
Elang Kuning meringis menahan sakit. Pukulan tangan kosong Jagat Alam berhasil menghantam dada kirinya. Cakar kuku tangan Jagat Alam berhasil merobek sedikit baju Elang Kuning. Daging putih mulus menonjol itu jadi terlihat.
"Hehehe..! Gadis cantik, perhiasanmu terlihat. Sebaiknya Kau menyerah. Seranganku selanjutnya tidak hanya akan merobek bajumu," decak Jagat Alam dengan senyum kemenangan.
"Bangsat! Kau Warok Singa Merah! Aku akan mengadu nyawa denganmu!" geram Dewi Pingai dengan melintangkan pedang di depan dadanya. Gadis cantik itu cepat menancapkan pedang ditangan sebelah kirinya ketanah, dan segera mengusap bajunya yang terkoyak. Sekejap mata bajunya kembali utuh.
"Hehehe...! Gadis cantik, sebaiknya kita sudahi pertarungan ini, Kau akan kuampuni asal Kau mau jadi istriku, hehehe...!" tawa Jagat Alam terkekeh.
"Cih.. Siapa sudi menjadi istri iblis tua sepertimu, bangsat!" hardik Dewi Pingai sambil mengacungkan pedang di tangan kanannya kedepan.
"Hehehe..! Baiklah kalau itu maumu cantik, jangan salahkan aku jika wajah cantikmu rusak oleh cakar singaku ini! Hehehe...! tawa Jagat Alam menggema dengan suara sedikit parau.
"Majulah... Iblis laknat.. Aku siap mengadu nyawa denganmu!" tantang Dewi Pingai sambil mencabut pedangnya dari tanah.
"Hiyaaa...!"
Elang Kuning melompat kembali dengan begitu cepat, kilatan pedang di tangan Elang Kuning berkilauan bagai kilat.
Ting! Ting! Ting!
Setiap sabetan dan tebasan yang dilakukan oleh Elang Kuning di tangkis dengan kedua tangannya yang berbentuk cakar singa oleh Jagat Alam.
"Hehehe...! Gadis cantik, percuma Kau mencoba menyerangku, Kau tidak akan sanggup mengalahkan ilmu singa merahku, hehehe..!" tawa Jagat Alam terkekeh sambil terus menapaki serangan Elang Kuning tersebut.
Sret!
"Ah...!"
Elang Kuning cepat melompat mundur sekitar tiga tombak kebelakang, ketika baju kuning kesayangannya tersambar cakar Jagat Alam. Jagat Alam yang tampaknya begitu berniat mengalahkan Elang Kuning melesat menyerang tanpa memberi jeda. Elang Kuning terkejut melihat serangan musuh yang begitu berna4fsu.
"Bangsat! Manusia iblis ini tidak memberikan kesempatan padaku untuk mengambil napas," guman Dewi Pingai membathin. Saat serangan cakar Jagat Alam hampir mengenainya. Elang Kuning hanya bisa berusaha menghindar. Namun kecepatan serangan Jagat Alam yang meningkat drastis dengan ilmu singa merahnya.
Buak!
Dewi Pingai yang sudah pasrah perlahan membuka matanya. Begitu ia melihat kedepan tampak Bidadari Pencabut Nyawa dan Elang Merah telah berada di depannya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Pingai?" tanya Dewi Arau pada sang adik. Bidadari Pencabut Nyawa tampak berdiri disamping Elang Merah sambil mengacungkan pedangnya di depan dada.
"Hehehe...! Tampaknya para gadis cantik mau mengeroyokku, boleh-boleh... Jika kalian ingin merasakan cakar singaku ini," kata Jagat Alam menyeringai.
"Kita harus berhati-hati, ilmu singa merahnya, cukup berbahaya, selain kebal senjata. Dia juga memiliki kecepatan yang begitu cepat," papar Bidadari Pencabut Nyawa. Dewi Arau hanya mengangguk, di sudut bibir kedua gadis itu masih terlihat bekas darah, pertanda keduanya sudah terluka dalam.
"Kak, kalian sudah terluka dalam, jangan terlalu memaksakan diri membantuku. Aku masih bisa menghadapi iblis satu ini," ucap Dewi Pingai.
"Kau kira kami tidak melihat, Kau hampir jadi santapan empuk cakar singa Jagat Alam itu, jika tidak melihat Kau hampir dikalahkan, kami tidak akan membantumu," tegas Dewi Arau.
"Tapi kalian sudah terluka," tukas Elang Kuning lagi.
"Kami masih sanggup bertarung, tapi kita harus bekerjasama, jika ingin mengalahkan iblis singa itu," urai Wulan Ayu.
"Baiklah kita tidak punya pilihan lain, selain mengeroyok. Mudah-mudahan tubuhnya tidak ikut kebal," decak Dewi Arau sambil menghunus sepasang pedang dari balik punggungnya itu.
