Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Perguruan Bambu Kuning di Santroni


__ADS_3

Sementara itu di Perguruan Bambu Kuning, terlihat para murid yang sibuk berlatih dan ada pula yang sibuk bekerja di kebun belakang perguruan.


Tampak Cakradana dan Aruma Sakta sedang mengawasi para murid yang sedang berlatih.


"Dana, apa semua persiapan sudah kau urus?" tanya Aruma Sakta sambil menuang air dari kendi kedalam cangkir bambu.


"Sudah, Kak Aruma. Bukankah acaranya di purnama di muka?" Cakradana balik bertanya.


"Ya, tapi Aruni dan Jaka Kelana mau mengundang orang-orang dari Kerajaan Galuh Permata dan juga Pendekar Naga Sakti, jadi undangannya harus di sebar dari waktu lama," jawab Aruma Sakta.


"Pendekar Naga Sakti bagaimana cara kita menemukan seorang pengelana seperti dia dalam waktu sebulan, Kak?"


"Untuk urusan itu biarlah Jaka Kelana yang mengurus, dia bilang sekalian mau cari pakaian jadi dia yang mau mencari Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa," jawab Aruma Sakta.


"Kak, Kak Aruma... Kesini sebentar....!" terdengar suara Aruni memanggil dari depan pintu sebuah rumah yang cukup jauh dari tempat Aruma Sakta dan Cakradana berada.


"Ya, aku datang...!" jawab Aruma Sakta sebelum melesat ke arah adiknya yang memanggil.


"Ada apa, Aruni?" tanya Aruma Sakta pada sang adik begitu sampai di depan rumah yang ia tuju.


"Sini sebenrar, Kak!" ujar Aruni sambil berjalan masuk. Aruma Sakta pun berjalan mengikuti sang adik.


"Bagaimana menurut Kakak? tanya Aruni sambil memperlihatkan beberapa pakaian yang baru ia beli untuk persiapan pernikahannya.


"Bagus, bagus semua!" jawab Aruma Sakta sambil memandangi kain dan baju yang di tunjuk adiknya itu.


"Ya, aku tau bagus semua, tapi yang mana yang lebih cocok untuk aku pakai nanti?" tanya Aruni lagi.


"Kau harus mencobanya dulu adikku, baru kakak bisa melihat yang mana yang lebih serasi kau pakai," jawab Aruma Sakta sambil tertawa.

__ADS_1


"Kalau menurut bibi, baju yang hijau itu lebih pas untuk Den Aruni," celetuk Mak Suji. Mak Suji adalah pengasuh Aruni sekalian pembimbing Aruni dari kecil.


"Sebentar ya, Aruni coba dulu," kata Aruni, namun belum sempat Aruni mencoba pakaian itu. Tiba-tiba terdengar keributan dari arena latihan para murid.


"Ada apa itu, Kak?"


"Entahlah, tidak biasanya mereka latihan sampai seribut itu," jawab Aruma Sakta sembari berjalan keluar rumah.


Benar, apa yang terjadi memang sudah diluar latihan. Tampak para murid Perguruan Bambu Kuning tampak terlibat pertarungan dengan beberapa orang pendekar yang berpakaian serba hitam berjumlah sekitar lima orang.


Seorang laki-laki berpakaian serba kuning dengan rambut dan jenggot sudah memutih berdiri di belakang pertarungan, di depannya berdiri Cakradana berjarak sekitar tiga tombak.


Ayo, Kak. Kita lihat!" ajak Aruni sebelum melesat ke arena latihan, sekali lompatan saja Aruni sudah sampai di arena latihan itu.


"Berhenti.........!!!"


"Ha ha ha.....! Rupanya Pendekar Kelelawar Putih sedang ada di tempat, apa Ki Gading Mageli juga ada. Jika dia ada suruh keluar!" orang berpakaian putih dengan pakaian serba kuning itu mengeluarkan suara.


"Hmm...! Apa gerangan sehingga Macan Kuning menyambangi perguruan kami ini?" Aruma Sakta yang mengeluarkan suara.


"Ha ha ha.....! Rupanya kau mengwnaliku, Ketua Perguruan Bambu Kuning. Aku kesini mewakili Partai Teratai Hitam untuk menyampaikan undangan, ha ha ha.....!" tawa Macan Kuning terdengar menggema membuat para murid Perguruan Bambu Kuning meringis sambil menutup telinga mereka.


"Hi hi.... Tidak ku sangka seorang Macan Kuning, menjadi budak Partai Teratai Hitam!" jawab Aruni terdengar merendahkan Macan Kuning.


"Kurang ajar! Kau berani menghinaku, anak Muda!"


"Aku sudah mendengar sepak terjang Tiga dedengkot dunia persilatan dari Utara yang bergelar Tiga Macan. Namun aku tidak menduga jika tokoh tua seperti kalian masih berniat mengacau di dunia persilatan ini!" jawab Aruni lantang.


"Kau belum tau dengan siapa kau beradapan, anak bau kencur! Hari ini aku akan memberimu pelajaran. Aku masih menyegani Ki Gading Mageli, sebaiknya kau suruh dia keluar," kata Macan Kuning masih berusaha tenang dan menekan amarahnya.

__ADS_1


"Bukankah aku sedang berhadapan dengan manusia yang bernama Kerta Sura, yang bergelar Macan Kuning?" Aruni tampak menyungging senyum tipis, walau dia tau si Macan Kuning mempunyai ilmu tinggi, namun di hadapan mereka bertiga Kerta Sura belum tentu menang.


"Mulutmu memang lancang. Kumbang Hitam beri dia pelajaran!" perintah Kerta Sura pada empat orang bawahannya yang ia panggil Kumbang Hitam.


"Baik, Guru!" jawab mereka serentak, setelah itu keempat laki-laki berpakaian serba hitam itu langsung melompat ke arah Aruni.


"Adik, biar kami yang menghadapi mereka!" kata Aruma Sakta dan Cakradana sambil melompat menghadang ke empat orang itu.


Pertarungan sengit pun tidak terhindari, walau ke empat orang itu mengeroyok Aruma Sakta dan Cakradana dengan jurus-jurus macan hitam. Namu n pengalaman Aruma Sakta dan Cakradana tampaknya di atas keempat para pengeroyok itu.


Jurus-jurus macan hitam keempat laki-laki itu dapat di tapaki dan di imbangi oleh Aruma Sakta dengan begitu tenang, berselang beberapa jurus ke depan Aruma Sakta dan Cakradana mulai mampu mendesak ke empat orang itu.


Buak!


Buak!


Dua kali tendangan Aruma Sakta berhasil mendarat di perut kedua lawannya.


"Aakgh...!" kedua orang itu tampak terpental ke belakang hingga jatuh ke dekat Ki Kerta Sura.


Tidak lama kemudian Cakradana pun berhasil menghajar kedua lawannya dengan pukulan 'Tinju Bambu Emas'.


"Bangsat.....!" Macan Kuning memggembor marah sembari melompat ke arah Aruma Sakta dan Cakradana.


.


.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2