
"Siapa mereka Ki?" Tanya Wulan Ayu sambil mengambil tampah yang di jadikan tempat membawa makanan ke meja para tamu warung.
"Mereka itu Perampok Walet Hitam dari gunung punggur, mereka juga di bawah kekuasan Tiga Warok Singa Merah Nak," Jawab Ki Suro sambil menyiapkan makanan.
"Tapi tampaknya mereka tidak mengetahui kejadian tadi malam Ki?"
"Entah lah Nak, hati-hatilah, biasa nya pimpinan mereka itu suka meremehkan para gadis,"
"Berarti mereka minta hajar Bidadari Pencabut Nyawa Ki!" Kata Dewi Arau menyela percakapan Wulan Ayu dengan Ki Suro.
"Bidadari Pencabut Nyawa?"
"Shiiit... Nanti para perampok itu dengar Ki!" Ucap Dewi Arau sambil berbisik.
"Bidadari Pencabut Nyawa yang jadi perbincangan tokoh-tokoh silat itu nak Nak?" Ki Suro tampak begitu penasaran, kening tuanya sampai berkerut. Wulan Ayu hanya tersenyum melihat semua itu.
"Iya Ki," Jawab Elang Merah sambil mengangkat tampah bambu tempat makanan.
"Ayo Ki cepat, nanti mereka merusak tempat ini, biasa manusia-manusia yang tidak punya tata krama!" Bisik Dewi Pingai. Aki Suro pun sibuk mengisi mampan bambu dengan piring berisi makanan.
"He he he...! Ayo cepat cantik, anak buahku sudah kelaparan!" Kata kepala perampok Walet Hitam sambil tertawa terkekeh, tangan nya bergerak usil berusaha menyentuh pipi Wulan Ayu. Namun dengan lembut Bidadari Pencabut Nyawa itu menghindarinya.
"Silahkan! Tuan," Ucap Wulan Ayu sambi berlalu. Kepala Perampok Walet Hitam hanya cengar cengir karna di pandangi anak buahnya.
Tidak lama Tujuh gadis itu muncul berbarengan, mereka mengantar makanan secara serempak. Seorang anggota Perampok Walet Hitam tampak berusaha melecehkan Kemboja. Laki-laki itu tampak berani menyentuh tangan kemboja yang lebih buruk lagi tangannya bergerak ke arah dada Kemboja.
Brak...!
Tiba-tiba Laki-laki usil itu jatuh terjelengkang kebelakang bersama dua orang temannya.
"Ha ha ha...! rasakan!" Tawa Dewi Arau dan kedua adiknya, sedangkan Kemboja bersama dua orang temannya tampak pucat ketakutan.
"Bangsat! Siapa yang berani mengusili kami, hah..! Bentak salah seorang perampok itu, wajahnya memerah menahan amarah.
"Hei Kau...!" Tunjuk perampok itu pada Wulan Ayu sambil membentak.
"Saya Tuan," Jawab Wulan Ayu sambil berbalik dan pura-pura bingung, "Ada apa Tuan?"
"Kau yang menjatuhi kursi kami.. Hah...!" Bentak laki-laki itu.
"Tidak, Tuan... Mana mungkin saya bisa," Jawab Wulan Ayu pura-pura ketakutan. Sedangkan Anggala hanya tersenyum melihat kejadian itu, karna ia melihat jelas Wulan Ayu menendang kaki kursi itu sambil jalan tadi.
__ADS_1
"Sini Kau...!" Bentak laki-laki itu pada Wulan Ayu, untuk menutupi malunya, tangannya bergerak berusaha menyentuh pipi Wulan Ayu, namun gadis cantik itu menghindari dengan pura-pura lari ketakutan.
"Ha ha ha...! Mau kemana Kau gadis cantik!" Laki-laki itu mengikuti Wulan Ayu dari belakang, Wulan Ayu lari ke arah luar Warung.
"Ha ha ha...!" Teman-temannya tertawa melihat perlakuan laki-laki itu. Laki-laki berusaha berlari lansung berusaha meraih bahu Wulan Ayu, namun.
Tap.!
Buak...!
"Aakh..!"
