Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata, sampai ke Istana


__ADS_3

Anggala tampak muncul dengan wajah segar, di tangannya tampak beberapa ekor ikan yang di renteng dengan akar, ikan-ikan itu telah di bersihkan dan siap di bakar untuk makan mereka pagi ini.


Anggala nampak terkejut melihat Sri Kemuning sedang berbicara dengan Wulan Ayu, ia mendatangi Arya Geni yang duduk sendirian sambil memperhatikan Sri Kemuning.


"Siapa gadis itu Kak senopati?" tanya Anggala pada Arya Geni.


"Dia Sri Kemuning, kekasih saya Anggala," jawab Senopati Arya Geni sambil menoleh ke arah Anggala.


"Apa yang terjadi? sepertinya telah terjadi pertarungan.." tanya Anggala lagi.


"Sri Kemuning sempat menyerang tuan Putri tadi, ia mengira tuan Putri kekasih saya..!" jawab Senopati Arya Geni.


O..! baiklah kak Senopati tidak mandi..?" tanya Anggala.


"Ya.. saya mau mandi dulu Anggala..!" jawab Arya Geni sambil berjalan menuju sungai.


"Siapa pemuda tampan itu tuan putri..?" tanya Sri Kemuning pada Wulan Ayu, "Apa dia kekasih Tuan Putri?" tambah Sri Kemuning lagi, memberondong Wulan Ayu dengan pertanyaan bertubi-tubi, sambil melihat ke arah Anggala yang mengumpulkan ranting kayu untuk di buat api.


"Dia Pendekar Naga Sakti, Anggala. Dia kekasih saya Kak Kemuning..!" jawan Wulan Ayu sambil tersenyum, "Jangan panggil tuan putri Kak Kemuning.. kita di sini sama-sama Pendekar dunia persilatan," tambah Wulan Ayu lagi.


"Jadi hamba harus panggil apa tuan putri? Wulan atau Ayu?" tanya Sri Kemuning.


"Panggil saja Wulan kak..!" jawab Wulan ayu.


"Ayo Kak, kita bantu Kak Anggala memanggang ikan, kami belum makan apa pun pagi ini..!" ajak Wulan Ayu pada Sri Kemuning, sambil berjalan ke arah Anggala yang lagi menghidupkan api, untuk memanggang ikan.


"Baiklah dik Wulan..! boleh hamba panggil dik Wulan Tuan Putri?" tanya Sri Kemuning sambil berjalan di samping Wulan Ayu.

__ADS_1


"Terserah kak Kemuning, yang penting jangan Tuan Putri..!" jawab Wulan Ayu sambil tersenyum. Wulan ayu mengambil kayu untuk penjepit ikan yang akan di bakar.


Mereka membakar ikan setelah api yang di buat Anggala tinggal baranya.


Belum selesai mereka membakar ikan, Arya Geni telah kembali dari mandi di sungai. Setelah membakar ikan-ikan itu, mereka makan ikan bakar bersama, untuk mengisi perut mereka pagi ini.


Setelah selesai makan, mereka meninggalkan tempat itu untuk menuju istana.


Di sebuah kampung mereka membeli kuda, untuk perjalanan mereka yang masih cukup jauh dari kota Raja Galuh permata.


Anggala dan Wulan Ayu berkuda di depan dan senopati Arya Geni dan Sri Kemuning berkuda di belakang.


Mereka mengebah kuda cukup cepat sehingga tidak ada di antara mereka yang saling berbicara.


Setengah hari mereka berkuda, tampak matahari sudah hampir tenggelam di upuk barat, barulah mereka memasuki kota Raja.


Senopati Arya Geni memacu kudanya lebih cepat ketika memasuki kota raja.


Anggala beserta dua temannya mengikuti Senopati Arya memasuki gerbang yang menghubungkan kota kerajaan dengan istana galuh permata.


Setelah sampai di depan istana, senopati Arya Geni lansung mengajak Anggala dan Wulan Ayu beserta Sri Kemuning menghadap Ratu Galuh Permani.


Setelah sampai di ruang tahta kerajaan.


"Salam hormat hamba Ratu.! maafkan hamba agak terlambat pulang ke istana, karena hamba lansung mengadakan penyelidikan ke perbatasan..!" lapor senopati Arya Geni pada Ratu Galuh Permani.


"Bangunlah senopati.? aku sudah mengetahui apa yang terjadi padamu, dari ayahmu Patih Jagat Geni...!" titah Ratu Permani pada Senopati Arya Geni.

__ADS_1


Ratu Galuh Permani memandang ke arah Wulan Ayu, yang ikut berdiri di belakang senopati Arya Geni.


Sedangkan Wulan Ayu, hanya terdiam membisu, Ratu Galuh Permani bangun dari singgasananya, dan berjalan menemui sang Putri yang tak berbicara sepatah kata pun.


Begitu Ratu menghampiri Wulan Ayu, barulah Wulan Ayu berbicara sambil berlutut, kedua tapak tangannya, di susun di depan wajahnya.


"Salam hormat hamba Ibunda Ratu..! ucap Wulan Ayu sambil menunduk, tampak di belakangnya Sri kemuning juga ikut berlutut.


"Bangunlah anakku...! titah Ratu Galuh Permani sambil kedua tangannya memegang pundak Wulan ayu. Kemudian Ratu Galuh Permata itu mengajak Wulan Ayu berdiri. Begitu Wulan Ayu berdiri, Ratu Galuh Permani lansung memeluk putrinya itu, sambil menangis.


" Kau sudah dewasa anakku..!" ucapnya, air mata sang ibunda tumpah di pelukan putrinya, yang belasan tahun tak bertemu itu.


Wulan Ayu pun ikut menangis bahagia, keduanya menangis sambil berpelukan.


Semua orang di ruang singgasana itu ikut terharu, termasuk Anggala si pendekar naga sakti. Patih Jagat geni menghampiri Anggala, Anggala menunduk memberi hormat.


"Salam hormat saya Paman Patih..!" ucap Anggala.


"Bangunlah. Pangeran, tidak pantas seorang pangeran menunduk di depan patih seperti saya..!" kata Patih Jagat geni.


Cukup lama Ratu Galuh Permani dan dan Wulan Ayu saling berpelukan, mereka saling melepas rindu. Setelah mereka saling melepas pelukan, barulah Ratu Galuh Permani mengajak sang putri berbicara.


"Anakku.. mari temui ayahandamu.. beliau sudah empat tahun ini sakit, beliau sering menanyakan tentang kepulanganmu, dia juga meminta ibunda mengirim prajurit menjemputmu..!" tutur ratu Galuh permani.


Ratu Galuh Permani belum berkata apa-apa pada Anggala, ia mengajak putri satu-satunya tersebut menemui baginda Surya Galuh yang lagi sakit. Patih Jagat Geni dan Senopati Arya Geni lah yang menemani Anggala.


Mereka pun mengajak Anggala ke kediaman Patih di samping istana Galuh Permata itu.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2