
Matahari mulai naik ke atas kepala, cahayanya yang mulai terik seakan tidak di rasakan oleh enam orang yang sedang berada di depan pendopo Perguruan Tiga Harimau itu.
Singo Abang dan kedua adiknya Singo Jayo dan Singo Sarai tampak masih bertarung dengan tiga orang tokoh silat golongan hitam yang datang menyantroni perguruan mereka.
Datuk Hitam yang mulai kesal karena puluhan jurus silat bertenaga dalam tinggi sudah ia keluarkan dalam menghadapi pemuda di hadapannya itu.
Jurus-jurus 'Cakar Neraka'. milik Datuk Hitam, mampu di hadapi oleh Singo Abang dengan jurus-jurus Silat Harimau.
Begitupun dengan Datuk Paberang yang berhadapan dengan Singo Jayo, serangan demi serangan ilmu silat sang Datuk dapat di patahkan pemuda itu.
Gdeh Pemurko yang terkenal dengan ilmu kuku beracunnya tampak berusaha keras untuk mengalahkan adik bungsu Singo Abang tersebut.
Puluhan orang adik seperguruan Singo Abang sudah mulai lelah berdiri menjadi penonton pertarungan kakak seperguruan mereka, satu persatu mereka memilih duduk di bawah pohon dan di samping pendopo Perguruan Tiga Harimau itu.
Datuk Panglima Hijau hanya tersenyum memandang ke arah pertarungan, "Kalian harus rajin berlatih. Lihat ketiga kakak seperguruan kalian itu, mereka sudah cukup mumpuni untuk turun gunung mengarungi dunia persilatan," nasehat sang Datuk pada puluhan muridnya itu.
"Baik, Puyang..!" jawab puluhan murid Perguruan Tiga Harimau itu sambil menunduk memberi hormat. Datuk Panglima Hijau hanya tersenyum sambil menatap ke arah pertarungan ketiga murid tertua perguruannya tersebut.
"Hup!" Singo Abang bergerak bagai bayangan dengan begitu cepat, jika manusia biasa tentu sudah tidak dapat melihat gerakan pemuda itu. Sebuah pukulan telapak tangan yang tampak lembut, namunengandung tenaga dalam yang begitu tinggi mendarat di bagian bahu Datuk Hitam.
Dess!
"Agkh..!" Datuk Hitam harus melenguh tertahan begitu bahunya terhantam pukulan Singo Abang. Datuk Hitam tampak terdorong cukup keras ke arah belakang.
Karena tenaga dalam sang Datuk cukup tinggi sehingga ia tidak terpental terhantam pukulan telapak tangan Singo Abang itu.
"Ukgh..!" Datuk Hitam tampak terhuyung ke belakang sambil memegangi dadanya, luka dalam yang ia derita tampak cukup parah. Datuk Hitam tersentak kaget ketika menyadari Singo Abang kembali melompat ke arahnya.
Dik!
Datuk Hitam cepat berusaha menangkis serangan tenadangan Singo Abang yang mengarah ke dadanya, namun kaki kiri Singo Abang bergerak cepat ke arah dada kanan bagian bawah.
__ADS_1
Dik!
Krak!
"Agkh....!" kali ini tanpa ampun lagi jerit kesakitan terdengar lantang keluar dari mulut Datuk Hitam ketika tulang rusuk kanannya patah terhantam ujung kaki Singo Abang. Datuk Hitam tampak terpental sekitar tiga tombak ke belakang.
"Nama besar perguruan ini tampaknya bukan isapan jempol, tidak di sangka aku harus di pecundangi oleh anak muda ini," keluh Datuk Hitam dalam hati, darah segar kehitaman tampak mengalir sampai mengenai jenggotnya yang mulai memutih.
"Hhmm...! Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini, jangan sampai aku kehilangan kesabaran!" ancam Singo Abang terdengar lantang pemuda itu tampak berdiri sekitar dua tombak di depan Datuk Hitam.
"Aku belum kalah, Anak Muda. Kau akan membayar kesombonganmu!" balas Datuk Hitam sambil bergerak bangun. Datuk Hitam tampak meningkatkan tenaga dalamnya ke arah kedua tangannya, cahaya merah kehitaman tampak mulai menyelubungi kedua tangan dedengkot ilmu hitam itu.