Laki-laki itu tiba-tiba terbanting ke tanah.
"Maaf Tuan! Saya tidak sengaja," Ucap Wulan Ayu pura-pura ketakutan.
"Bangsat! Kau berusaha mempermainkan ku ya!"
"Tidak.. Tuan... Ampun...!
Wut...!
"Kurang ajar! Rupanya Kau ingin pamer, jangan salahkan aku jika wajah cantikmu itu bakal babak belur..!" Ujar Laki-laki itu penuh kemarahan. Sementara itu teman-temannya tampak terdiam memperhatikan meteka. Sedangkan Ketiga Elang tampak senyam senyum melihat kejadian itu.
"Kemboja, cepat ke belakang, kami akan mengurusnya di sini," Bisik Aurora pada Kemboja, gadis itu hanya mengangguk dan cepat-cepat berjalan kebelakang.
Laki-laki itu memasang kuda-kudanya, dan bersiap menyerang ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
"Tuan, mau apa, saya tidak bisa bertarung Tuan.. Saya tidak pernah belajar silat," Ucap Wulan Ayu sambil pura-pura ketakutan dan memegangi tampah bambu di depan tubuhnya.
"Kau membantingku dengan begitu cepat, Kau masih pura-pura tidak bisa silat hah..!" Bentak laki-laki itu.
"Maaf Tuan, tadi itu saya tidak sengaja,"
"Huh..!"
Sut..!
Sebuah tendangan ke arah dada Wulan ayu di lepaskan laki-laki itu, lagi-lagi di hindari dengan mengeser tubuhnya. Perampok Walet Hitam itu lansung melepaskan pukulan tangan kosong yang cukup cepat ke arah wajah Wulan Ayu. Namun Wulan Ayu mengindar dengan menarik tubuhnya kebelakang dua langkah.
Laki-laki itu semakin di sulut kemarahan, dan merasa di permainkan, ia mengerahkan tenaga dalamnya dan lansung menyerang dengan begitu cepat ke arah Wulan Ayu.
__ADS_1
"Jangan Tuan... Jangan, Jangan Sakiti saya...," Ucap Wulan Ayu pura-pura ketakutan, sambil menghindari setiap serangan perampok itu.
Sekitar sepuluh jurus berlalu, laki-laki itu menyerang dengan kalapnya, namun setiap serangannya dapat di hindari Wulan Ayu dengan sigapnya.
Laki-laki itu, yang sudah kelaparan, dua kali jatuh, akhirnya ia tampak mulai kelelahan.
"Cuma segitu Kisanak, kemampuan Perampok Walet Hitam," Kata Wulan Ayu bernada ejekan.
"Bangsat, gadis ini bukan gadis biasa, aku telah menyerangnya dengan kecepatan dan tenaga dalamku, namun dia masih dapat menghindarinya dengan begitu gesit," Guman Laki-laki itu dalam hati, napasnya tampak memburu.
"Wira.. Sudart, Sarda... Cepat bantu Murta..! Tampaknya gadis itu mempermainkannya!"
"Baik Ketua!" Tiga anggota Perampok Walet Hitam itu langsung bangkit dan berlari keluar mengepung Wulan Ayu.
"Ha ha ha...! Akhirnya, cepat suruh semua anggota Walet Hitam keluar, biar bisa ku beri pelajaran secara bersamaan!" Ujar Bidadari Pencabut Nyawa dengan nada tantangan.
"Cari mati Kau gadis cantik..," Ujar Sudart sambil memutar-mutar goloknya, di sekeliling tubuhnya.
Sret.! Sret!
Ke tiga anggota Perampok Walet Hitam itu langsung menghunus golok mereka, dan bergerak mengelilingi Wulan Ayu.
Gadis cantik bergelar Bidadari Pencabut Nyawa itu tampak begitu tenang menghadapi kepungan musuhnya itu, dengan Jurus Mata Bidadari, ia bisa mengukur sebatas mana kekuatan para pengepungnya.
Senyum tipis menyungging di bibirnya, tangannya masih memegang tampah bambu tempat piring makanan.
"Serang....!!!"
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Terima kasih banyak.
.
.
__ADS_1