
"Hiyaaa.....!" jerit melengking tinggi keluar dari mulut Wulan Ayu sambil melesat menyongsong serangan Rasolika yang meluncur ke arahnya.
Trang!
Dess! Dess!
Blaaarrr....!!
Ledakan keras terdengar membahana ketika dua cahaya dari kedua pedang itu bertemu, gelombang api menghempas ke segala arah.
Rasolika tampak terpental sekitar lima tombak ke belakang, ia jatuh bergulingan di tanah.
Begitu juga dengan Wulan Ayu tampak terdorong beberapa tombak ke belakang, bedanya ia tidak jatuh seperti si Pedang Kilat.
"Hup! Hebat juga ilmu si Pedang Kilat ini," gumam Wulan Ayu sambil mengalirkan hawa murni untuk menormalkan tekanan darah dan pernafasannya yang kacau.
"Uhuakh!" Rasolika membatukkan darah segar, laki-laki berpakaian merah itu tampak berlutut sambil memegangi dadanya.
"Kak Lika, apa kita harus memanggil bantuan?" tanya salah seorang adik seperguruan Rasolika.
"Terserah kalian," jawab Rasolika tampak pasrah.
Suit....!" tiba-tiba salah seorang adik seperguruan Rasolika bersuit panjang, tidak lama kemudian tampak dari dalam hutan muncul sekelompok orang-orang berpakaian hitam tidak kurang dari empat puluh orang.
"Kurang ajar! Mereka terlalu banyak," desis Wulan Ayu menatap ke arah puluhan orang yang baru bermunculan itu.
Wulan Ayu tampak mempersiapkan diri menghadapi kepungan puluhan orang-orang dari Perguruan Elang Hitam itu.
"Sebaiknya kau menyerah saja gadis cantik, atau tubuh molekmu itu akan rusak terkena senjata kami!" ancam salah seorang adik seperguruan Rasolika itu.
"Cobalah, jika kalian mampu!" tantang Wulan Ayu sengit.
"Hmm.... Mereka rata-rata mempunyai kepandaian di tingkat lima puluh dan jumlah mereka terlalu banyak. Kak Anggala dimana kau?" desis Wulan Ayu dalam hati.
Dengan ilmu 'Mata Bidadari'.nya, Wulan Ayu bisa melihat seberapa tinggi kepandaian musuh, dan seberapa besar tenaga dalam yang di miliki orang-orang itu. Namun karena jumlah mereka yang cukup banyak tentu akan membuatnya kerepotan.
"Ha ha ha...! Kau mulai ragu, nisanak. Kau tidak mungkin mampu mengalahkan kami semua! Ha ha ha....!" tawa orang-orang Perguruan Elang Merah itu terdengar riuh.
Sret!
Wulan Ayu menyarungkan pedang elang perak ke dalam warangka di balik punggungnya. Gadis berpakaian serba biru itu tampak mengeluarkan kipas elang perak dari balik bajunya.
__ADS_1
"Tangkap dia...!" perintah salah seorang adik seperguruan Rasolika itu. Tanpa banyak bicara lagi lima orang melompat ke arah Wulan Ayu sambil menyabetkan golok mereka.
"Hiyaaa....!" jerit melengking tinggi keluar dari mulut Wulan Ayu, seketika itu pula murid dua Pendekar Pemarah itu mengibaskan kipas elang perak di tangan kanannya ke arah para penyerangnya.
Set! Set! Set!
Crab! Crab! Cress!
"Aaaa....!" jerit kesakitan terdengar lantang dari mulut lima orang murid Perguruan Elang Merah itu. Kelima orang itu langsung terpental dengan tubuh tertancap dan tertembus jarum kecil senjata rahasia dari daun kipas elang perak.
Kipas elang perak memang di tempa dengan kesaktian Satria Elang Perak, jika dengan aliran tenaga dalam ke dalam daun kipas itu. Maka kipas elang perak bisa membuat jarum kecil yang bisa di pakai sebagai senjata rahasia.
Lima orang anggota Perguruan Elang Merah itu langsung tewas dengan luka yang cukup parah di bagian dada dan leher.
"Kurang ajar! Rupanya dia mempunyai senjata rahasia. Hati-hati...!" kata salah seorang adik seperguruan Rasolika itu pada kawan-kawannya.
