
Sementara itu Pendekar Naga Sakti yang menghadapi Jagat Satra dalam wujud manusia singa merah, telah terlibat pertarungan yang begitu sengit. Menghadapi musuh yang kebal pukulan kesaktian Pendekar Naga Sakti belum kehabisan akal, dengan ' Jurus Tapak Naganya ia mencoba menjajal Kesaktian ilmu Jagat Satra itu.
Jagat Satra terkejut dan marah melihat kedua adiknya telah tergeletak ditanah. Jagat Satra melompat kesamping mayat Jagat Alam yang bersimbah darah. Mata singanya melotot merah raungan kesedihan dan kemarahan Jagat Satra terdengar membahana.
"Bangsat! Kalian harus membayar kematian kedua adikku dengan nyawa kalian!" murka Jagat Pati terdengar parau dan bernada dingin.
"Pendekar Naga Sakti, gunakan pedangmu, hanya pedang Naga Sakti yang mampu menembus kekebalan tubuh Jagat Satra yang berbentuk singa itu!" kata Pengemis Gila mengirimkan suara telepati pada Pendekar Naga Sakti.
"Terima kasih Kek, akan ku coba saran dan petunjuknya," jawab Pendekar Naga Sakti dengan kekuatan telepatinya.
Sring!
Cahaya biru keperakan menyilaukan mata menyinari batang pedang mustika naga itu. Jagat Satra melompat kearah Pendekar Naga Sakti dengan begitu cepat.
"Kau yang pertama Pendekar Naga Sakti, setelah itu giliran para wanita j4lang yang membunuh kedua adikku," geram Jagat Satra dengan tatapan dingin yang begitu mematikan. Tangan kanan Jagat Satra telah berubah kembali ke bentuk tangan manusia. Namun tetap berwarna merah menyala.
Keris hitam berkelok lima milik Jagat Satra kini tergenggam erat ditangan kanannya. Cahaya merah kehitaman menyelubungi batang keris itu. hawa panas terasa menyengat dikulit, karna keris itu mengandung racun yang mematikan.
Set! Set! Pendekar Naga Sakti memainkan pedang mustika naga itu di sekeliling tubuhnya. Pendekar Naga Sakti segera bersiap dengan 'Jurus Pedang Sembilan Naga'. tingkat tiga langsung. Pedang Naga Bayangan.
"Jurus Keris Neraka Merenggut Jiwa'. Heaaa...!"
Bentakan Jagat Satra terdengar parau namun bergema. Cahaya merah yang menyelubungi keris ditangannya. Tampak bertambah terang, jawab panas itu makin terasa dikulit. Pendekar Naga Sakti cepat merapal 'Ilmu Baju Besi Emas'. tingkat delapan Belas. Untuk menahan epek hawa panas racun dari keris di tangan Jagat Satra tersebut.
"Heaaa...!"
Jagat Satra melesat cepat bagai kilat kearah Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti pun melesat menyongsong. Dua pendekar berlainan golongan itu bertemu di udara.
__ADS_1
Trang! Trang! Trang!
Berkali-kali pedang dan keris mereka beradu diudara. Bunga api kadang memercik dengan bergeraknya dua senjata itu. Kedua pendekar itu masih berusaha saling mendesak dan memukul mundur satu sama lainnya.
"Sha..!"
Wut! Set!
Trang! Trang!
Kekuatan dan kekuatan Jagat Satra yang meningkat hampir dua kali lipat kekuatan sebelumnya setelah menggunakan ilmu manusia singa itu, di tambah dengan keris beracun di tangan kanannya. Sehingga ia hampir mampu mengalahkan kecepatan dan gerakan ' Jurus Pedang Sembilan Naga'. tingkat tiga, milik Pendekar Naga Sakti itu.
Pertarungan mereka berjalan begitu cepat, sehingga yang terlihat hanya dua bayangan yang saling bertabrakan diuadara. Suara dentingan pedang dan keris ditangan keduanya terdengar berturut-turut. Berselang beberapa jurus keduanya tampak saling melompat mundur.
Jagat Satra tampak mulai agak kelelahan. Rupanya kekuatan Ilmu Manusia Singa Merah itu cukup menguras tenaganya. Di tambah menggunakan 'Jurus Keris Neraka Merenggut Jiwa'. cukup menyerap tenaga dalamnya.
