimau itu di perintahkan membantu Pendekar Naga Sakti dan kekaksihnya.
Kabar tentang ramalan kekacauan dunia persilatan Pulau Andalas dan hilangnya pendekar dari Lembah Naga, membuat Datuk Panglima Hijau resah. Sehingga ia memutuskan memberi bantuan dengan mengirimkan ketiga murid tertuanya itu.
Tidak terasa matahari telah melewati atas kepala, ketiga pendekar muda kakak beradik itu masih memacu kuda mereka tanpa henti.
Kini mereka sudah memasuki sebuah desa yang tampak cukup ramai penduduknya. Singo Abang memperlambat laju kuda yang di tungganginya begitu memasuki daerah perumahan penduduk.
"Sebaiknya kita mencari warung, perut pun sudah terasa kosong. Kuda kita butuh makan," kata Singo Abang pada kedua adiknya setelah memelankan laju kudanya.
"Kami ikut saja, Abang Singo saja. Iya'kan Arai," jawab Singo Jayo meminta persetujuan adiknya.
"Ya, aku setuju dengan Abang Jayo," timpal Singo Sarai sambil tertawa kecil.
"Baiklah, kita cari warung untuk istirahat," kata Singo Abang lagi, ia memacu pelan kudanya menyusuri jalanan kampung.
Sementara itu di tempat yang bertaut jauh dengan ketiga pendekar dari Bukit Tambun Tulang, sepasang pendekar muda tampak memacu kuda mereka menjauhi Desa Batu Ampar tempat mereka menginap tadi malam.
Sepasang pendekar muda itu adalah Anggala dan Wulan Ayu, kuda mereka tampak berlari kencang menyusuri jalanan hutan.
Matahari tampak mulai condong ke barat, sebentar lagi sore pun menjelang. Namun perjalanan mereka tampaknya masih cukup jauh, belum ada tanda-tanda mendekati pedesaan.
Di sebuah Desa kecil yang jauh di depan Anggala dan Wulan Ayu, desa itu adalah Desa Gragan. Suasana Desa yang cukup tenang menjelang sore itu jadi begitu ramai.
__ADS_1
Sekitar sepuluh orang pengendara kuda tampak mampir ke warung ujung Desa itu.
"Ayo, kita pergi," beberapa orang pengunjung warung Ki Syarip tampak tergesa-gesa menyelesaikan makan mereka. Begitu selesai para tamu yang terdiri dari penduduk itu segera meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.
"Apa kita porak-porandakan tempat ini, Kak?" salah seorang dari pengunjung yang baru datang itu bertanya pada salah seorang temannya yang lebih tua.
"Kau, bodoh. Jika kau buat keributan sebelum makan, apa perutmu itu akan ada isinya," ujar laki dengan pedang besar di punggungnya. Di bagian gagang pedang besar di punggung laki-laki itu terukir kepala seekor burung gagak berwarna putih keemasan.
"Gendut, gendut..., cobalah berpikir jernih," ujar seorang laki-laki berambut panjang dengan gaya rambut di kucir.
"Kakak, Gagak Kuning selalu saja meledekku," dengus laki-laki yang di panggil si gendut, sepasang golok dengan ukiran gagak berwarna putih perak tampak terselip di pinggangnya.
"Ki, siapkan kami makanan," ujar laki-laki yang di panggil Gagak Kuning itu pada Ki Syarip.
"Baik, Tuan," jawab Ki Syarip seraya berjalan ke arah dapur dan menemui istrinya yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Terasa sekali ya Ki, nggak ada nak Wulan, biasanya dua pendekar itu selalu membantu pekerjaan kita," kata mak Ripah setengah berbisik.
Belum selesai rombongan Gagak Kuning makan. Dua ekor kuda berwarna hitam tampak memasuki halaman warung Ki Syarip.
Melihat dua orang yang ada di atas kuda itu wajah mak Ripah tampak berubah senang, "Ki, lihat siapa yang kembali," tunjuk mak Ripah menunjuk dengan bibirnya.
Wulan Ayu dan Anggala dengan tenang langsung masuk ke dalam warung setelah mengikatkan kuda mereka di samping warung.
"Wah, sibuk ya, Mak," sapa Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Kalian baru sampai, sebaiknya makan dulu. Kalian tentu lapar," jawab Mak Ripah sambil tersenyum.
"Iya, Mak, tapi saya lihat mak begitu sibuk. Apa tidak sebaiknya saya bantu mak dulu," kata Wulan Ayu lagi.
"Tidak apa-apa, Nak Wulan, kalian duduk dan makan dulu. Setelah itu terserah nak Wulan Ayu mau bantu mak atau istirahat?" jawab mak Ripah lagi.
__ADS_1
"Ya, Nak. makan dulu lah..," ujar Ki Syarip sambil tertawa keci, walau pemilik warung yang hampir berumur enam puluh tahunan itu tahu akan terjadi keributan di tempat itu, namun ia merasa tenang karena dua pendekar muda itu sudah datang.
Setidaknya tidak akan terjadi kesemena-menaan terhadap penduduk dan dirinya.
Anggala dan Wulan Ayu memang belum makan setelah makan tadi pagi di warung di Desa Batu Ampar, jadi mereka akhirnya memilih mengisi perut dulu baru membantu Ki Syarif dan mak Ripah bekerja melayani pengunjung warung.
"Rupanya kalian yang sudah mengganggu adik-adik seperguruan kami, kisanak!" terdengar suara Gagak Kuning tampak berdiri dari tempat duduknya dan berjalan begitu tenang ke arah meja yang di tempati oleh Anggala dan Wulan Ayu.
Anggala dan Wulan Ayu hanya diam sambil terus melahap makanannya tanpa mempedulikan Gagak Kuning yang sudah berdiri di depan mereka.
"Heh! Apa kalian berdua tuli, hah!" bentak Gagak Kuning sambil memegang bagian tepi meja dan berniat membalikkan meja itu.
"Maaf, apa kisanak berbicara dengan kami?" jawab Anggala pura-pura tidak mengerti.
"Hup!" Gagak Kuning berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk membalikkan meja itu, namun meja itu bagai terpahat di tanah.
Anggala yang sudah mengalirkan tenaga dalam melalui kakinya sehingga meja itu tidak dapat di balikkan oleh Gagak Kuning.
Sementara Wulan Ayu tampak tenang-tenang saja melahap makanannya. Gadis cantik berpakaian serba biru itu juga mengalirkan tenaga dalam ke arah dua sikunya yang bertengger di atas meja.
"Percuma kisanak, kau tidak akan mampu membalikkan meja ini," kata Wulan Ayu sambil mengambil cangkir bambu dan minum air putih.
"Kau menantangku, hah!" bentak Gagak Kuning mulai gusar karena usahanya tidak membuahkan hasil. Wajah Gagak Kuning mulai memerah karena mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya, namun tetap saja meja itu tidak bergeming.
Prak!
Meja itu tampak terbelah menjadi dua ketika tenaga dalam ketiga orang itu saling bertabrakan.
.
.
__ADS_1
Bersambung...