"Heaaa....!" tiba-tiba sekitar sepuluh orang melemparkan golok mereka ke arah Wulan Ayu. Golok-golok murid Perguruan Elang Hitam berseliuran di udara.
Set! Set! Set!
"Hup!" Wulan Ayu cepat melentingkan tubuhnya ke udara sehingga serangan golok yang di buat sebagai senjata rahasia itu hanya mengenai angin kosong.
Tap! Tap! Tap!
kesepuluh orang itu dengan cukup sigap menahan gagang golok itu dan menangkapnya.
"Hiyaaa...!" tiga orang bertindak sebagai penyerang lanjutan begitu Wulan Ayu menjejak tanah. Tiga golok itu mengincar ke arah dada dan leher Wulan Ayu.
"Hih!" dengan menarik lehernya kebelakang Wulan Ayu sembari bergerak menangkis serangan golok yang mengarah ke arah dadanya.
Trang!
Bidadari Pencabut Nyawa cepat bergerak ke arah samping ketiga penyerangannya seraya menyabetkan ujung kipas elang perak yang dari tadi sudah keluar pisau kecil runcing itu.
Srass!
"Akgh....!" salah seorang adik seperguruan Rasolika yang paling dekat dengan Wulan Ayu mengeluh tertahan, ketika sambaran pisau kecil di ujung kipas elang perak menyambar dada kirinya.
Murid Perguruan Elang Merah itu langsung jatuh ke tanah dengan luka menganga di bagian dada kanan.
Beberapa saat laki-laki berpakaian serba hitam itu masih bergerak berkelonjotan, tidak lama kemudian diam tidak berkutik. Laki-laki itu tewas dengan darah mengalir dari bagian dadanya.
__ADS_1
"Lakukan formasi elang hitam!" teriak salah seorang dari tiga adik seperguruan Rasolika itu. Sementara Rasolika tampak duduk bersemedi mengobati luka dalam yang ia derita.
Jurus pedang yang di gunakan oleh Rasolika tadi cukup tinggi, sehingga ia tidak tewas terkena jurus 'Pedang Kayangan'. milik Bidadari Pencabut Nyawa.
Walau mengalami luka dalam yang begitu parah, Rasolika masih bisa bertahan. Apalagi dengan adik-adik seperguruannya memberikannya waktu untuk bersemedi.
Sekitar tiga puluh delapan orang murid Perguruan Elang Merah itu tampak berkumpul dengan membentuk barisan membentuk elang.
Tampak mereka membuat dan mengatur jurus yang sama.
"Bahaya, mereka tampaknya mengerahkan formasi andalan Perguruan Elang Merah. Aku harus mengerahkan jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat tujuh, jika tidak ingin jadi santapan jurus mereka," gumam Wulan Ayu sembari meningkatkan tenaga dalam ke arah tangan kanannya.
"Hup!" Wulan Ayu mengayunkan pedang elang perak ke arah samping dari kiri ke kanan memutari kepalanya. Cahaya putih keperakan tampak membentuk bulatan mengitari tubuh Wulan Ayu di arah depan.
Cahaya itu kemudian berubah menjadi mata pedang yang tampak mengelilingi lingkaran itu.
"Serang....!" teriak orang yang berada di barisan depan, seketika kelompok adik seperguruan Rasolika itu melesat secara serentak.
"Hiyaaat....!" teriakan Wulan Ayu menggema di iringi dengan tubuhnya melesat bagai kilat ke arah rombongan musuhnya.
Swing! Swing! Swing!
Crass! Crab! Crab!
"Aaaa.....!" jerit kesakitan terdengar dari dalam rombongan formasi para murid Perguruan Elang Merah itu. Lebih dari sepuluh orang anggota formasi itu bermentalan terkena sambaran pedang Wulan Ayu.
Sret!"
"Ahkh...!" suara meringis terdengar dari mulut Wulan Ayu ketika bahu kanannya sempat terserempet sebuah pedang anggota formasi elang hitam para murid Perguruan Elang Merah itu.
"Hup!" Wulan Ayu segera mlompat ke udara dan bersalto dua kali sehingga ia sempat menjaga jarak dari rombongan formasi adik-adik seperguruan Rasolika itu.
"Hiyaaa....! Mati Kau...!" teriakan si Pedang Kilat terdengar nyaring, kecepatan tubuh Rasolika itu hampir tidak terlihat mata orang biasa. Rasolika mengayunkan cepat pedangnya ke arah leher Wulan Ayu.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1