
"Istirahatlah dulu, Kenanga!"
Tiba-tiba sebuah suara menggema di tempat itu. Kuyung dan Ujang mengalihkan pandangan berusaha mencari asal suara itu.
Seorang pendekar wanita separuh baya, berdiri tegak di depan Dewi Selendang Kuning itu. Wanita separuh baya itu adalah guru sekaligus ketua Perguruan Mawar Putih.
Pendekar wanita setengah baya menatap tajam ke arah Tiga Pendekar Mesum yang berdiri sekitar tiga tombak di depannya itu.
"Ha.. ha ha...! Dewi Mawar, akhirnya kau muncul juga. Apa kabarmu setelah dua puluh tahun lebih kita tidak bertemu, rupanua kau belum bertambah tua, masih cantik dan semok seperti dulu," kata Kuyung sambil tertawa memandang ke arah Dewi Mawar.
"Kau sudah tua Ujang Akra, bertobatlah.. Sebelum kematian menjemputmu," jawa Dewi Mawar.
"Ha ha ha...! Mentang-mentang kau dulu pernah mempecundangiku. Sekarang kau masih ingin menceramahiku, sudah ku katakan padamu dulu Dewi Permani. Aku akan selalu menghantui hidupmu, karna kau menolak cintaku!" jawab Ujang Akra yang di panggil Kuyung tersebut.
"Cepat tinggalkan murid-muridku, jangan ganggu lagi perguruan ini," kata Dewi Mawar masih berusaha tenang.
"Ha ha ha...! Ujang, kau dengar. Dia mengatakan apa? Aku tidak begitu jelas perkataannya," ledek Ujang Akra sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bajingan..! Heaaa...!" Dewi Mawar itu melompat ke arah Ujang Akra dengan sebuah serangan telapak tangan membentuk cakar. Dewi Mawar langsung menggunakan jurus 'Phoenix Merah'. Cakar Sang Phoenix.
"Heh..!" Ujang Akra tampak terkejut melihat serangan Dewi Permani begitu cepat mengincar titik lemah di tubuhnya. Ujang Akra cepat melompat mundur sekitar satu tombak. Dewi Mawar tidak memberi kesempatan. Wanita separuh baya itu terus memburu dengan kedua telapak tangan membentuk cakar. Hawa panas cukup terasa di kulit mengikuti arah cakaran Dewi Mawar itu.
"Kuyung!" Ujang keponakan Kuyung langsung melompat menyerang ketua Perguruan Mawar Putih itu dari arah samping, tapi Dewi Mawar menyadari golongan Ujang itu. Begitu cepat ia mengubah arah serangannya, sehingga Ujang tidak sempat menghindar.
Sret!
Crass!
"Agkh..!"
Ujang melenguh kesakitan, ketika dada sebelah kanannya terkena sambaran jemari Dewi Mawar itu yang membentuk cakar itu. Pemuda dua puluh lima tahunan itu terjajar mundur sambil memegangi dadanya yang mengucur darah. Jika ia tidak memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Tentu Ujang akan tewas terkoyak cakaran pendekar wanita separuh baya itu.
"Bangsat! Heaah...!" pemuda yang satunya lagi mengembor marah melihat Dewi Mawar berhasil melukai Ujang, dengan cepat ia melompat ke arah Dewi Mawar dengan sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi dari arah samping.
Buk!
"Agkh!"
Dewi Mawar itu terjajar ke samping sambil memegangi bahunya yang terkena tendangan barusan. Darah segar tampak mengalir dari sudut bibir Dewi Mawar.
Belum sempat wanita setengah baya itu bergerak bangkit, sebuah pisau kecil tiba-tiba melesat cepat ke arahnya. Dewi Mawar berusaha menghindar. Ketua Perguruan Mawar Putih itu berhasil menghindari senjata rahasia yang di lemparkan Ujang barusan.
"Heaaa...!"
Ujang bergerak begitu cepat menerjang ke arah Dewi Mawar yang masih di udara, dan.
Buak!
__ADS_1
"Aaa...!"
Wanita separuh baya itu terpental cukup jauh dengan tubuh jatuh bergulingan. Begitu Dewi Permani berusaha bangun, darah segar menyembur dari mulutnya.
"Huakh...!"
"Guru...!"
Kenanga langsung bangkit dan melompat ke samping Dewi Mawar.
Kuyung Akra tampak terdiam sesaat, kemudian ia mengambil gadis yang ia sadarkan di batang pohon dan menggendongnya.
"Ujang.. Seta.. Kita tinggalkan tempat ini!" seru Kuyung Akra sebelum melompat dan menghilang di tengah rimbunnya hutan. Melihat Kuyung melesat pergi, Ujang dan Seta pun menyusul dari belakang.