"Hmm..! Rupanya Jagat Satra mulai kelelahan, memakai dua ilmu yang menguras tenaga dalam. Aku bisa mengalahkannya dalam keadaan sekarang. Namun bukan sikap seorang satria yang menyerang musuh dalam keadaan tidak siap," guman Pendekar Naga Sakti seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh Pendekar Naga Sakti untuk mendekati gadis cantik berbaju biru yang sedang bersemedi itu, "Dinda, ambillah pil ini, berikan juga pada Tiga Elang," ucap Pendekar Naga Sakti sambil berjongkok disamping Bidadari Pencabut Nyawa.
Wulan Ayu perlahan membuka matanya dan menerima obat pemberian Anggala tersebut, Terima kasih Kak," ucap Bidadari Pencabut Nyawa, ia hendak meneruskan ucapannya. Namun Pendekar Naga Sakti telah melesat kembali kedepan Jagat Satra.
Wulan Ayu segera menelan sebiji pil pemberian Pendekar Naga Sakti itu, dan segera memberikan sebiji untuk satu orang pada ketiga Elang.
"Makanlah pil ini. Pil ini akan membantu mengobati luka dalam kalian," kata Wulan Ayu sambil memberikan pil pada Dewi Arau kemudian pada Dewi Pingai dan Dewi Aurora.
Tiga Elang pun segera menelan obat pemberian Bidadari Pencabut Nyawa itu, tidak lama mereka telah bangkit dengan tubuh terasa segar dan ringan.
__ADS_1
"Obat itu begitu mujarab, mengobati luka dalam. Darimana Kak Anggala mendapatkannya?" tanya Dewi Arau.
"Obat ini adalah ramuan yang diracik kakek guru Pertapa Naga," jawab Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum. Wajah cantiknya tampak kembali meronta dan cerah. Kerena tenaga dalamnya meningkat setelah menelan obat pemberian Pendekar Naga Sakti tersebut.
"Tubuhku terasa ringan, luka dalamku langsung sembuh setelah menelan obat itu," kata Dewi Pingai dengan tersenyum manis. Kamandaka dan kedua adik seperguruannya mendekati Wulan Ayu dan Tiga Elang. Karena sekarang mereka menjadi penonton. Musuh mereka telah lari tunggang langgang.
Hanya yang tersisa dua pertarungan di atas puncak gunung pungur itu. Satu Pertarungan Pendekar Naga Sakti dengan Jagat Satra, kedua pertarungan Pengemis Gila dengan Datuk Prabang Kara yang memakai Ajian Barong Hitam. Sedangkan yang lain telah melarikan diri, dan tidak sedikit pula para perampok itu telah tewas.
Pengemis Gila menghadapi Datuk Prabang Kara dengan menggunakan 'Jurus Dewa Gila Mengacau Kayangan'. Sebuah jurus yang sulit untuk ditebak jalur dan kecepatannya. Jurus ini kadang tidak terduga pola dan taktik serangannya.
"Hehehe...! Prabang Kara, percuma Kau menggunakan ilmu Barong Hitam itu, jurusmu itu hanya membuat wajahmu tambah jelek tahu, hehehe..!" tawa Pengemis Gila sambil menapaki serangan Barong Hitam dengan tongkat rotan semabunya.
"Jangan banyak bacot Kau Pengemis Gila, hari ini aku akan menyembuhkan kegilaanmu itu!" bentak Datuk Prabang Kara dengan suara serak.
"Hehehe..! Aku gila saja belum tentu Kau mampu mengalahkanku, apalagi kalau aku waras Prabang Kara! Hehehe...! tawa Pengemis Gila sambil menarik tubuhnya kesamping menghindari cakaran Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara itu.
Tentu saja ejekan Pengemis Gila itu membuat Datuk Prabang Kara semakin murka. Datuk Prabang Kara terus menyerang Pengemis Gila dengan 'Jurus Cakar Barong Iblis'.nya. Namun Pengemis Gila dengan begitu gesitnya menghindari dan menangkis serangan cakar Datuk Prabang Kara tersebut. Suara tawa Pengemis Gila terdengar terkekeh.
Kamandaka dan kedua adik seperguruannya. Tampak memperhatikan pertarungan Pengemis Gila dengan Datuk Prabang Kara dengan begitu seksama. Sesekali Kamandaka berteriak menyemangati Pengemis Gila.
"Hajar dia Kek..... Jangan diberi ampun. Aku mendukungmu!" teriak Kamandaka sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan melihat Datuk Prabang Kara kerepotan menghadapi Dedengkot golongan putih yang berpakaian pengemis tersebut.
.
.
Bersambung....
__ADS_1