
Sret!
"Keris Selaksa Hijau...!!?" Nini Sumirah cukup terkejut melihat tuan tanah Surya Karta menghunus keris dari balik punggungnya.
"Hmm...! Rupanya Wangsala dan Wangsaka telah menurunkan keris Selaksa Hijau pada manusia tidak berperasaan ini!" gumam Nini Sumirah.
"Nini, izinkan aku yang menghadapi manusia busuk itu," kata Wulan Ayu.
"Tidak usah, nak Wulan. Nini masih mampu menghadapi Surya Karta itu walau dengan tongkat butut ini," sahut Nini Sumirah sambil tersenyum.
"Baiklah, aku harap Nini tidak terpaksa karena malu pada kami," kata Wulan Ayu lagi.
"Nini tidak malu, Nak Wulan. Surya Karta itu anak manja, dia hanya biasa memerintah orang saja," jawab Nini Sumirah percaya diri.
"Ayo, Sumirah. Keris ini akan mengantar nyawamu ke neraka!" tantang tuan tanah Surya Karta sengit.
"Begini saja, Karta. Jika dalam dua puluh jurus kau tidak mampu mengalahkanku, maka kau harus menyerah dan mengembalikan seluruh tanah rakyat yang kau ambil, bagaimana?"
"Huh...! Jangankan dua puluh jurus, sepuluh jurus ku jamin kau akan keneraka, Sumirah!" sahut Surya Karta lantang penuh keberanian.
Surya Karta tampak begitu yakin jika ia akan menang dengan keris Selaksa Hijau di tangannya.
"Baik, jika aku berhasil mengalahkanmu. Maka kau dan para cecungukmu itu harus meninggalkan rumahku dan tidak akan mengganggu kekuasaanku lagi!" tuan tanah Surya Karta malah memberikan penawaran.
"Baik, ku pegang janjimu itu, Karta!" sahut Nini Sumirah sambil berjalan maju ke arah Surya Karta.
"Mati kau, perempuan tengik! Heaaah....!!" tuan tanah Surya Karta langsung melompat seraya menikamkan keris Selaksa Hijau ke arah Nini Sumirah dengan cukup cepat.
Trang!
Nini Sumirah tidak tinggal diam, dengan begitu sigap wanita berumur enam puluh tahunan itu menangkis serangan keris Selaksa Hijau Surya Karta dengan tongkat di tangannya.
Tuan tanah Surya Karta bergerak cepat setelah menikamkan keris Selaksa Hijau, ia menyabetkan kerisnya dengan cepat ke arah lengan kiri Nini Sumirah.
Nini Sumirah cepat menarik tubuhnya ke samping, dengan begitu cepat wanita tua itu menyodokkan ujung tongkatnya ke perut Surya Karta.
__ADS_1
Buak!
"Akgh...!" Surya Karta berusaha menarik tubuhnya ke belakang, namun sodokan tongkat Nini Sumirah telah menghantam perutnya. Tidak ayal lagi keluhan tertahan Surya Karta terdengar jelas sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang sekitar satu tombak.
Surya Karta tampak memegangi perutnya yang terasa di aduk-aduk, wajahnya memerah menahan nyeri dan sakit. Jika saja ia tidak memiliki tenaga dalam, tentu saja ia sudah menyemburkan darah segar.
"Bagaimana, Karta. Masih mau bermain?" kata Nini Sumirah dengan senyum menyungging membuat amarah tuan tanah Surya Karta meledak-ledak, sambil mengerahkan tenaga dalam laki-laki setengah baya itu merapal sebuah ajian yang di berikan oleh Wangsala padanya.
"Swoss! Wusss...!!
Tiba-tiba angin berputar di sekeliling tubuh tuan tanah Surya Karta dengan cahaya hijau berseling merah. Keris di tangan tuan tanah Surya Karta itu kini di selimuti cahaya hijau menyala.
"Jurus 'Pukulan Keris Selaksa Hijau Memecah Batu'. Rupanya kau tidak hanya bekerja sama dengan dua bajingan itu, Karta. Kau juga telah menjadi muridnya," kata Nini Sumirah.
"Anggala, bawa yang lain menjauh. Aku akan hadapi jurus keris Karta itu dengan jurus 'Bidadari Air Terjun Tujuh Warna'.," kata Nini Sumirah sambil menancapkan tongkat andalannya di tanah di depannya.
