Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Bag 3


__ADS_3

Sret!


"Kau harus membayar perbuatanmu, Nisanak!" geram Bergola Ungu sambil memainkan golok besarnya didepan dada. Suara ayunan goloknya menimbulkan suara mendengung, pertanda Bergola Ungu telah mengerahkan tenaga dalamnya.


"Haha..! Diberi hati. Kau minta jantung Bergola Ungu!" jawab Bidadari Pencabut Nyawa dingin.


"Heaaa...!" Bentakan Bergola Ungu mengawali serangannya. Ayunan golok besar Bergola Ungu menderu cepat mencecar ke arah titik mematikan ditubuh Bidadari Pencabut Nyawa. Namun gadis cantik berbaju biru itu hanya menyunggingkan senyum tipis sambil memperhatikan arah serangan Bergola Ungu itu.


Tap!


"Hah!" Bergola Ungu terperangah melihat tangan kanannya ditangkap dengan begitu cepat oleh Bidadari Pencabut Nyawa. Belum hilang keterkejutan Bergola Ungu sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi telak menghantam dadanya.


Buak!


"Aaakh...!" terdengar pelan lenguhan kesakitan dari mulut Bergola Ungu sebelum tubuhnya terpental entah beberapa tombak kebelakang. Bergola Ungu jatuh tertelungkup ditanah, goloknya telah lepas dari genggaman tangan kanannya.


Perlahan Bergola Ungu berusaha mengangkat wajahnya. Tampak darah mengalir dari sudut bibirnya. Tidak lama kemudian Bergola Ungu kembali jatuh dan diam tidak berkutik.


Melihat kejadian yang begitu cepat dan merenggut nyawa pimpinan mereka, anak buah Bergola Ungu langsung melarikan diri tunggang langgang. Melihat musuhnya begitu ketakutan Bidadari Pencabut Nyawa hanya tertawa.


"Sungguh pengecut mereka. Mereka melarikan diri tanpa mempedulikan nasib pemimpinnya," tukas Wulan Ayu sambil berjalan kearah Pendekar Naga Sakti dan kakek Wiratama.


"Hehehe..! Sebenarnya kakek yang ingin memberi mereka pelajaran. Namun rupanya kakek tidak diberi kesempatan," ujar kakek Wiratama sambil tertawa, "Tampaknya tempat ini bukan lagi tempat yang nyaman untuk bermalam. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini," ajak kakek Wiratama.


"Tidak usah Kek, biar saya kuburkan dulu mayat Bergola Ungu itu," sanggah Pendekar Naga Sakti sambil bangkit dari duduknya. Pendekar Naga Sakti membawa mayat Bergola Ungu ketempat yang agak luas. Setelah itu PendekarNaga Sakti menggali sebuah lobang dengan pukulan tenaga dalamnya. Tidak butuh waktu lama mayat Bergola Ungu telah selesai dikuburkan.


"Sekarang kita bisa beristirahat Kek," kata Pendekar Naga Sakti setelah kembali ke dekat kakek Wiratama dan Wulan Ayu. Mereka pun istirahat disana hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Suara kicau burung pagi membangunkan ketiga orang yang tampak tertidur lelap tidak jauh dari perapian. Cahaya matahari yang menyilaukan mata ketiganya. Sehingga ketiga orang tersebut terbangun.


"Hmm...! Rupanya sudah pagi, baru kali ini kakek tidur begitu lelap anak muda, entah kenapa kakek merasa tenang dengan adanya kalian," ucap kakek Wiratama sambil menutup mulutnya yang menguap.


"Kakek terlalu berlebihan, yang jelas Kakek kelelahan karna perjalanan berhari-hari. Di tambah suasana disini dingin dan sejuk. Itu yang membuat Kakek begitu nyenyak tidurnya," jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.


"Hehehe...! Anak muda, Kau memang pandai merendahkan diri, tapi kemuliaan hatimu setinggi langit," puji kakek Wiratama seraya bangkit dan berjalan kearah sungai. Tidak lama kemudian kakek tua itu kembali dengan wajah segar. Di tangannya terdapat sebuah ranting yang menusuk tiga ekor ikan segar sudah dibersihkan.


