Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja.


__ADS_3

Matahari tampak mulai terik naik di ufuk timur sekitar tiga tombak, cahaya mentari telah menguapkan setiap tetesan embun yang membasahi dedaunan pagi ini.


Suara kicau burung dan binatang hutan kadang terdengar memecah keheningan, dedaunan yang rimbun di ujung dahan pohon kadang bergoyang pelan tertiup angin.


Suara derap langkah kaki kuda berlari menyusuri jalanan di tengah hutan terdengar jelas dari kejauhan. Tiga orang penunggang kuda itu adalah Singo Abang, Singo Jayo dan Singo Sarai dari bukit tambun tulang.


Suara ringkikan kuda terdengar sesekali menghiasi perjalanan ketiga pendekar kakak beradik itu, setelah sampai di ujung hutan. Tampak sebuah desa di depan mereka.


"Hmm....! Sudah tiga hari tiga malam kita berkuda tanpa henti, aku rasa kita sudah memasuki wilayah selatan," kata Singo Abang setelah berhasil menghentikan lari kudanya.


"Ya, kita hanya berhenti makan, dan beristirahat di warung. Itu pun pagi-pagi sekali sudah berangkat," timpal Singo Jayo sembari mendatari kuda kakaknya.


"Di depan kita ada sebuah gunung, kita cari warung untuk mengisi perut dan sekalian bertanya pada para penduduk," tambah Singo Sarai.


"Ya, adik Singo Sarai benar. Kita cari warung dulu," jawab Singo Abang sambil mengebah kudanya secara pelan.


Singo Jayo dan Singo Sarai mengikuti dari belakang, ketiga muda-mudi itu mengebah kuda mereka secara pelan menyusuri jalanan kampung itu, beberapa orang yang lalu lalang tampak menepi memberi jalan pada mereka bertiga.


Singo Abang memasuki sebuah halaman warung yang terlihat ramai oleh pengunjung, secara kebetulan itu adalah satu-satunya warung yang ada di tempat itu.


Tidak lama setelah Singo Abang dan kedua adiknya memasuki warung, seorang pemuda yang menunggangi kuda putih dan pakaian pemuda itu pun serba putih. Tersirat senyum keramahan pemuda itu saat ia berpas-pasan dengan penduduk.


Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum, sebatang pedang dengan ukiran kepala srigala berwarna perak keputihan tampak tersampir di balik punggungnya.


Pemuda itu tidak lain adalah Pendekar Srigala Putih yang bernama asli Jaka Kelana dari bukit Kancah murid Ki Jaga Kelana.


Jaka Kelana mengedarkan pandangannya ke sekeliling warung itu, namun sudah tidak ada meja yang kosong. Sebuah meja di tempati tiga orang sebuah kursi masih terlihat kosong, meja itu ditempati oleh Singo Abang dan kedua adiknya.


"Maaf, Kisanak. Jika tidak keberatan, bolehkah saya bergabung di meja ini? Meja yang lain sudah penuh semua," ucap Jaka Kelana ramah.

__ADS_1


"Oh, silahkan. Jika kisanak tidak keberatan duduk bersama kami," jawab Singo Abang sembari berdiri dan menjawab dengan ramah. Singo Abang mempersilakan Jaka Kelana bergabung dengan mereka.


"Terima kasih atas kemurahan hati kisanak bertiga," ucap Jaka Kelana sambil tersenyum ramah.


"Sama-sama, kisanak. Jika saya tidak salah melihat, benarkah kami sedang berhadapan dengan Pendekar Srigala Putih dari bukit Kancah?" tanya Singo Abang.


"Ternyata kisanak mengenali pedang yang ada di balik punggung saya. Kisanak benar, saya adalah Pendekar Srigala Putih dari bukit Kancah," jawab Jaka Kelana, "Nama saya Jaka Kelana," tambahnya memperkenalkan diri.


"Rupanya kami bertemu dengan tetangga, tapi karena kami belum pernah turun gunung sejauh ini sebelumnya, ehingga kita tidak saling kenal. Kami murid Puyang Panglima Hijau dari bukit Tambun Tulang," kata Singo Abang sambil tersenyum.


