
"Hmm....! Kamon mendengus pelan menyadari semua teman-temannya telah tewas berhadapan dengan para pendekar dari Pulau Andalas itu.
"Jika aku lanjutkan, hanya akan mengantar nyawa. Semua ini bukan dendam pribadi, mereka bukanlah pendekar biasa, wajar jika Setan Merah Pencabut Nyawa rela menyewa kami jauh-jauh,," desis Kamon dalam hati.
Kamon sempat menyabetkan kedua pedangnya ke arah Singo Abang secara cepat, namun pendekar dari Bukit Tambun Tulang itu cepat menangkis dengan keris bersinar merah di tangannya.
"Hup!" Kamon cepat melesat ke arah Kla yang bertarung dengan Singo Abang, Namun gerakan Kamon tertahan dan terpaksa menghindar serangan Anggala yang menyerangnya dari samping dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'.
Trang!
Kamon langsung melepaskan kedua pedangnya dan berdiri tegak menghadap Anggala dan Singo Abang.
"Kla.... Hentikan pertarungan ini, kita sudah kalah... Teman-teman kita sudah mati semua....!" seru Kamon pasrah saat Singo Abang bergerak menyerangnya.
"Apa....!!?" Kla tersentak dan langsung melompat mundur sekitar lima tombak dan langsung menancapkan kedua pedangnya di tanah. Tanpa mempedulikan Singo Jayo dan Jaka Kelana lagi Kla bergerak perlahan ke dekat Kamon.
"Hup!"
"Tahan, Sahabat. Tidak baik menyerang musuh yang sudah menyerah," cegah Jaka Kelana pada Singo Jayo yang berniat melompat dengan keris di tangannya.
"Hmm....! Sebaiknya hati-hati, Sahabat. Aku takut mereka berniat curang!" kata Singo Jayo tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
"Ya, Sahabat benar. Tapi mereka sudah meletakkan senjata mereka," sahut Jaka Kelana pelan.
"Hih....!" Singo Jayo tampak menarik nafas perlahan dan menghembuskanya kuat-kuat, terlihat Singo Jayo berusaha meredam amarahnya.
"Maaf, Sahabat Jaka. Aku agak terbawa suasana, kami boleh di bilang jarang ketemu musuh yang begitu tangguh," ucap Singo Jayo sambil tersenyum. Singo Jayo menyarungkan kembali kerisnya kedalam warangka yang ada di balik pinggangnya.
"Kalian boleh membunuh kami, Kisanak. Tapi ini bukan dendam pribadi, kami kesini karena di bayar oleh Saga Lintar," ucap Kamon sambil duduk di tanah dan mengambil posisi bersila.
Begitupun dengan Kla yang baru datang ke dekat Kamon, ia memilih duduk dan meyelepok di tanah di tengah teriknya matahari.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu?" gumam Wulan Ayu sembari membuka matanya dari semedi yang ia lakukan dengan Singo Sarai. Wulan Ayu merasa aneh suara hiruk pikuk pertarungan yang tadi masih jelas terdengar kini jadi sepi.
"Ada apa, Wulan?" tanya Singo Sarai ikut membuka mata.
"Suara pertarungan tiba-tiba terhenti. Apa mereka menyerah?" kata Wulan Ayu memandang ke arah Singo Sarai.
"Sebaiknya kita kesana, Wulan. Kita lihat apa yang terjadi?" timpal Singo Sarai berdiri duluan. Singo Sarai mencemaskan kedua abannya.
"Santai saja, Sahabat. Aku yakin tidak terjadi apa pun pada kedua saudaramu," kata Wulan Ayu seakan membaca isi hati Singo Sarai.
"Kau menebak dengan tepat, Wulan," kata Singo Sarai sambil berusaha tersenyum.
"Aku pernah mendengar sepak terjang Datuk Panglima Hijau dari Bukit Tambun Tulang, aku yakin muridnya adalah para pendekar yang hebat-hebat!" sahut Wulan Ayu meyakinkan.
"Kami tidak sehebat kakek guru, Wulan," kilah Singo Sarai.
"Aku melihat kalian bertarung belum dengan semua kemampuan. Boleh di bilang kalian masih bertahan tanpa menyerang dengan sungguh-sungguh," kata Wulan Ayu sembari menoleh kearah Singo Sarai.
"Apa yang akan kau lakukan, Sahabat?" ujar Singo Abang bertanya dan menoleh kearah Anggala.
"Aku tidak ada dendam pribadi dengan mereka berdua. Menghukum mereka tidak ada gunanya, biarkan mereka bertobat jika bisa?!" kata Anggala seraya tersenyum pada Singo Abang.
"Jadi, apa yang akan kalian lakukan pada kami?" tanya Kamon melihat Anggala dan teman-temannya malah ngobrol.
"Kami tidak ada dendam dengan kalian, jika kalian mau tidak berurusan dengan kami sebaiknya tinggalkan semua pekerjaan yang tidak baik ini!" kata Anggala menasehati.
"Ya, sekarang ini yang bakal punya dendam atau tidaknya adalah kalian berdua, karena teman-teman tewas di tangan kami semua," timpal Jaka Kelana.
"Jika soal itu kami tidak dendam, Kisanak. Kalian membela diri, membunuh atau di bunuh," sahut Kamon berbesar hati.
"Baiklah, jika kalian berbesar hati sebaiknya kalian tinggalkan Pulau Andalas ini. Aku takut kalian malah akan berurusan dengan orang-orang Partai Teratai Hitam," kata Anggala.
__ADS_1
"Jika kalian mau mengambil barang atau harta para sahabat kalian silahkan. Jika tidak keberatan kuburkan mereka di dalam hutan," sambut Jaka Kelana lagi.
"Baiklah, kami mohon diri dulu," kata Kamon seraya bangkit dari duduknya.
"Maaf, Kisanak. Pedang kalian...," kata Singo Jayo. Kamon memandang ke arah Anggala dan teman-temannya sebelum memungut dua pedangnya yang tergeletak di tanah.
"Ambillah, Kisanak. Nyawa seorang pendekar terletak pada senjatanya," kata Anggala.
"Apa yang terjadi, Kak?" tiba-tiba Wulan Ayu dan Singo Sarai sudah ada di belakang mereka berempat.
"Mereka mengajak berdamai dengan keadaan," jawab Anggala kalem.
"Karena mereka tidak akan menang lagi,!" sahut Wulan Ayu sewot.
"Mana musuh kalian..?" tanya Jaka Kelana.
"Sudah mabur...!" sahut Singo Sarai tertawa.
"Ke kubur!" sambut Singo Abang senang melihat adik bungsunya tidak apa-apa.
Anggala hanya tersenyum melihat kekasihnya baik-baik saja, "Dinda tidak apa-apa?" Anggala menyelidik.
"Dinda hanya terluka dalam sedikit tadi, tapi sudah bersemedi bersama Singo Sarai," sahut Wulan Ayu. Singo Sarai hanya tersenyum saja.
Sementara Kamon dan Kla tampak sibuk di tengah hutan membuat kuburan untuk kelima teman-temannya. Setelah selesai mengubur seluruh anggota Tujuh Pedang Pembunuh yang tewas mereka kembali ke warung Aki Syarif untuk membayar makanan dan mengganti kerugian yang mereka buat.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1