
Suasana berkabung di Perguruan Belati Terbang itu tampak mencekam, bendera berwarna kuning menghiasi gerbang dan depan bangunan besar Perguruan itu.
.
Kala Pati dan Kala abang tampak duduk di samping mayat Kala Ireng itu. Sedangkan para muridnya tampak duduk di belakang mereka dengan pakaian serba hitam.
.
Menjelang sore tampak di luar gerbang Perguruan Belati Terbang itu dua orang pendekar muda yang berumur sekitar dua puluh lima tahun sampai toga puluh tahunan, keduanya berkelebat dengan sangat cepat, tanpa memperdulikan keadaan di srkitar tempat itu.
.
Kedua orang itu adalah Si Pedang Maut dan dan Si Pedang Terbang, mereka berdua kembali ke Perguruan Belati Terbang setelah mendapatkan surat yang di antar merpati pengantar pesan (merpati pos).
.
Mereka langsung melesat melewati gerbang Perguruan Belati Terbang itu, tanpa menyapa para murid yang berjaga di pintu gerbang itu.
.
Si pedang Maut dan dan Si Pedang Terbang lansung menuju aula pertemuan Perguruan Belati Terbang itu. Kedua putra Kala Abang itu bersimpuh di depan mayat paman mereka Kala Ireng.
.
"Ayah! Siapa yang telah melakukan ini pada paman Kala Ireng?" Tanya Si pedang Maut, setelah membuka kain penutup jenazah Kala Ireng.
.
"Seorang pendekar muda yang bergelar Pendekar Naga Sakti," jawab Kala abang dengan singkat.
.
"Pendekar Naga Sakti? Bukankah Pendekar Naga Sakti sudah tua, ayah?"
"Dia murid Lesmana, namanya Anggala. Dia bersama kekasihnya yag bergelar Bidadari Pencabut Nyawa!"
.
"Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu?"
"Ya, dia murid Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak," jawab Kala Abang memberi penjelasan.
"Aku bersumpah atas nama paman Kala Ireng akan ku bunuh Pendekar Naga Sakti itu!" murka Damar Suta dengan suara bergetar, rahangnya bergemeletuk, pertanda ia menahan kemarahan.
.
"Apa Sarmada juga di beri tau ayah?" Tanya Kindar Saka Si Pedang Terbang, setelah selesai melihat Kala Ireng yang terbujur kaku itu.
.
"Ya, Ayah juga telah mengirim pesan pada Sarmada dan bibimu," jawab Kala Abang.
"Bagaimana dengan ibu, apa ayah mengirim pesan padanya?" Si Pedang Maut tampak berlinang air mata, walau tidak ada tangisan dari tokoh hitam satu itu.
__ADS_1
.
"Semua yang berhubungan dengan keluarga kita telah ayah hubungi, namun kedatangan mereka tentu tidak secepat kalian, kita harus memberi obat pengeras pada tubuh pamanmu," kata Kala Abang lagi.
.
"Masalah itu kami serahkan pada ayah, kami akan mengikutinya," jawab Damar Suta sambil menunduk di depan ayahnya. Kala Abang membelai rambut sang putra, kesedihannya akan kematian sang adik di obati kehadiran kedua putranya itu.
.
"Kalian istirahatlah dulu, kalian tentu lelah setelah seharian berjalan jauh," tukas Kala Abang.
"Tidak ayah, biarkan kami di sini, kami ingin menemani paman Kala Ireng untuk terakhir kalinya," ucap Damar Suta. Sedangkan Kindar Saka hanya mengangguk menuetujui keinginan sang kakak.
"Jika itu kemauan kalian, ayah tidak memaksa Kalian untuk istirahat, tapi setidaknya kalian makanlah dulu," pinta Kala Abang lagi.
"Baiklah Ayah, kalau cuma makan, kami akan makan dulu," jawab Damar Suta sambil mengamit Kindar Saka, mereka pun menuju meja panjang tempat makanan di siapkan oleh juru masak Perguruan Belati Terbang itu.
.
Setelah makan mereka kembali ke tempat jenazah Kala Ireng di letakkan, mereka duduk diam di sana sampai malam, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut orang-orang Perguruan Belati Terbang itu.
