Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Jatuhnya Si Payan Kembar


__ADS_3

Pendekar Naga Sakti perlahan mengambang ke udara dengan kedua telapak tangan masih merapat di depan dada. Setelah berada di udara Pendekar Naga Sakti perlahan membuka kedua tangannya dan merentangkan ke samping kiri dan kanan.


"Hiyaaa....!!"


Swoosss....!


Swoss....!!


Si Botak Payan Kembar dengan begitu cepat melesat menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti yang masih mengambang di udara itu. Melihat Si Payan Kembar menyerang bagai roket Pendekar Naga Sakti melesat mundur jauh ke angkasa.


Begitu jarak Pendekar Naga Sakti dan Si Payan Kembar cukup jauh, Pendekar Naga Sakti meluncur deras ke bawah dengan kedua telapak tangannya ke depan dada. Empat bayangan naga itu berkeliling di sekitar tubuhnya.


Wuss....!


Wusss.....!


Blaaarrr......!!!"


Ledakan Besar terjadi dengan begitu cepat. Debu dan tanah berhamburan ke udara. Gelombang api menghempas ke semua penjuru tempat itu.


Pendekar Naga Sakti tampak terdorong kebelakang sekitar lima tombak. Namun ia tidak mengalami apa pun. Pendekar Naga Sakti tampak hanya memegangi dada yang terasa agak sesak karna aliran darah agak kacau, dan napas yang jadi tidak beraturan.


Pendekar Naga Sakti cepat-cepat mengatur sirkulasi darah dan pernapasannya. Pendekar Naga Sakti duduk bersemedi di tempat ia berdiri itu.


Sementara itu Si Payan Kembar tampak lintang pukang terpental puluhan tombak ke belakang. Berkali-kali tubuh Si Botak menghantam batang pohon hingga patah menjadi dua. Pepohonan itu langsung tumbang ke tanah mengeluarkan suara berderum. Si Botak Payan Kembar terakhir menyasar tanah sambul terlentang dan tertahan di sebatang pohon besar.


Tubuh Si Botak tampak berubah kehitaman. Baik pakaian maupun kulitnya. Si Botak tampaknya terhantam pukulannya sendiri yang berbalik arah. Si Payan Kembar tewas dengan tubuh hitam bagai terbakar.


"Waduh..! Kok si botak jadi babi panggang pendekar!" Cetus Aryaguna tampak telah berdiri si samping Anggala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana keadaan Kamandaka Sobat?" Tanya Pendekar Naga Sakti sambil menoleh ke arah Aryaguna yang berdiri di sampingnya.


"Kak Kamandaka tidak apa-apa, dia sedang bersemedi di temani Kanda Raka Pendekar Naga Sakti," Jawab Aryaguna sambil tersenyum. Aryaguna pun berjongkok di samping tempat Anggala duduk itu.

__ADS_1


"Pendekar sendiri bagaimana?" Tukas Aryaguna sambil memandang ke arah Anggala.


"Saya tidak apa-apa Sobat, terima kasih sudah datang membantu," Ucap Pendekar Naga Sakti sambil berdiri dan melempar senyum pada Aryaguna.


"Syukurlah kalau sobat pendekar tidak apa-apa!" Jawab Aryaguna juga ikut berdiri. Pendekar Naga Sakti berjalan mendekati Kamandaka yang masih duduk bersemedi di tunggui oleh Raka Adiwangsa.


"Kau tidak apa-apa Sobat?" Tanya Kamandaka tampak membuka matanya begitu mendengar Anggala berada di dekatnya.


"Saya tidak apa-apa Sobat! Terima kasih telah datang membantu, jika tidak saya cukuo kesulitan menghadapi keroyokan para perampok dan pembunuh bayaran itu," Ucap Pendekar Naga Sakti sambil duduk di samping Kamandaka.


"Walau kami tidak datang, saya yakin Pendekar mampu menghadapi keroyokan para perampok itu," Kata Kamandaka sambil tersenyum, "Terima kasih obatnya sahabat, obat yang sahabat berikan begitu mujarab mengobati luka dalam," Tambah Kamandaka lagi.


"Syukurlah kalau obat itu mujarab, o iya Kalian mau kemana setelah ini?" Tanya Anggala.


"Sebenarnya kami memang di kirim oleh kakek Pertapa untuk membantumu Sahabat. Beberapa desa di seberang gunung pungur sana meresahkan bahwa banyak para gadis dan ternak mereka di culik dan di bawa oleh anak buah Warok Singa Merah itu. Kami di perintahkan oleh guru kami untuk membantu melepaskan para tawanan perampok itu. Kami takut para gadis itu di jadikan sandera untuk mengalahkanmu Sahabat!" Jawab Kamandaka. Raka Adiwangsa dan Aryaguna hanya ikut mengangguk membenarkan penjelasan Kamandaka itu.


