Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Tewasnya Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Lun Sin Ming dan Si Botak Payan Kembar kini hanya tinggal dengan sekitar sepuluh orang anak buahnya. Sekitar tiga puluh lima orang anak buah mereka telah bergelimpangan di tanah. Di antara para pengeroyok yang berserakan di tanah itu, tinggal beberapa orang yang masih hidup, itu pun dalam keadaan terluka parah.


"Bangsat! Kalian membunuh seluluh anak buah owe. Kalian tidak bisa di maafkan!" Ujar Lun Sin Ming dengan tatapan penuh kebencian ke arah Kamandaka dan dua adik seperguruannya itu.


"Pukulan Api Nelaka Membakal Jiwa! Heaaa...!!"


"Hati-hati Sahabat! Pukulan itu yang membuat saya terluka dalam tadi!" Ucap Pendekar Naga Sakti memberi peringatan.


"Biar saya hadapi pukulan itu sahabat!" Ucap Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti pun meningkatkan tenaga dalamnya. 'Jurus Tapak Naga tingkat lima langsung di siapkan. Cahaya kuning itu membentuk beberapa kepala naga yang menganga di sekitar kedua telapak tangan Pendekar Naga Sakti yang teracung ke depan.


"Ayo Payan Kembar, kita bermain-main," Ujar Kamandaka pada Si Botak Payan Kembar.


"Heh.. Kalian mau cari mati ya! Heaa....!"


Bentakan SI Botak Payan Kembar mengawali gerakannya. Si Payan Kembar melompat dengan bersalto dua kali di udara, senjata di tangan mengayun cepat ke depan.


Trang! Trang!


Kamandaka cepat mengayunkan tongkat naga emasnya ke arah depan menapaki serangan Si Payan Kembar itu. Kamandaka bergerak cepat memutar tongkat sepanjang lebih kurang setinggi dua meter itu.


Wut..! Wut..!


"Heh..!"


Si Payan Kembar terkejut bukan main, perubahan gerakan Kamandaka yang hampir tidak terlihat itu membuat ia harus menarik tubuhnya ke belakang sambil menunduk, jika tidak kepalanya tentu akan terhantam tongkat berukuran naga dari emas itu.


"Sha....!"


Si Payan Kembar kembali mengebutkan kan senjatanya ke arah Kamandaka namun cepat di tangkis pemuda itu dengan tongkatnya.


Trang! Trang!

__ADS_1


Sementara itu Pendekar Naga Sakti yang berhadapan dengan Lun Sin Ming tampak telah melesat dengan kecepatan tinggi. Lun Sin Ming menghentakkan telapak tangannya ke depan, cahaya merah membentuk bola api berpijar itu menderu dari tangannya.


Wuss....!! Wuss..!


Pendekar Naga Sakti yang menyongsong dengan secepat kilat itu langsung menghantam dengan pukulan Tapak Naganya.


Wuss! Wuss!


Blaaamm....!!"


Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Hempasan api membentuk bulatan besar membubung tinggi ke udara. Hawa panas menyelimuti tempat itu. Debu dan tanah berhamburan menutupi pemandangan.


Lin Sin Ming tampak mencelat terlempar keluar dari debu-debu yang berhamburan. Tubuh Lun Sin Ming terpental entah beberapa tombak ke belakang. Tubuh Lun Sin Ming berkali-kali menabrak batang pohon hingga patah menjadi dua. Sampai akhirnya tubuh Lun Sin Ming berhenti di pangkal sebuah pohon besar.


Tubuh Pembunuh Bayaran dari negeri tirai bambu itu tampak berubah menjadi kehitaman. Lun Sin Ming telah tewas sebelum tubuhnya menyentuh tanah.


Sedangkan Pendekar Naga Sakti tampak terdorong hingga ke belakang. Pendekar Naga Sakti terdorong sekitar empat tombak. Walau Anggala sempat tersurut mundur cukup jauh namun ia tidak mengalami luka. Pendekar Naga Sakti itu hanya memegangi dadanya yang terasa sesak dan mengalami kacau jalan darahnya.


"Huh....," Pendekar Naga Sakti menghembuskan napas panjang setelah memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasannya. Pendekar Naga Sakti mengedarkan pandangannya sekeliling mencari keberadaan Lun Sin Ming. Pandangan Pendekar Naga Sakti tertumbuk ke bawah sebatang pohon besar yang cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Tampak Lun Sing Ming telah terbujur kaku dengan tubuh hitam dan penuh luka.


"Begitu Menyedihkan perjalananmu Lun Sin Ming, Kau mati di rantau orang dalam ketersesatanmu," Guman Pendekar Naga Sakti seperti berbicara pada dirinya sendiri.


"Biar saja Pendekar! Dia memang pantas mendapatkannya," Ucap Raka Adiwangsa dari belakang, rupanya pemuda itu mendengar gumanan Anggala tadi.


"Yah..! Itu sudah jalan hidupnya. Namun sebaiknya kita makamkan mereka secara layak. Mereka juga manusia," Jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.


"Ha ha ha...! Hatimu memang mulia Pendekar Naga Sakti, baiklah kita akan menguburkan meteka nanti, kita masih punya musuh," Ucap Raka Adiwangsa sambil memandang ke arah lima orang anak buah Si Payan Kembar yang berdiri sekitar tujuh tombak dari tempat mereka.


"Lima cecunguk di depan kita itu akan cukup merepotkan bila bergabung dengan komplotan perampok yang lain Kak Raka, Ayo kita habisi mereka!" Kata Aryaguna sambil mengacungkan tongkatnya ke arah anak buah Si Payan Kembar itu.

__ADS_1


"Saya duluan ya!" Tiba-tiba Pendekar Naga Sakti telah melesat dengan Jurus Tapak Naga tingkat dasarnya. Di tambah ' Ilmu Langkah Malaikat nya Pendekar Naga Sakti dalam satu tarikan napas telah melesat ke arah perampok Hutan Kematian itu.


Set!


Buak!


Tendangan Pendekar Naga Sakti tepat menghantam dada salah seorang anak buah Si Payan Kembar. Sehingga perampok itu terpental ke tanah dengan darah menyembur dari mulutnya.


"Huaks..!"


"Pendekar Naga Sakti rupanya mau balas sakit hatinya di keroyok lebih dari lima orang tadi Kak! He he he...!" Kata Aryaguna sambil tertawa. Pendekar muda itu melesat dengan kakak seperguruan menyusul Pendekar Naga Sakti.


"Heaa...!!" Empat anak buah Si Payan Kembar melompat sambil mengayunkan golok di tangan mereka ke arah Pendekar Naga Sakti dan dua Pendekar Tongkat Naga Emas.


Trang!


"Heh!


Salah seorang anggota Perampok Hutan Kematian itu ternganga melihat golok di tangannya bagai mengenai besi ketika menyentuh tubuh Pendekar Naga Sakti.


Buak!


"Aaakh...!"


Belum sempat perampok itu berbuat apa-apa. Tendangan kaki kanan Pendekar Naga Sakti tepat menghantam dada sang perampok. Perampok melenguh tertahan di iringi tubuhnya nyungsek ke tanah.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


__ADS_2