Singo Abang bangkit dan mengulurkan tangan pada Jaka Kelana, "Saya Singo Abang, ini kedua adik saya Singo Jayo dan Singo Sarai, " tambah Singo Abang memperkenalkan diri dan kedua adiknya.


"Ya, ya... Saya pernah mendengar tentang murid Datuk Panglima Hijau dari Perguruan Tiga Harimau di bukit Tambun Tulang," ucap Jaka Kelana, "Berarti kalian bertiga adalah Tiga Harimau dari Bukit Tambun Tulang."


"Kami adalah murid Perguruan Tiga Harimau, Sahabat," jawab Singo Abang merendah, "Bukan Tiga Harimau."


"He he he...! Kalian berarti belum menyadari gelar yang diberikan orang-orang pada kalian, saya pernah singgah di bukit sanggar puyuh. Orang-orang disana memberi gelar Tiga Harimau pada sahabat bertiga," jelas Jaka Kelana.


"Oh ya, jika saya boleh tau sahabat bertiga hendak kemana sampai turun gunung sejauh ini?" tanya Jaka Kelana.


"Kami di perintahkan eyang guru Panglima Hijau mencari Pendekar Naga Sakti," jawab Singo Abang.


"Mencari Pendekar Naga Sakti?"


"Ya, kami di perintahkan mencari Pendekar Naga Sakti untuk mau menyampaikan pesan eyang Panglima Hijau," jawab Singo Abang.


"Pesan apa itu sahabat?"


"Sahabat mungkin sudah mendengar tentang ramalan Peramal Pikun tentang hilangnya pendekar dari Lembah Naga?" kata Singo Jayo menimpali.

__ADS_1


"Tidak, saya sudah cukup lama tidak turun gunung setelah membantu saat terjadi perang di Kerajaan Galuh Permata sekitar setahun yang lalu," jawab Jaka Kelana.


"Jadi, ramalan itu berhubungan dengan Anggala? Berarti kita harus cepat mencari Anggala," kata Jaka Kelana lagi.


"Ya, kami sudah berkuda masuk empat hari sampai hari ini sahabat. Kami hanya beristirahat saat malam saja selain singgah di warung untuk makan," tutur Singo Abang.


"Mendengar penuturan sahabat. Sahabat sudah mengenal Pendekar Naga Sakti?" tanya Singo Sarai.


"Ya, saya memang mengenal dekat dengan Pendekar Naga Sakti, kebetulan saya juga ada perlu sama beliau. Kita bisa mencarinya bersama-sama," jawab Jaka Kelana.


"Kalian mau makan, atau mau ngobrol dulu, Nak?" kata empunya warung sambil meletakkan mampan kayu berisi penuh piring dengan nasi dan lauknya.


"Eh, Aki. Maaf Ki, kami keasyikan ngobrol," jawab Jaka Kelana sambil tertawa kecil, "Tentu saja kami mau makan, Ki. Kami sudah cukup lapar, ya'kan sahabat bertiga?"


"Iya, Ki," jawab Singo Abang sambil tersenyum.


"Ya sudah, tunggu ya. Makanannya kurang sebentar lagi aki antar lagi," kata pemilik warung sambil tersenyum ramah.


"Iya, Ki," jawab mereka berbarengan.


Setalah aki pemilik warung itu mengantarkan makanan, mereka pun makan bersama sambil sesekali berbicara tentang perjalanan mereka.


Baru saja Jaka Kelana dan Singo Abang bersama kedua adiknya menyelesaikan makan, serombongan orang-orang berkuda dengan pakaian serba hitam. Baju mereka hanya berbentuk rompi dengan ikat kepala berwarna merah.


"Ayo, kita cepat tinggalkan tempat ini, tampaknya sudah tidak aman," kata salah seorang pengunjung warung itu. Beberapa orang pengunjung langsung buru-buru membayar makanan mereka dan langsung meninggalkan tempat itu.


"Ha ha ha....! Bagus, bagus...! Kalian mengerti kami yang kelaparan ini...! Ha ha ha....!" tawa salah seorang dari rombongan beompi hitam itu di sambut gelak tawa teman-temannya.


Hampir seluruh pengunjung warung itu langsung tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Mereka tidak ingin di ganggu oleh kelompok orang-orang yang baru datang tersebut.

__ADS_1


.


Bersambung.......


__ADS_2