
Sementara itu Kelabang Ungu tampak mulai memperlambat lari kudanya. Putri Reksa Gana itu tampak agak berat meninggalkan ayahnya di Desa Mekar Ramai itu.
Hiiiikk..!!
Kuda yang ditunggangi Mekar Suri meringkik ketika tali pelananya ditarik kencang. Mekar Suri mengucek matanya, seakan tidak percaya apa yang ia lihat di depannya.
"Kau!" suara Mekar Suri terdengar tersendat, "Sejak kapan Kau berada disana?" bentak Kelabang Ungu sambil melompat turun dari kudanya.
"Kau kira bisa lari dariku, Kelabang Ungu!" geram Bidadari Pencabut Nyawa sambil menatap tajam pada Mekar Suri.
"Hahaha...! Kau kira aku lari darimu hah..! Jangan bermimpi Bidadari Pencabut Nyawa. Jangan salahkan aku, karna Kau sendiri yang mengantarkan nyawamu padaku," tampik Mekar Suri dengan nada suara tinggi.
"Buktikan dulu mulut besarmu itu, barulah Kau bisa berbicara pongah gadis tengik!" berang Wulan Ayu sambil membuka kuda-kudanya bersiap untuk bertarung.
"Bersiaplah.. Bangsat! Terima kematianmu!" pekik Mekar Suri sambil melompat kearah Wulan Ayu, dengan kedua telapak tangan membentuk cakar.
"Hiyaaat..!" Wulan Ayu pun menyongsong dengan kedua tangan didepan dada. Kedua gadis itu saling mengadu pukulan, mereka saling menyerang dan menangkis serangan.
"Hiyaaa..!" Wulan Ayu menusukkan ujung jemarinya kearah leher Mekar Suri dengan cukup cepat. Namun Mekar Suri cepat memiringkan lehernya kesamping. Serangan Wulan Ayu itu hanya mengenai angin kosong. Secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa itu mengibaskan telapak tangan nya kearah samping, namun Mekar Suri cepat menunduk, menghindar.
"Hiaaa...!" Mekar Suri menyempatkan diri menendang kearah perut Wulan Ayu. Begitu cepat Bidadari Pencabut Nyawa itu menangkis dengan telapak tangan kanannya.
Tap!
Hiyaaat...!" Wulan Ayu menyusulkan sebuah tendangan kearah kepala Mekar Suri dengan begitu cepat. Namun Kelabang Ungu itu masih sempat menangkis tendangan itu.
Duak...!
Mekar Suri terjelengkang ketanah karena hilang keseimbangan. Kelabang Ungu itu cepat melompat bangun. Bidadari Pencabut Nyawa tidak memberi kesempatan sebuah tendangan terbang disusulkan kearah Mekar Suri yang hampir belum siap itu.
"Heh!" Mekar Suri terbelalak, tidak menyangka kalau Bidadari Pencabut Nyawa bakal menyerangnya dengan begitu cepat. Mekar Suri cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Duak!
Mekar Suri terjajar mundur walau berhasil menahan tendangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Kelabang Ungu tidak mau keteteran dengan cepat ia kembali melompat memberikan serangan balasan berbentuk pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi.
Tap! Tap!
__ADS_1
"Huukh...!" Mekar Suri terjajar dua tombak kebelakang ketika telapak tangannya beradu di udara dengan telapak tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Rupanya hempasan tenaga dalam Kelabang Ungu kalah dibanding tenaga dalam Wulan Ayu.
"Aku tidak bisa berlama-lama melayani gadis ini, aku harus merapal Ilmu 'Cakar Kelabang Neraka'.," guman Mekar Suri dalam hati. Gadis itu melompat mundur sejauh tiga tombak, dan mempersiapkan diri dengan ilmu 'Cakar Kelabang Neraka'.
Melihat Kelabang Ungu meningkatkan tenaga dalam ke arah tangannya. Wulan Ayu mempersiapkan diri dengan jurus 'Bidadari Kayangan tingkat lima. Bidadari turun dari surga.
"Hiaaa...!" jerit melengking keluar dari mulut Mekar Suri, kedua tangannya yang membentuk cakar mengacung setengah dada. Cahaya merah menyelubungi tangan Kelabang Ungu itu, dengan perlahan Mekar Suri mengangkat kedua tangannya keatas kepala. Cahaya merah itu membesar perlahan menyelubungi seluruh tubuhnya.
Cahaya itu membesar dan memanjang, tidak lama kemudian cahaya itu berubah bentuk menjadi seekor kelabang raksasa berwarna merah.
