Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Parang Praja


__ADS_3

Parang Praja dengan begitu cepat bagaikan kilat menghunus sebuah senjata yang terselip di pinggangnya. Sebuah keris panjang sekitar tiga puluh senti meter. Laki-laki setengah baya itu menyabetkan kerisnya begitu cepat bagaikan kilat kearah ke arah tangan kakek Deja Wantara yang membentuk cakar, bagaikan cakar elang.


"Hup!"


Kakek Deja Wantara menarik tangannya dengan begitu cepat. Orang tua berbaju putih kumal itu memberikan sebuah tendangan ke arah perut Parang Praja, tapi Parang Praja cepat menarik tubuhnya kebelakang.


Orang-orang yang memakai gelang tiga buah, yang tadi sempat terdiam kembali melompat menyerang Pendekar Gila. Kali ini mereka menyerang secara bergiliran dan susul menyusul tanpa henti, tentu saja taktik para pengeroyok cukup berhasil. Kakek Deja Wantara mulai tampak terdesak.


"Akh...!"


Orang tua berbaju putih kumal itu meringis kesakitan dan berusaha melompat menjauh, darah merah segar mengalir dari lengan kirinya. Namun para pengeroyok anggota Partai Teratai Api itu tidak mau memberi kesempatan, mereka terus mencerca serangan golok mereka ke arah tubuh kakek Deja Wantara.


"Hiyaaa...!"


"Hup!"


Ayah Sarsih tersebut terpaksa berjumpalitan sambil meliukkan tubuhnya menghindari sabetan dan tikaman golok para pengeroyoknya. Serangan anak buah Parang Praja itu cukup membuat orang tua itu kewalahan. Namun walau kewalahan di serang secara bergantian, ia masih sempat memberikan serangan balasan.


"Aakh..!"


Terdengar jeritan di tengah pertarungan, salah seorang anak buah Parang Praja terpental ketanah dan menggelepar dengan mulut menyemburkan darah segar kehitaman, tidak lama kemudian orang itu pun tewas dengan darah mengalir dari mulutnya.


"Heh..!"


Orang-orang berpakaian hitam dengan gambar teratai berwarna merah api di bagian dadanya itu, cukup terkejut melihat teman mereka tiba-tiba ada yang jatuh dan tewas. Tentu saja mereka cukup heran, entah kapan kakek Deja Wantara berhasil menghajar salah seorang dari mereka.


Melihat kejadian yang sulit diterima akal mereka. Orang-orang berpakaian hitam itu malah jadi gusar, dan bertambah marah. mereka kembali mengepung kakek Deja Wantara di pimpin langsung oleh Parang Praja.


"Heaaa...!"


Kini Parang Praja yang langsung menjadi penyerang pertama, Parang Praja yang telah menghunus keris dari balik pinggangnya, melompat bagaikan seekor singa menerkam mangsanya dengan keris menikam cepat mencerca titik mematikan di tubuh Pendekar Gila.


"He he he...!" kakek Deja Wantara malah tertawa terkekeh, menekan perasaannya yang mulai tidak menentu, karena tenaga dan darah dari tubuhnya sudah banyak keluar.

__ADS_1


Orang tua belas patih kerajaan Pasemah Agung itu melentingkan tubuhnya keudara dan berputar cepat sambil memberikan sebuah serangan cakar ke arah dada Parang Praja. Laki-laki setengah baya dengan wajah muda, namun bengis itu cepat melompat mundur menghindari cakaran telapak tangan dan jemari kakek Deja Wantara yang kaku bagaikan sebuah cakar elang.


"Hiyaa...!"


Dua orang anak buah Parang Praja memcoba membokong kakek tua itu. Namun tidak di sangka pendengaran Pendekar Gila tersebut sangat tajam, begitu cepat ia memutar tubuhnya sambil menundukkan tubuhnya kebelakang, telapak tangan kanannya yang membentuk cakar bergerak begitu cepat mengayun kearah dada, dua orang pembokongnya itu.


Cras!


Creb.!


"Aaakhh...!"


Dua kali suara jeritan menyayat hati terdengar, seraya dengan dua orang berpakaian hitam itu terpental dan berkelonjotan di tanah. Keduanya tewas dengan dada terkoyak bekas cakaran, bagai sudah di terima hewan buas mematikan.


"Kepung dia..!"


