Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata, Iblis Hitam


__ADS_3

Matahari pagi begitu cerah di upuk timur, Anggala, Wulan Ayu bersama senopati Arya Geni bersiap meninggalkan hutan, tempat mereka bermalam.


.


"Ayo putri, Anggala kita tinggalkan tempat ini!" ucap Arya Geni pada Anggala dan Wulan Ayu.


.


"Baiklah kak Senopati," jawab Anggala sadangkan Wulan Ayu hanya mengangguk, ia masih terlihat mengantuk.


.


"Kak Senopati pakai satu kuda, biar saya bersama kak Anggala,!" kata Wulan Ayu. menawarkan kudanya untuk Arya Geni.


.


"Baik Putri,!" jawab Arya Geni, "Maafkan hamba Putri, biarkan hamba memanggil tuan Putri, dengan panggilan Putri. Saya takut nanti terbiasa memanggil nama.," tambahnya lagi sambil menuntun kuda.


.


"Terserah Kak Arya saja, saya tidak bisa memaksa, tapi kalau bisa jangan terlalu sungkan," jawab Wulan Ayu sambil melompat keatas punggung kuda dibelakang Anggala.


.


Wulan Ayu naik ke belakang Anggala, kudanya di berikan pada Arya Geni, mereka mengebah kuda mereka dengan pelan menyusuri hutan.


.


"Kak senopati.! Kenapa kau berada di hutan ini..? tanya Wulan Ayu.


.


"Hamba sedang menyelidiki berita tentang pemberontakan Pangeran Roksa Galuh, Putri.!" jawab Arya Geni.


.


"Apa pemberontakan ini sudah lama, kak Senopati.?" tanya Wulan Ayu lagi.


.

__ADS_1


"Setau hamba baru beberapa bulan ini putri.!" jawab Arya Geni. "Memang pangeran Roksa Galuh sudah pergi selama empat tahun ini, tapi yang kami tau, dia pulang ke pertapaan gurunya, baru beberapa bulan ini terdengar kabar bahwa beliau mempersiapkan pemberontakan," tutur Arya Geni lagi.


"Tampaknya dia sudah lama mempersiapkan pemberontakan ini kak Senopati.!" kata Wulan Ayu, "Kalau baru-baru ini, tidak mungkin pasukannya sebanyak dan setangguh itu," tambah Bidadari Pencabut Nyawa itu.


.


Baru mereka hendak keluar dari hutan, namun tiba tiba. suara prajurit berlari dari balik pepohonan dan mengepung mereka bertiga. tampak lebih dari seratus orang prajurit pemberontak mengelingi mereka mengadakan pengepungan.


.


"Hahaha...! Serahkan diri kalian, atau nyawa kalian jadi taruhannya!" bentak orang berkuda di belakang para prajurit itu.


.


"Iblis hitam.! Kenapa dia bersama prajurit prajurit pemberontak.?" Arya geni berguman sambil memandang orang tua yang memimpin para prajurit itu.


.


"Siapa Iblis Hitam Kak Senopati?" tanya Anggala, bersiap-siap terhadap apa yang akan terjadi, mereka bertiga di kepung musuh yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang itu, di tambah lagi tokoh golongan hitam.


.


"Orang yang berbaju hitam itu..!" jawab Arya Geni, matanya tak berkedip menatap ke depan, ke arah musuh-musuhnya itu.


.


.


"Yang dua orang itu sepasang Warok Nusa Wungu, dari Bukit Tengkorak.!" tambah Arya geni, para prajurit yang mengepung mereka adalah prajurit berbaju kuning, berarti mereka lebih tinggi tingkatannya dari prajurit berbaju hitam.


.


"Tampaknya Pangeran Roksa Galuh juga merekrut para tokoh hitam dalam rencananya!" ujar Anggala.


.


" Ya. Kau benar Anggala, seperti yang kau bilang, tampaknya pangeran Roksa Galuh telah merekrut orang orang jahat itu.!" tambah Arya Geni menyetujui ucapan Anggala.


.

__ADS_1


"Tampaknya kali ini tak ada tempat untuk kabur Kak.!" kata Wulan ayu sambil menoleh ke arah Anggala yang ada di depannya, ia melompat turun dari kuda, begitu ringan tanpa bersuara injakan kakinya, bertanda ia telah memakai ilmu peringan tubuh.


.


"Ya, dinda kita beri mereka pelajaran," jawab Anggala sambil turun dari kuda, dan berdiri di samping Bidadari Pencabut Nyawa itu. Arya Geni pun turun dari kuda yang ia tunggangi.


.


"Prajurit tangkap mereka..!" perintah Iblis Hitam pada para prajurit yang mengepung Anggala, Wulan Ayu dan Arya Geni.


"Hup....!"


"Hiaaa....!"


"Hup....!"


Mereka bertiga melompat menghindari serangam para prajurit itu sambil berpencar.


Anggala melompat ke samping kana sejauh tiga tombak, Wulan Ayu melompat ke kiri sekitar dua tombak jauhnya. Sedangkan Arya Geni tetap di tengah.


.


Kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu kini terkembang, ada hawa panas di setiap ayunan kipas itu, Wulan Ayu memakai jurus 'Elang Perak, Menerkam Mangsa.


.


Para prajurit yang berhadapan dengan Bidadari Pencabut Nyawa beterbangan bagai daun terkena angin. Setiap kibasan kipas elang perak ditangan Wulan Ayu itu selalu ada angin kencang yang berhembus.


.


"Aaa...!" "Aaaa...!"


Para prajurit yang bertubuh Gempal gempal itu di buat tidak berdaya, menghadapi amukan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


.


Sementara Anggala melompat ke arah prajurit itu dan


"Heaaa......!" bentakan Anggala membahana menyambut serangan para prajurit itu, dengan ilmu Totokan Malaikat Semesta lebih dari dua puluh orang prajurit yang mengepung Pendekar Naga Sakti itu berubah mematung. para prajurit itu jadi patung hidup di tepi hutan itu.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2