Sementara itu Dewi Aurora yang terlibat pertarungan sengit dengan Jagat Pati, tampak berlompatan dari satu pohon kepohon yang lain, mereka berdua masih mengadu kesaktian ilmu pedang yang mereka miliki. Namun dilihat dari segi penyerangan Dewi Aurora tampak berada di atas angin.
Sambaran pedang di tangan kanan dan kiri gadis cantik berbaju hijau itu membuat Jagat Pati tampak harus bergerak mundur. Sabetan dan dan tebasan dari 'Jurus Pedang Elang Menembus Awan'. milik Elang hijau tersebut membuat Jagat Pati hanya mampu bertahan, tidak dapat menyerang kembali.
"Kau merapal jurus andalanmu Warok Singa Merah. Aku juga masih punya simpanan," geram Dewi Aurora dalam hati. Dewi Aurora pun bersiap dengan 'Jurus Pedang Elang Menembus Awan tingkat tujuh, Kepakan Elang Kayangan.
"Heaaa....!"
Jagat Pati merangsek dengan cukup cepat. Keris berwarna hitam di tangannya bergerak bagai kilat mengelingi tubuh Jagat Pati bagai bayangan.
Trang! Trang! Trang!
Suara pedang dan keris beradu diudara memekakkan telinga, terkadang bunga api ikut memercik saar kedua mata senjata itu bergesekan. Dewi Aurora dan Jagat Pati bergerak bagai bayangan yang bergerak berpindah-pindah.
Tidak kurang dari satu jam kedua pendekar tersebut mengadu kecepatan dan ilmu pedang yang mereka miliki. Namun belum juga ada yang keluar sebagai pemenangnya. Jagat Pati walau sudah cukup tua, namun memiliki pengalaman di dalam pertarungan.
Sedangkan Dewi Aurora yang masih muda tentu mempunyai semangat dan tenaga yang kuat. Sehingga pertarungan keduanya pun berlangsung seimbang.
"Hup! Hiyaaa...!"
__ADS_1
Kali ini Elang Hijau meningkatkan serangannya dengan mengalirkan tenaga dalam kearah kedua pedangnya. Sehingga pedang putih ditangan Elang Hijau itu bersinar putih menyilaukan.
Srat!
"Aakh...!"
Jagat Pati terhuyung kebelakang sekitar tiga tombak sambil memegangi bahu kanannya yang tampak tersambar ujung pedang Elang Hijau.
Bibir Jagat Pati tampak meringis menahan sakit, darah mengucur deras dari lukanya. Cepat tokoh hitam itu mengalirkan hawa murni kearah lukanya.
Tidak butuh waktu lama darah yang mengalir dari luka di bahu Jagat Pati tersebut berhenti. Namun masih menampakkan luka yang perlahan-lahan menutup.
"Hiyaaa...!"
Elang Hijau melesat dengan sabetan cepat kearah Jagat Pati, dengan cukup cepat Warok Singa Merah kedua tersebut melentingkan tubuhnya keudara. Sehingga serangan pedang Elang Hijau hanya mengenai angin kosong. Namun Dewi Arau tidak tinggal diam. Gadis cantik itu terus menyerang dengan begitu cepat.
"Bangsat! Tampaknya aku juga harus menggunakan 'Ajian Singa Merah'. Jika tidak ingin di bantai oleh jurus pedang gadis ini," guman Jagat Pati dalam hati. Jagat Pati segera melompat mundur menjauh untuk merapal 'Ajian Singa Merah'.
Cahaya merah mulai menyelubungi tubuh Jagat Pati, diikuti asap tipis berwarna putih kehitaman.
Begitu asap tipis itu perlahan sirna. Tampak wajah dan tangan Jagat Pati telah berubah menjadi merah, kedua tangannya berubah menjadi sepasang cakar singa.
"Ajian Singa Merah! Aku akan mencoba 'Ajian Cakar Elang Kayangan'. yang pernah diturunkan kakek guru padaku," guman Dewi Aurora hampir tidak terdengar, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Dewi Aurora segera menyarungkan kedua pedangnya kedalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
Dewi Aurora segera meningkatkan tenaga dalam nya kearah kedua telapak tangannya, yang ia rapatkan didepan dada. Tidak lama kemudian Dewi Aurora melepaskan rapatan kedua telapak tangannya. Kedua telapak tangan Elang Hijau tersebut telah berubah menjadi keperakan.
"Hup!"
Dewi Aurora memasang kuda-kuda siap bertarung, kedua telapak tangannya membentuk cakar elang, Cahaya putih keperakan menyinari kedua tangan Elang Hijau itu.
.
.
Bersambung...
__ADS_1