"Guru..," Kenanga langsung memapah Dewi Mawar yang tampak mengalami luka dalam yang cukup parah.
"Kenanga..., kau harus mencari seseorang untuk minta bantuan," kata Dewi Mawar sambil memegangi dadanya yang terasa begitu berat.
"Guru...," Kenanga berusaha membantu Dewi Mawar untuk bangun, walau dirinya sendiri dalam keadaan terluka. Walau terseok-seok Kenanga berhasil membawa gurunya kembali ke dalam Perguruan. Beberapa orang wanita yang berumur sekitar enam puluh tahunan datang membantu mereka.
Karena mengalami luka dalam yang cukup parah Dewi Mawar sampai tidak sadarkan diri. Jika ia tidak memiliki kepandaian yang cukup tinggi, Dewi Mawar tentu sudah tewas di serang dengan pukulan bertenaga dalam tinggi dari berulang kali.
Setelah mendapatkan pertolongan Dewi Selendang Kuning membebaskan totokan pada adik-adik seperguruannya.
"Kenanga!" seru salah seorang wanita tua yang tadi membantunya mengobati luka dalam Dewi Permani. Wanita tua itu di pekerjakan sebagai tukang masak di Perguruan Mawar Putih oleh Dewi Mawar.
"Ada apa, Nyi?" sahut Kenanga langsung menemui wanita tua itu.
"Guru memanggil Kenanga?"
"Ya. Aku memanggilmu," jawab Dewi Mawar terdengar lemah. Wanita paruh baya itu masih berbaring di atas tempat tidurnya.
"Apa yang ingin, Guru sampaikan?" tanya Kenanga lembut sambil duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Dewi Mawar.
"Kau harus mencari bantuan," kata Dewi Mawar.
"Maksud, Guru?" Kenanga tidak mengerti.
"Kau harus mencari seseorang yang bisa membantu kita menyelamatkan adik-adikmu,"
"Siapa yang harus saya cari, Guru?"
"Aku dengar sudah lebih setahun ini, di Pulau Andalas ini muncul sepasang pendekar muda yang sakti mandraguna. Katanya mereka berasal dari barat, kedua pendekar itu bergelar Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa," jelas Dewi Mawar.
"Kemana saya harus mencari mereka, Guru? Apa saya harus ke barat?"
"Tidak. Guru dengar dari beberapa penduduk, kedua pendekar muda itu sedang berada di wilayah selatan ini, carilah sepasang pendekar. Tanyakan mereka Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa atau tidak, kau harus bergerak cepat jangan sampai adik-adikmu sudah jadi korban Ujang Akra dan kedua kawanannya itu," jawab Dewi Mawar lagi.
__ADS_1
"Baik, Guru. Saya akan berangkat secepatnya,"
"Pergilah.. Jangan sampai terlambat,"
"Ya. Guru.. Saya akan berangkat hari ini," lanjut Kenanga.
.
****************
Sementara itu Anggala dan Wulan Ayu sedang berada di sebuah dusun yang penduduknya begitu ramah dan kehidupan mereka begitu damai. Kebetulan warung tempat Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa menginap itu berada di persimpangan, jadi warung itu selalu ramai akan pengunjung. Baik dari dusun itu sendiri maupun para penduduk dan pedagang dari desa lain mampir untuk makan ke warung itu.
"Kak, sudah tiga hari kita di sini, kapan kita melanjutkan perjalanan?" tanya Wulan Ayu sambil menatap wajah tampan di depannya itu.
"Kita tunggu sehari lagi, Dinda. Kakak merasa akan ada masalah di daerah ini," jawab Anggala sambil tersenyum pada gadis cantik berbaju serba biru di depannya.
"Baiklah... Dinda ikut saja," celetuk Wulan Ayu sambil mengambil ubi jalar rebus di depannya.
"Hei.. Kau tau tidak, Perguruan Mawar Putih di santroni oleh tiga orang pendekar mesum," kata salah seorang pengunjung pada temannya.
"Ya. Aku juga mendengar, Tiga Pendekar Mesum itu suka sekali menculik gadis-gadis untuk kepuasan sesaat mereka," jawab temannya.
"Hmm... Kakak dengar itu, tampaknya firasat, Kakak. Benar," tukas Wulan Ayu mendengar percakapan para penduduk itu.
Tidak lama kemudian seorang gadis cantik memasuki warung, gadis itu tampak kelelahan karena melakukan perjalanan jauh. Gadis itu memakai baju biru dengan sehelai selendang berwarna kuning tersampir di bahunya, gadis cantik itu duduk di sebelah Anggala dan Wulan Ayu.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.