Perintah orang yang memakai gelang lima buah itu, yang tidak lain adalah Parang Praja. Anak buahnya yang tinggal kurang dari sepuluh orang itu langsung mengepung berkeliling di sekitar tempat kakek Deja Wantara berdiri. Orang-orang berpakaian hitam itu hendak meneruskan serangannya, tapi mendadak tertahan.


"Berhenti..!"


"Anggala...!" seru kakek Deja Wantara seraya mundur ke dekat Anggala dan menyebut nama Pendekar Naga Sakti itu.


"Siapa kau, Kisanak," tanya Parang Praja dengan nada datar dan begitu dingin.


"Siapa mereka, Kek. Apa mereka orang-orang Partai Teratai Api lagi?" tanya Pendekar Naga Sakti tanpa mempedulikan orang-orang berpakaian hitam yang menatao tajam ke arah mereka.


"Ya, yang kau katakan benar nak Anggala, mereka orang-orang Partai Teratai Api itu," jawab kakek Deja Wantara.


"Kenapa mereka mengeroyokmu, Kek?" tanya Pendekar Naga Sakti lagi.


"Mereka mengatakan bahwa aku terlalu ikut campur urusan orang-orang Partai Teratai Api, dan harus di singkirkan dari dunia ini," jawab kakek Deja Wantara.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kisanak," terdengar datar namun begitu dingin perkataan Parang Praja tersebut. Tatapan mata laki-laki setengah baya itu begitu tajam bagai mata pedang siap menusuk siapa pun.

__ADS_1


"Aku teman kakek yang kalian keroyok secara pengecut. Kisanak!" jawab Pendekar Naga Sakti tidak kalah dingin.


"Rupanya kau juga sudah bosan hidup kisanak!" kata Parang Praja datar namun mencerminkan kekejaman dan kesadisannya.


"Bosan hidup atau bukan, itu urusanku, yang jelas aku akan memberi pelajaran pada orang pengecut seperti kalian yang beraninya main keroyokan sama orang tua," jawab Pendekar Naga Sakti tenang, namun menggambarkan sebuah ancaman yang cukup tinggi.


"Heh..! Cincang dia...!"


Parang Praja mendawaikan telapak tangannya kedepan, maka seketika itu pula anak buahnya melompat ke arah Pendekar Naga Sakti dengan golok telanjang dan siap membantai apa pun yang ada di depan mereka.


Pendekar Naga Sakti yang di serang secara serentak seperti itu terlihat begitu tenang, bahkan ia tampak tidak memasang kuda-kudanya. Namun ketika serangan para pengeroyok itu hampir mengenainya, Pendekar Naga Sakti tiba-tiba bergerak begitu cepat bagai kilat.


Dalam pergerakannya itu Pendekar Naga Sakti langsung memberikan serangan balasan pada para pengeroyok itu. Telapak tangan Pendekar Naga Sakti bergerak begitu cepat mendorong dada dan bagian tubuh para pengeroyoknya. Orang-orang berpakaian hitam itu tidak dapat melihat pergerakan tangan pemuda tampan itu.


"Aaaa.....!!"


Jeritan orang-orang Partai Teratai Api itu terdengar nyaring, dengan begitu cepat tubuh mereka berterbangan bagai daun kering lepas dari tangkainya. Dalam sekejap anak buah Parang Praja itu telah berserakan di tanah. Walau tidak terluka mereka sudah tidak berani bangun lagi.


"Heh.!"


Parang Praja terkejut bukan kepalang, begitu menyadari bahwa Pendekar Naga Sakti sudah berada begitu dekat di depannya. Dalam keterkejutannya itu Laki-laki setengah baya itu langsung menikamkan kerisnya ke arah Pendekar Naga Sakti.


Tap!


Sambil meliukkan tubuhnya kesamping, untuk menghindari tikaman keris di tangan Parang Praja itu, begitu cepat telapak tangan Pendekar Naga Sakti menangkap pergelangan tangan orang berpakaian hitam dengan gelang lima buah itu. Parang Praja terkejut begitu sadar tangannya sudah digenggam telapak tangan Pendekar Naga Sakti.


Tangan kanan Pendekar Naga Sakti yang membentuk tapak bergerak begitu cepat hampir tidak bisa di lihat oleh mata orang biasa. Tiba-tiba telapak tangan Pendekar Naga Sakti sudah menghantam dada Parang Praja.


Buak!"


"Aakh...!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2