Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 17


__ADS_3

Suara kicau burung menghiasi pagi ini, warung Ki Syarip tampak mulai ramai oleh pengunjung. Keberhasilan Wulan Ayu menghabisi orang-orang Perguruan Elang Hitam membuar para penduduk merasa aman.


"Ki... Teh jahenya satu....," pinta salah seorang pengunjung sambil duduk di sebuah meja yang masih kosong.


"Iya, sebentar...," sahut Ki Syarip dari belakang, tidak lama Anggala muncul dengan mampan kayu berisi ubi rebus dan secangkir teh jahe pesanan pelanggan tersebut.


"Ini, Ki. Pesananya," ucap Anggala seraya meletakkan mampan di atas meja.


"Terima kasih, Nak," ucap laki-laki setengah baya itu sambil membuka capingnya, "Apakah saya sedang berhadapan dengan Pendekar Naga Sakti?" tanya laki-laki tersebut.


"He eh... Iya, Ki," jawab Anggala sambil tersenyum, "Tampaknya kisanak adalah seorang pendekar?" lanjut Anggala lagi.


"Aku memang seorang pendekar, Perkenalkan namaku, Sudrajat. Aku Ketua Perguruan Bangau Putih," jawabnya.


"Kenapa, Tuan. Sampai sejauh ini sampai kemari?"


"Hmm...! Kalau boleh, aku ingin minum dan makan dulu baru bercerita," sela Sudrajat sambil membuka caping yang ia pakai.


"He he... iya, silahkan kisanak makan dulu, nanti kita bercerita," kata Anggala sambil tertawa kecil.


"Apa Tuan mau makan nasi?"


"Ya, kebetulan saya memang sudah lapar," jawab Sudrajat sambil tersenyum.


"Baiklah, nanti pesanan Tuan akan di antar, saya kebelakang dulu," kata Anggala sambil berjalan ke arah dapur.


"Siapa itu Kak?" tanya Wulan Ayu.


"Ki Sudrajat, Ketua Perguruan Bangau Putih," jawab Anggala, "Dinda antar makanan ke mejanya, dia memesan makanan sekalian," tambahnya.


"Baiklah," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum simpul.


"Mak, siapkan makanan untuk tamu kita itu," ucap Wulan Ayu.

__ADS_1


"Iya, Nak Ayu," jawab mak Ripah, sambil mengambil nasi dan lauk. Setelah selesai Wulan Ayu pun mengantar makanan ke meja yang di tempati Sudrajat.


"Ini Ki, pesananmu," kata Wulan Ayu sopan sambil meletakkan mampan kayu berisi nasi dan lauk di atas meja.


"Terima kasih," ucap Sudradjat sambil menerima piring dan tempat nasi.


"Siapa gadis ini, aura tenaga dalamnya begitu terasa. Tapi aku tidak mampu melihat seberapa tinggi tenaga dalamnya," gumam Sudrajat dalam hati.


.


***********************


"Apa yang terjadi dengan Perguruan Bangau Putih, Ki?" tanya Anggala setelah Sudrajat menyelesaikan makannya.


"Baiklah, Anggala. Dua hari yang lalu, Perguruan kami di datangi utusan Partai Teratai Hitam atas perintah pimpinan mereka. Aku dan ayahku berhasil mengalahkan Ketua Perguruan Macan Kuning dan dua temannya, tapi mereka tampaknya menaruh dendam karena kekalahan mereka.


Ayahku, meminta aku memcarimu dan meminta bantuan padamu," kata Sudrajat sambil mengangkat cangkir bambu berisi teh jahe buatan mak Ripah.


"Jadi, Partai Teratai Hitam memang lagi membuat huru-hara di dunia persilatan tanah Andalas ini," Anggala seakan mendesah mendengar sudah banyak sekali perguruan yang di taklukan dan di datangi orang-orang Teratai Hitam akhir-akhir ini.


"Ayahku, meminta kau datang ke Perguruan Bangau Putih, Anggala. Ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan,"


"Apa masalahnya hingga Pendekar Bangau Putih ingin bertemu dengan saya, Ki?" tanya Anggala lagi.


Mendengar perbincangan Anggala dan Ketua Perguruan Bangau Putih begitu serius, Wulan Ayu akhirnya ikut duduk di meja yang di tempati Anggala dan Sudrajat.


"Maaf, boleh saya bergabung?" ucap Wulan Ayu sambil duduk di samping Anggala.


"Silahkan. Jika aku boleh tau, siapa nisanak ini? Apakah nisanak yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu?" tanya Sudrajat.


"Begitulah, orang-orang dunia persilatan memberi saya gelar. Nama saya Wulan Ayu," ucapnya memperkenalkan diri.


"Saya telah mendengar cerita Aki dengan Kak Anggala tadi, " tambah Wulan Ayu lagi.

__ADS_1


"Ya, begitulah. Tampaknya saya mengganggu perjalanan kalian, mohon di maafkan," ucap Sudrajat.


"Tidak usah terlalu sungkan Ki, kami akan berusaha membantu sebisa kami. Kita sesama golongan putih harus saling menolong, Ki," jawab Anggala sambil tersenyum.


"Jika, Aki lelah. Istriahatlah dulu, kita akan berangkat ke Perguruan Bangau Putih esok pagi," kata Anggala lagi.


"Ya, jujur aku cukup lelah, Anggala. Apa masih ada kamar yang kosong di tempat ini?"


"Warung Ki Syarip ini memang tidak banyak menyediakan kamar, namun karena tidak ada orang yang menginap selain kami, jadi kamar masih tersedia," jelas Wulan Ayu.


"Mak, siapkan kamar satu, untuk Ki Sudrajat!" pinta Wulan Ayu pada mak Ripah.


"Ya. Bentar," sahut Mak Ripah sembari berjalan ke belakang menyiapkan kamar untuk Sudrajat.


*******************************


"Kak, apa yang harus kita lakukan, apa tidak berbahaya jika kita tinggalkan kampung ini?" tanya Wulan Ayu sambil duduk di samping Anggala saat warung Ki Syarif sudah sepi, apalagi malam pun sudah mulai datang.


"Tampaknya, orang-orang Perguruan Elang Merah itu tentu akan berpikir dua kali untuk datang kesini membuat masalah. Walaupun mereka datang, tentunya yang datang adalah petinggi Peerguruan Elang Merah. Mereka tentu tidak akan seurakan anak-anak baru yang gatal tanduk itu," jawab Anggala.


"Iya, Nak Wulan Ayu, orang-orang Perguruan Elang Merah itu juga tidak akan begitu mengurusi masalah murid mereka yang dapat masalah di sini.


Kemungkinan yang akan datang pun tentu yang punya ilmu tinggi, biasanya tokoh hitam yang berilmu tinggi tidak mau menyakiti rakyat kecil seperti kami, apalagi mereka sudah mendapat informasi yang mereka inginkan," timpal Ki Syarip sambil duduk di depan Anggala dan Wulan Ayu.


.


.


.


Bersambung........


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2