
"Syukurlah, semua berakhir," ucap Kenanga, di ikuti senyum ketiga adik seperguruannya, ketiga gadis itu langsung bergegas masuk ke rumah besar di tengah Lembah Ukam itu.
Tidak lama kemudian terdengar ramai suara para gadis yang keluar dari rumah besar itu, "Terima kasih banyak, Pendekar," ucap para gadis yang begitu gembira mereka berhasil di selamatkan tanpa kurang suatu apa pun.
"Sama-sama, kalian bisa pulang ke rumah kalian sekarang," jawab Wulan Ayu.
"Hei... Pendekar itu tampan ya," kata seorang gadis pada temannya.
"Hus! Dia sudah punya kekasih tentunya, gadis cantik berbaju biru itu mungkin kekasihnya," jawab temannya sambil tertawa.
"Kan, aku cuma mengaguminya, aku tidak mungkin jadi dengan pendekar sehebat dan sesakti dia, bisa makan hati aku," ujar gadis itu sambil tertawa.
"Jangankan kalian, aku saja sesama pendekar mengagumi kak Anggala," bisik Kenanga dalam hati.
"Kenapa, Kak? Kok bengong?" tanya Nila Sari.
"Hmm...! Nggak, aku hanya kepikiran, mayat-mayat itu harus kita kubur. Mereka juga manusia, kasihan jika sampai di makan hewan buas," kilah Kenanga menutupi kata hatinya.
"Kenanga benar Kak, kita harus mengubur mayat-mayat itu," imbuh Wulan Ayu.
"Baiklah, sekarang giliran kalian yang menggali kubur, biar aku yang mengubur mereka," sahut Anggala sambil tertawa kecil.
"Baik, siapa takut. Ayo Kenanga!" jawab Wulan Ayu sengit sambil tertawa.
__ADS_1
"Ayo...!" jawab Kenanga bersemangat.
Tidak butuh waktu lama, dengan tenaga dalam mereka berdua yang sudah di atas tingkat enam puluh, menggali lobang untuk kuburan bukan hal yang sulit.
"Sudah Kak, sekarang giliran Kakak," seru Wulan Ayu dari dalam hutan begitu selesai membuat lobang makam.
Anggala segera mengambil mayat satu-persatu, lalu menguburkan nya dengan layak. Tidak begitu lama dengan bantuan Nila Sari, Seruni dan Ambara Wati, Anggala selesai dengan cepat mengubur mayat Cakra Bima dan Ujang Seta beserta mayat orang-orang berpakaian merah yang tewas. Sedangkan yang terluka telah melarikan diri ke dalam hutan.
Setelah selesai menguburkan seluruh mayat yang ada, tampak para gadis kampung berdiri di tepi hutan tidak jauh dari mereka berenam.
"Hei, bukankah kalian mau pulang, kenapa tidak jadi?" seru Wulan Ayu.
"Maaf pendekar, sebentar lagi senja, sedangkan kampung kami jauh dari sini. Kami takut ketemu hewan buas," jawab salah seorang gadis itu.
"Iya, ya. Aku baru sadar jika hari sudah hampir malam, bagaimana Kak, apa kita harus menginap di rumah Cakra Bima ini?"
"Iya juga, kebetulan di dalam aku melihat banyak makanan, kita bisa manfaatkan malam ini," kata Seruni.
"Apa kalian tidak takut, kita baru saja membunuh yang empunya rumah, sekarang kita menginap di rumahnya?" Kenanga tampak agak ragu.
"Ada yang takut hantu nih?" kata Wulan Ayu sambil tertawa.
"Takut sih nggak, cuma ngeri aja," rungut Kenanga di ledek Wulan Ayu.
__ADS_1
"Ya sudah, Ayo," ajak Anggala, "Apa juga yang di takutkan, kita hanya melakukan tugas kita sebagai manusia. Lagian kita sudah menguburkan mereka dengan layak," tambah Anggala sambil berjalan ke arah rumah besar milik Cakra Bima itu.
Mereka pun memasuki rumah itu di ikuti para gadis desa, setelah menghidupkan pelita yang ada di dinding rumah barulah mereka mencari tempat duduk masing-masing. Mereka menyempatkan. diri memasak ikan kering simpanan Cakra Bima, para gadis desa yang memasak nasi dan lauknya.
Paginya barulah mereka kembali ke desa mereka masing-masing, sedangkan Wulan Ayu dan Anggala kembali bersama Kenanga ke Perguruan Mawar Putih.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa beri rating ya teman-teman sebagai penyemangat author buat terus nulis.
Jangan dukung novel ini ya teman-teman.
Dengan
Hadiah.
Rate.
Like.
__ADS_1
Koment.
Dan Votenya.