"Pukulan 'Neraka Hitam!" Datuk Panglima Hijau melihat ilmu yang di rapal oleh Datuk Hitam, secepat kilat ketua Perguruan Tiga Harimau tersebut melesat kedekat sang murid.
"Kau mundurlah, Abang. Biar aku yang menghadapi ilmu kesaktian tokoh hitam ini!" kata Datuk Panglima Hijau.
"Baik, Puyang," sahut Singo Abang sambil melangkah mundur. Singo Abang tidak langsung menjauh, ia malah memperhatikan pertarungan antara Datuk Paberang dengan Singo Jayo yang tampak berjalan cukup sengit. Namun sejauh ini Datuk Paberang belum mampu mendesak adik Singo Abang tersebut.
"A..., ajian Harimau Andalas!?" Datuk Hitam tampak cukup kaget melihat musuhnya merapal ilmu kedukjayaan yang cukup menggemparkan di daerah Bukit Tambun Tulang ini.
"Akan kucoba dengan tenaga dalam tingkat delapan puluh, dan pukulan 'Neraka Hitam'. tingkat tujuh, Neraka Perut Bumi'." gumam Datuk Hitam seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Rupanya tokoh hitam satu ini sudah menguasai ilmu 'Neraka Hitam'. tingkat tujuh, jika tadi Singo Abang yang berhadapan dengannnra. Singo Abang bisa tewas," Datuk Panglima Hijau membatin. Sang Datuk tampak menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu secara perlahan merapatkan kedua telapak tangannya.
"Aku harus mengerahkan ilmu 'Ajian Harimau Andalas'.Harimau tingkat lima, Auman Harimau," gumam Datuk Panglima Hijau. Cahaya putih kekuningan mulai menyelimuti kedua tangan sang Datuk.
"Heaaah.....!" Datuk Hitam membentak nyaring sambil menyorongkan kedua tangannya ke depan, dua larik sinar hitam kemerahan meluncur deras ke arah Datuk Panglima Hijau.
"Hiyaaa.....!" Datuk Panglima Hijau pun menyentakkan kedua tangannya ke arah depan, sebuah cahaya kekuningan membentuk kepala harimau meluncur menyongsong pukulan Datuk Hitam.
Swoss! Swoss!
__ADS_1
Dess! Desss!
Blaaammm............!!!
Ledakan besar mengguncang tempat itu, begitu tiga larik sinar itu bertemu dan saling beradu di udara. Tempat itu bagai di guncang gempa, beberapa orang adik seperguruan Singo Abang tampak sampai jatuh akibat getaran tanah.
Asap putih dan gumpalan api bercampur debu dan tanah tampak terbang ke udara, beberapa saat tempat itu tampak kelam akibat asap dan debu
Datuk Hitam tampak terpental ke arah belakang sekitar delapan tombak hingga menabrak pagar kayu yang mengelilingi Perguruan Tiga Harimau.
Beberapa saat tampak Datuk Hitam berkelonjotan di tanah, seluruh tubunnya tampak menghitam dan mengeluarkan asap tipis.
Sementara itu Datuk Panglima Hijau hanya terjajar ke belakang sekitar lima langkah. Datuk Panglima Hijau tampak memegangi dadanya yang terasa sesak akibat beradu pukulan tadi.
"Puyang, tidak apa-apa?" tanya Singo Abang sambil memegangi sang Datuk yang tampak terhuyung hampir jatuh.
"Aku tidak apa-apa, Abang," jawab Datuk Panglima Hijau sambil tersenyum kecut, bibir tuanya tampak memucat. Walau sang Datuk tidak mengalami luka dalam, namun aliran darah dan pernapasannya sempat kacau juga.
"Dasar ilmu iblis," gumam sang Datuk seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Melihat Datuk Hitam tewas akibat adu pukulan dengan Datuk Panglima Hijau, Datuk Paberang dan Gdeh Pemurko tampak kehilangan mentalnya. Sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi dari Singo Jayo tepat mengenai bahu kanan Datuk Paberang.
Buak!
"Akgh....!" Datuk Paberang mengeluh tertahan sebel um tubuhnya terjerambat jatuh, namun ia cepat melompat bangun sambil melempar dua buah belati hitam ke arah Singo Jayo.
Set! Set!
.
.
__ADS_1
Bersambung......