Mereka hanya diam seribu bahasa, duduk di belakang para sesepuh mereka. Makan pun mereka secara bergiliran.
.
.
************************************************
.
Anggala yang merasa tidak hati, mengajak orang-orang kampung makan malam di warung Ki Sarta. Wulan Ayu membayar makanan di warung Ki Sarta dengan sekantung kepeng emas.
.
"Banyak sekali ini nak Wulan," kata Ki Sarta tampak keberatan menerima uang sebanyak itu.
"Tidak apa-apa Ki, itu sekalian bayar sewa kami di sini," jawab Si Bidadari Pencabut Nyawa dengan tersenyum.
"Tapi ini masih kebanyakan nak Wulan," kata Ki Sarta lagi.
.
"Terima saja lah Ki, sesekali terima uang dari tuan Putri!" timpal Anggala sambil tertawa, ia duduk di depan Wulan Ayu. Di sebuah meja yang di tempati Embun dan Wulan Ayu.
.
"Tuan Putri, maksud nak Anggala?" Tanya Ki Sarta sambil mengerenyitkan keningnya keheranan.
.
"Wulan Ayu adalah Putri Kerajaan Galuh Permata Ki," jawab Anggala.
__ADS_1
"Hmm... Bongkar rahasia dinda, Kak Anggala juga seorang Pangeran Ki," balas Wulan Ayu sambil tertawa kecil. Di cubitnya lengan Anggala.
"Jadi kedua Kakak-Kakak ini adalah calon Raja dan Ratu dong," cerocos Embun.
"Hus.. Tidak sopan! Maafkan hamba Pangeran, Tuan Putri!" ucap Ki Sarta sambil berlutut. Anggala cepat-cepat mengajak Ki Sarta berdiri.
.
"Tidak usah memberi hormat sebegitunya Ki, kami di sini sebagai pendekar petualang, bukan sebagai pangeran dan putri, tadi saya hanya menggoda Wulan Ayu," ujar Anggala sambil tersenyum.
.
"Tapi tetap saja Kalian junjungan Kami nak Anggala," ucap Ki Sarta lagi.
"Salam Hormat kami Pangeran, Tuan Putri!" Tiba-tiba para penduduk yang ada di tempat itu pada bersimpuh memberi hormat pada Anggala dan Wulan Ayu.
"Eh... Apa apaan ini, bangun-bangun, kami tidak melakukan perjalanan Kerajaan! Kami di sini sebagai pendekar yang membantu Kalian! Bangun-Bangun!" Wulan Ayu tampak terkejut. Di perintah bangun barulah para penduduk itu berdiri.
"Aki-Aki, dan semuanya, jangan menganggap kami sebagai pangeran dan putri, anggap lah kami sebagai teman Kalian," kata Anggala, "Lagian Desa ini sudah cukup jauh dari Kerajaan Galuh Permata, jadi jangan bersikap menganggap kami sebagai pembesar istana,"
"Baik! Pangeran!" jawab para penduduk serentak.
"Nah, gitu dong, ya kan Ki?" cetus Anggala.
"Eh... Iya nak Anggala," jawab Ki Sarta.
"Ya sudah kembali lah ke meja masing-masing, pesan apa yang kalian mau, saya yang membayar semuanya," kata Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Terima kasih, Tuan Putri!"
"Kok, masih tuan putri? Panggil Wulan Ayu saja, Aki-Aki!" kata Wulan Ayu sambil tertawa.
"Baik, Nak Wulan," jawab seorang Aki-Aki yang paling tua di sana.
Hampir tengah malam barulah para penduduk itu kembali ke rumah mereka masing-masing, di perjalanan mereka pada membicarakan Anggala dan Wulan Ayu.
"Tuan Putri Wulan Ayu, selain cantik juga baik ya?" puji salah seorang yang berumur sekitar tiga puluh tahunan.
"Ya, ya.. Pangeran Anggala juga ramah, dan tampan lagi, mereka pasangan yang serasi, apalagi mereka pendekar yang sakti mandraguna," celetuk temannya lagi. Terdengar riuh tawa mereka, kelelahan mereka seharian, hilang begitu saja.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa like
Koment
Vote
Favorit ya...
__ADS_1
Terima kasih banyak....