"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita kembali ke kampung Jati Arum, Kalian akan saya perkenalkan pada Tiga Elang," Kata Anggala sambil tersenyum.


"Tiga Elang? Siapa itu Sahabat. Burung?" Tanya Raka Adiwangsa tampak bingung dan melangkah di samping Anggala.


"Rupanya Pendekar Naga Sakti bisa juga berteka-teki!" Ucap Kamandaka sambil tertawa.


"Buat para sahabat itu penasaran tampaknya seru!" Ucap Pendekar Naga Sakti. Setelah berkata Pendekar Naga Sakti melesat cepat meninggalkan tempat itu.


Melihat Anggala melesat ketiga murid Pertapa Sakti Tongkat Emas terpaksa ikut melesat, Mereka tidak mau ketinggalan.


Tidak butuh waktu lama Pendekar Naga Sakti telah mencapai ujung hutan itu dan memasuki kampung Jati Arum. Setelah memasuki Kampung Jati Arum Anggala kembali berjalan santai. Kamandaka dan kedua adik seperguruannya berhasil menyusul.


"Lari Pendekar Naga Sakti cepat sekali, kami hampir tidak sanggup mengejar!" Kata Kamandaka sambil berjalan di samping Anggala di ikuti Raka dan Aryaguna.


Melihat Anggala kembali Wulan Ayu langsung menyongsong dengan melesat cepat, "Kakak kok lama sekali dinda sempat cemas," Cerocos Bidadari cantik dari barat itu.


"Maaf Dinda tadi Kakak sempat kerepotan menghadapi para perampok itu. Rupanya perampokan itu hanya jebakan," Jelas Anggala.

__ADS_1


"Tapi Kakak tidak apa-apa kan?" Telisik Wulan Ayu sambil memeriksa Pendekar Naga Sakti dengan begitu seksama.


"Tenang cantik! Kekasihmu itu hebat!" Ucap Kamandaka sambil tersenyum, "Perkenalkan kami sahabat baru Pendekar Naga Sakti, saya Kamandaka dan ini adik seperguruan saya Raka Adiwangsa dan Aryaguna," Tambah Kamandaka lagi.


"Eh ada orang saya sangka tadi bukan orang!" Kelakar Wulan Ayu sambil tersenyum, "Saya Wulan Ayu," Tambah Bidadari Pencabut Nyawa memperkenalkan diri.


"Wulan Ayu, Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu kan?" Tanya Kamandaka sambil tertawa dan memegang kepalanya yang tidak gatal.


"Kalian pernah dengar tentang Bidadari Pencabut Nyawa?" Tanya Wulan Ayu.


"Ya, Bidadari Pencabut Nyawa jadi buah bibir para pendekar dunia persilatan sekitar setahun yang lalu," Jawab Kamandaka.


"He he he..! Rupanya dinda cukup tenar ya Kak!" Kata Wulan Ayu sambil tersenyum manja dan memeluk lengan Pendekar Naga Sakti.


"Ya sudah kita masuk yuk! Kita cerita di dalam sambil minum," Ajak Anggala pada Kamandaka sambil tertawa melihat tingkah manja Bidadari Pencabut Nyawa.


"Kemboja antarkan tamu kita makanan dan minuman!" Pinta Wulan Ayu pada Kemboja.


"Baik! Bentar ya!" Sahut Kemboja dari depan tempat makanan. Kemboja dan teman-temannya menyiapkan makanan dan minuman untuk ketiga Pendekar Tongkat Naga Emas.


"Kak Arai, Kak Anggala bawa tiga Pendekar muda yang cukup tampan-tampan tuh!" Tunjuk Kemboja begitu Dewi Arau datang dari belakang.


"Eh tunggu Kemboja. Kalau boleh biar Kakak yang antar, bisa kan?" Tawar Dewi Arau sambil tersenyum.


"Silahkan!" Jawab Kemboja sambil tersenyum simpul, "Ada yang suka nih," Goda Kemboja sambil menyiapkan makanan.


"Mudah-mudahan belum ada yang punya," Guman Dewi Arau hampir tidak terdengar. Ia pun beranjak mengantarkan makanan yang di siapkan Kemboja ke meja yang di tempati Kamandaka dan Anggala.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


.


__ADS_2