"Kalian mandilah dulu, kakek akan membakar ikan ini untuk sarapan pagi kita," kata kakek Wiratama sambil membuat api unggun.


"Ya Kek. Sepertinya mandi bisa membuat badan segar," imbuh Anggala sambil tersenyum. Sekali gerakan Pendekar Naga Sakti telah sampai ke tepi sungai yang tidak jauh dari tempat mereka beristirahat itu.


Wulan Ayu pun pergi ke sungai setelah Anggala siap mandi dan bebersih diri. Setelah selesai mandi mereka bertiga menyantap ikan yang telah mereka panggang.


Matahari mulai bersinar terang di upuk timur. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama kakek Wiratama telah memasuki desa yang mereka tuju.


"Wah... Kakek, desa ini bukan lagi desa, rumah-rumah disini sudah rata-rata terbuat dari batu. Tapi kenapa tempat ini begitu sepi?" tanya Wulan Ayu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Baru saja kakek Wiratama menjejakkan kakinya di tanah turun dari kuda Wulan Ayu yang dipinjamkan kepadanya. Seorang anak kecil berumur tujuh tahunan berlari keluar pintu rumah sederhana itu.


"Kakek.... Kakek sudah kembali...! teriak bocah tersebut kegirangan. Bocah kecil itu langsung memeluk kaki sang Kakek.


"Kau baik-baik saja Dara?" tanya kakek Wiratama sambil menggendong cucunya tersebut.


"Dara, baik-saja kek, Bibi lucu yang menemani Dara selama kakek pergi," jawab sang bocah. Tampak dari dalam rumah muncul seorang wanita yang cukup cantik berumur sekitar empat puluh lima tahunan. Namun penampilannya yang menor membuat wanita itu tampak lucu.


"Tantri... Kau yang menemani cucuku.. Terima kasih banyak," ucap kakek Wiratama sambil menurunkan cucunya yang bernama asli Sandara tersebut.

__ADS_1


"Itu sudah kewajiban kami disini Sesepuh, siapa yang Kau bawa ini," tanya nyi Tantri.


"Mereka berdua Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa," jawab kakek Wiratama sambil menoleh kearah Anggala dan Wulan Ayu, "Ayo nak Anggala, nak Wulan Kita masuk dulu," ajak kakek Wiratama.


"Terima kasih Kek," jawab Anggala seraya berjalan dibelakang kakek Wiratama diikuti Wulan Ayu dari belakang.


"Maaf setahuku? Pendekar Naga Sakti sudah cukup berumur sekarang. Apa hubunganmu dengan Lesmana?" tanya nyi Tantri sambil memandang kearah Pendekar Naga Sakti.


"Saya murid paman Lesmana nyi," jawab Anggala sambil tersenyum ramah, "Nyi kenal dengan guru saya?" kata Pendekar Naga Sakti balik bertanya.


"Sekitar sepuluh tahun yang lalu, waktu nyai masih suka berpetualang anak muda, gurumu adalah seorang pendekar yang sulit dicari tandingannya didunia persilatan ini," tutur nyi Tantri. Anggala hanya mengangguk mendengar penuturan nyi Tantri tersebut. Sedangkan Wulan Ayu hanya diam menjadi pendengar.


"Adik cantik siapa namamu?" tanya nyi Tantri pada Wulan Ayu.


"Wulan Ayu nyi," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum ramah.


"Siapa gurumu?" tanya nyi Tantri lagi.


"Guru saya Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak, Nyi,"


"Wah.. Pantasan gelarmu, cukup menakutkan, rupanya Kau murid sepasang pendekar kawakan yang pemarah itu," kata nyi Tantri lagi.


"Berarti nyai, juga seorang pendekar?" tanya Wulan Ayu sambil menuangkan air kedalam cangkir.


"Hehe.. Dulu ya cantik, tapi sekarang nyai sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan menetap di Desa ini," jelas nyi Tantri sambil tertawa. Mereka asyik berbincang, berbagi cerita.


Tiba-tiba suara riuh bunyi derap kaki kuda menuju tempat itu. Semua penduduk yang keluar melihat ki Wiratama kembali berlarian menuju rumah mereka masing-masing.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2