"Baik, Nini. Hati-hati!" sahut Anggala sebelum bergerak menjauh ke belakang sekitar empat tombak.
Nini Sumirah merentangkan kedua tangannya di samping tubuhnya, cahaya tiga warna tiba-tiba menyelubungi kedua tangan pendekar wanita yang bergelar Dewi Bukit Kayangan tersebut.
Sementara tuan tanah Surya Karta tampak menyilangkan keris Selaksa Hijau di depan dada, cahaya hijau menyala itu kini telah menyelubungi seluruh tubuh si tuan tanah.
"Ya, Kakak juga melihatnya, Dinda," sahut Anggala sambil tersenyum.
"Anggala, Kau yakin Nini Sumirah bakal menang menghadapi keris yang di gunakan tuan tanah itu?" tanya Singo Abang yang tampak mencemaskan Nini Sumirah.
"Tidak usah cemas, Sahabat. Tenaga dalam yang dimiliki Nini Sumirah jauh di atas tuan tanah itu, kemungkinan manusia tamak itu menang sangat kecil," sahut Anggala menyakinkan Singo Abang.
"Aku harap Nini Sumirah bisa menang, jika tidak rakyat Desa Bukit Kayangan akan kecewa para kita," timpal Singo Abang lagi.
"Kita harus percaya pada Nini Sumirah, Sahabat. Beliau lebih memikirkan masyarakat yang hidup bersamanya selama ini," sahut Jaka Kelana.
"Kecemasan kalian tidak salah, namun yang di katakan Jaka bener. Kita harus percaya pada Nini Sumirah," timpal Wulan Ayu.
Sementara itu kedua orang yang sedang mempersiapkan adu kesaktian tampak telah hampir mengirimkan pukulan andalan mereka.
__ADS_1
"Mati kau, Sumirah...!! Heaaah......!!" bentakan nyaring tuan tanah Surya Karta terdengar jelas nyaring. Surya Karta mengayunkan keris Selaksa Hijau di tangannya, cahaya hijau menyala itu kini melesat kearah Nini Sumirah.
Nini Sumirah pun tidak tinggal diam setelah ia menyatukan telapak tangannya di depan dada, dan tiga cahaya berbeda warna itu menyatu dan membentuk bulatan. Namun Nini Sumirah tampak menunggu sinar hijau menyala itu menerpa ke arahnya.
"Hiyaaaat....!!"
Setelah cahaya hijau itu hampir mengenainya, barulah Nini Sumirah menyorongkan kedua telapak tangannya ke depan.
Woss! Swoss!
Blaaaarrrr......!!!!
Ledakan keras terdengar lantang ketiga dua cahaya saling beradu di udara. Dua gelombang api menekan ke segala penjuru, asap hitam terlihat membumbung ke udara. Tanah dan debu terlihat berhamburan menutupi pemandangan.
"Uhuak...! Uhuakh...!" Nini Sumirah terlihat terdorong mundur sekita dua tombak, pendekar wanita itu terlihat memegangi dada sambil berlutut. Tangan kirinya kini terluhat berpegangan pada tongkatnya.
"Mak....!!" Cindai Mata terlihat menghambur ke dekat ibunya.
Sementara itu tuan tanah Surya Karta terlihat terpental ke arah belakang setelah beradu pukulan dengan Nini Sumirah. Surya Karta terlihat terpental hingga menabrak dinding rumahnya yang terbuat dari papan yang bersusun rapi.
"Suamiku....!!" terdengar jerit tangis istri tuan tanah Surya Karta sambil memangku suaminya yang terlihat sekarat dengan dada pakaian berubah kehitaman bagai terbakar api.
"Bukankah sudah aku katakan suamiku, ini yang aku cemaskan...! Hu hu hu....!!" isak tangis wanita hampir setengah baya dengan pakaian bak seorang putri terdengar jelas begitu kepala tuan tanah Surya Karta terkulai lemah dengan napas berhenti dari mulutnya.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Cindai Mata sambil memegangi bahu ibunya.
"Tidak, aku hanya mengalami luka dalam ringan, Cindai," sahut Nini Sumirah sambil tersenyum dan bangkit berdiri.
"Tapi mulut ibu berdarah?" timpal Cindai Mata cemas.
"Sudah mak katakan Cindai, Mak hanya terluka dalam ringan!" sahut Nini Sumirah tegas.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....