
Menjelang sore pasukan Pangeran Roksa Galuh telah terpukul mundur hingga ke lokasi perkemahan.
Pangeran Roksa Galuh masih di tepi padang rumput, ia belum mengetahui para pendekar andalannya sudah banyak yang tewas dan ada yang melarikan diri.
Pasukan prajurit yang masih menjaganya tinggal lebih kurang seribu orang, tampak Gagak Hitam yang masih bersama Pangeran Roksa Galuh, dan beberapa orang senopati berpakaian lengkap.
Sedangkan pasukan Galuh yang menghadapi pasukan Pangeran Roksa Galuh tidak kurang dari dua ribu orang di tambah Senopati Jagat Geni, dan Panglima ki Guntur Geni.
Anggala tampak berkelebat ke arah padang rumput, ia melihat padang rumput yang kosong, yang ada hanya mayat para prajurit, dan mayat si Golok Setan.
"Hmm...!" Berarti Wulan Ayu berhasil mengalahkan si Golok Setan..!" guman Anggala dalam hati, raut wajahnya agak sedih melihat begitu banyak mayat manusia, akibat peperangan ini.
Anggala berjalan ke arah ujung padang rumput yang cukup luas itu, sesakali ia mengganguk sambil tersenyum, saat berpas pasan dengan para prajuri Galuh yang terluka, lagi berusaha kembali ke kemah mereka, dengan di bantu prajurit medis.
Tiba tiba sekelebat bayangan biru menghampiri Anggala.
Wusss...
Jlek....!"
Bayangan biru itu mendarat tepat di samping Anggala si Pendekar Naga Sakti.
"Kak.... Anggala...!" suara merdu si Bidadari Pencabut Nyawa, Wulan Ayu.
"Eh...! Dinda Wulan, tampaknya Bidadari Pencabut Nyawa ber aksi lagi...! He he...!" ujar Pendekar Naga Sakti menggoda sang Bidadari cantik.
"Kakak.....!" rengut Wulan Ayu, sambil tersenyum manis, pada Pendekar tampan di sampingnya itu.
"Mana Kakek Pertapa Naga Kak..!?" tanya Wulan Ayu, sambil memandangi Anggala yang tampak murung itu.
"Kakak belum melihat Kakek Pertapa dari tadi, Dinda...!" jawab Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
Wusss.....!
"Ada yang lagi ngomongin Kakek ya...!?"
Tiba tiba tokoh Sakti dari Lembah Naga itu, sudah ada di samping mereka.
"Eh...!" Kakek Pertapa...!" mereka berdua di buat terkejut dengan kedatangan Pertapa Naga yang sangat cepat itu.
"Apa yang terjadi dengan Iblis Gerbang Neraka cucuku..?!" tanya Pertapa Naga pada Anggala.
"Dia sudah pergi Kek..!" jawab Anggala, kalem.
"Kau..! Membiarkan Iblis Gerbang Neraka pergi..?!
"Ya...! Anggala tidak sanggup mencegah dia pergi Kek...!"
"Pergi kemana dia Anggala...?!" Pertapa Naga penasaran, ia menghentikan langkahnya, dan memandang ke arah Anggala
"Dasar..! Cucu nakal...! ujar Pertapa Naga, ikut juga tertawa.
Di mana gurumu Anggala..?" tanya Pertapa Naga, sambil berjalan.
"Tadi Wulan lihat paman Leamana, bertarung dengan Ibis Hitam Darah dingin Kek...!" Wulan Ayu yang menjawab pertanyaan Kakek Pertapa itu.
"Mungkin mereka masih bertarung Kek...!" tambah Anggala.
"Baiklah Kakek akan mencari gurumu...! Kalian bantu pasukan kita..!" ujar sang Pertapa Naga, bagitu ia selesai bicara, ia melesat ke arah hutan, mencari sang murit, Lesmana.
Sementara itu Jaka Kelana Pendekar Srigala Putih, sedang bertarung dengan Iblis Hitam Rambut Merah, pertarungan kedua pendekar berlansung sengit.
Iblis Hitam Rambut Merah menyerang Jaka kelana dengan 'Jurus Cakar Beracun'. tangannya berubah menjadi warna hitam, karna di selubungi Racun Hitam.
__ADS_1
Jaka Kelana atau Pendekar Srigala Putih menggunàkan 'Jurus Cakar Srigala Es'. yang menimbulkan jawa dingin di sekitar area pertarungan itu.
"Heaaa...!"
Jger..!
Hawa dua pukulan bertenaga dalam tinggi itu beradu, Iblis Hitam Rambut Merah terjajar ke belakang, karna hawa dingin menerpa ke arahnya.
Sedangkan Jaka Kelana berjumpalitan di udara sebelum menjejak kaki di tanah, menghindari hawa racun di tangan Iblis Hitam Rambut Merah.
Jaka Kelana menstabilkan napasnya mengusir hawa beracun yang sempat tercium di hidungnya.
Iblis Hitam Rambut Merah memampaatkan situasi itu, ia menyerang ke arah Pendekar Srigala Putih dengan begitu cepat.
Sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi, mengarah Jaka Kelana, ia tak sempat menghindari tendangan Iblis Hitam Rambut Merah itu.
"Hih.....!"
Tap.....!"
Jaka kelana terpaksa menangkis tendangan itu, dengan menyilangkan dua tangannya, di depan dada, ia terjajar ke belakang sekitar dua tombak.
Sring....!
Iblis Hitam Rambut merah menghunus pedang besar di pinggangnya, tampak ujung pedang itu agak bengkok ke depan, dengan bentuk cembung.
Sring...!
"Hiaa...!"
Pendekar Srigala Putih pun menghunus Pedang Srigala Putih dari balik punggungnya, pedang itu bercahaya putih menyilaukan, karna tenaga dalam Jaka Kelana, mengalir di pedang itu,
__ADS_1
Ia bersiap dengan Jurus jurus pedang andalannya.