"Ilmu Iblis, " guman Wulan Ayu setengah berbisik. Tidak ingin terluka Bidadari Pencabut Nyawa itu meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat tujuh puluh lima persenan. Cahaya putih bersinar menyelubungi kedua tangannya. Perlahan Wulan Ayu membuka kedua telapak tangannya yang tadi dirapatkan.
Wulan Ayu mengangkat kedua telapak tangannya sejajar dengan dada. Tidak lama kemudian tubuhnya perlahan mengambang keudara. Setelah berada diatas tanah sekitar tiga tombak, cahaya putih itu berubah menjadi dua telapak tangan besar dan bersinar.
"Hiyaaat...!" Bidadari Pencabut Nyawa meluncur deras kearah Mekar Suri. Mekar Suri pun melesat dengan kedua tangan membentuk tangan di atas kepala.
Tap!
Desss...!
Desss...!
Ketika dua cahaya pukulan itu bertemu, suara letupan halus mengawali tabrakan dua kekuatan tenaga dalam tersebut. Tidak lama kemudian ledakan menggelegar, mengguncang di tengah hutan itu. Sebuah dan tanah berhamburan keudara. Menutupi pandangan mata.
"Aaaa.....!" Mekar Suri tampak terlempar cukup jauh, entah beberapa tombak kebelakang. Tubuh Mekar Suri berhenti setelah me menghantam sebatang pohon lebih kurang sebesar pohon kelapa. Pohon itu pun patah menjadi dua.
Brakk..!
Bruuumm...!!
Pohon itu tumbang bersama dengan terhempasnya tubuh Mekar Suri ditanah.
"Uhuakh...!" Mekar Suri tampak berusaha bangun. Mekar Suri membatukkan darah segar dari mulutnya. Perlahan putri Reksa Gana itu berusaha bangun, namun ia sempoyongan. Tangan kirinya memegangi dada, Mekar Suri pun jatuh berlutut. Darah segar mengalir dari mulutnya. Jika Mekar Suri tidak memiliki tenaga dalam yang tinggi, ia tentu sudah tewas karena luka dalamnya.
Sementara itu Wulan Ayu hanya terjajar tiga tombak kebelakang. Antisipasi Bidadari Pencabut Nyawa akan kekalahannya tadi berhasil. Wulan Ayu hanya mengalami sesak di dada, karena peredaran darahnya kacau dan pernapasannya tidak menentu.
Wulan Ayu cepat merapatkan kedua telapak tangannya didepan dada, dan mengalirkan hawa murni kearah dadanya. Tidak seberapa lama kemudian Wulan Ayu sudah bugar kembali.
__ADS_1
Bidadari Pencabut Nyawa itu menatap tajam kearah Mekar Suri yang sedang bersemedi untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Wulan Ayu pun akhirnya memilih duduk ditanah untuk bersemedi memulihkan tenaganya. Kesempatan itu di mamfaatkannya untuk istirahat.
.
******
Kita Kembali ke tengah Desa, dimana pertarungan sengit telah terjadi. Mayat orang-orang berpakaian ninja bertopeng tengkorak itu tampak bergelimpangan dimana-mana. Melati tampak bertarung dengan begitu tenang, para pengeroyoknya yang berjumlah puluhan orang itu hampir tidak dapat menyentuh putri Pendekar Tapak Dewa itu.
"Hiyaaat...!" sambil menghindari sabetan pedang orang bertopeng yang menyerangnya itu Melati dengan sigap memberikan serangan balasan yang berupa tendangan.
"Aakhh..!" anak buah Kelabang Hijau itu terpental ketanah, dan tidak mampu bangun lagi. Ia tewas seketika.
Wut! Wut!
Swing! Melati cepat menunduk menghindari sabetan pedang yang mengarah ke kepalanya. Sebuah pukulan tangan kosong diharamkan melati kearah dua orang pengeroyoknya.
Buak!
Buak!
"Aaaa....!" Dua orang yang terhantam telapsk tangan Melati itu langsung terpental sekitar dua tombak, dua orang itu langsung kelonjotan ditanah dan tewas seketika. Dua orang manusia bertopeng tengkorak berwarna putih melompat seraya menebaskan pedang mereka secara bersilang kearah tubuh Melati. Namun Melati sudah melentingkan diri keudara.
Sebuah tendangan dan pukulan telapak tangan dikirimkan Melati sambil melesat di udara.
Prakk!
Brakk!
"Aaakhh...!!" Dua orang itu langsung meregang nyawa dengan topeng di wajah mereka hancur di sertai memar yang cukup parah di bagian wajah mereka. Dua orang itu mengerang dengan memegangi wajah mereka yang hancur.
.
.
Bersambung....
__ADS_1