Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Sepak Terjang Tiga Pendekar Mesum. Dendam Seorang Teman.


__ADS_3

Sinar merah yang menyelubungi tangan Simbar Nyawa semakin membesar dengan semakin meningkatnya tenaga dalam yang ia gunakan, mata laki-laki itu menatap tajam ke arah pemuda berpakaian biru putih yang berdiri sekitar tiga sampai empat tombak di depanya.


"Heaaah...!"


Simbar Nyawa membentak dengan suara nyaring melengking, seraya kedua tangannya menyorong kuat ke depan cukup cepat. Cahaya merah pukulan 'Inti Api Beracun'. menderu cepat ke arah depan.


Wuss!


Wuss!


Anggala pun tidak tinggal diam, pendekar muda itu juga menyentakkan telapak tangannya ke depan. Cahaya putih keperakan yang tadi menyelubungi tububnya menderu bersama bentakannya.


"Hiyaaa...!"


Cahaya yang membentuk telapak tangan besar itu menderu menyongsong cahaya merah dari pukulan Simbar Nyawa.


Swosss! Swoss!


Blaaaamm...!


Ledakan menguncang tempat itu. Tempat itu bagai terhantam gempa berskala tinggi, debu dan tanah menyembur ke udara menutupi tempat itu. Debu yang mengepul ke udara menutupi pandangan semua orang yang terkejut karena ledakan dahsyat tadi.


Simbar Nyawa terpental entah beberapa tombak ke belakang, tubuh laki-laki berpakaian hitam itu jatuh bergulingan di tanah. Beberapa saat anggota kelompok Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu masih berusaha bergerak dan menggeliat, namun luka dalam yang ia derita begitu dalam dan sangat parah.


Tidak lama kemudian tubuh Simbar Nyawa diam tidak berkutik lagi alias mati, laki-laki itu tewas dengan wajah menghitam. Darah kehitaman mengalir dari sela-sela bibirnya.


Sementara itu Pendekar Naga Sakti tampak terdorong ke belakang sekitar dua tombak, tapi karena kekuatan tenaga dalam pendekar muda itu, ia berhasil menajan laju dari tekanan akibat pertemuan dua pukulan mereka tadi. Kekuatan ilmu 'Tirai Malaikat'.nya Pendekar Naga Sakti berhasil lolos dari luka dalam dan racun yang di kirim oleh Simbar Nyawa bersama pukulannya tadi.


"Sungguh sebuah ilmu yang menakutkan," desis Anggala dalam hati, mata pemuda itu menatap tajam ke arah tubuh Simbar Nyawa yang sudah terbujur kaku dengan wajah hitam bagai terbakar.


Sementara itu Seruni dan Nila Sari tampak semakin terdesak oleh serangan Bora, Serangan pedang laki-laki berpakaian serba hitam itu semakin gencar ke arah kedua murid Perguruan Mawar Putih itu. Sambaran ujung pedang hitam Bora berhasil mengenai bahu Seruni, Seruni terhuyung mundur sambil memegang bahunya yang mengucur darah segar.


"Seruni!" teriak Nila Sari melihat sahabatnya itu terluka, saat Nila Sari berusaha melihat ke arah Seruni, tendangan Bora mendarat telak di dadanya. Gadis itu terpental sekitar tiga tombak ke belakang, namun ia berusaha berdiri cepat. Namun Seruni sudah mengalami luka dalam yang cukup parah, darah segar kehitaman mengalir dari bibirnya.


"Huakh..!"


"Gadis cantik! Bukankah sudah ku katakan, lebih baik kalian melayani ku. Tapi kalian memilih merasakan pukulan dan tajamnya pedangku," kata Bora.


"Cih. Lebih baik mati, dari pada melayani hasrat busukmu itu, manusia laknat!" jawab Seruni sengit.

__ADS_1


Seruni yang berusaha mengobati lukanya dengan mengalirkan hawa murni ke arah bahunya.


Seruni terkesiap, gadis itu cukup terkejut melihat Bora yang tidak memberi kesempatan kepadanya, dan berniat menghabisinya. Seruni masih berusaha bersiap menghadapi serangan Bora itu, namun gerakan laki-laki itu begitu cepat begitu pedang Bora hampir mengenai wajah Seruni. Gadis cantik itu hanya memejamkan matanya, pasrah.


"Mati aku!" desis Seruni di dalam hati. Namun di saat yang genting sebuah bayangan melesat cepat menangkis serangan pedang Bora sebuah pukulan kepalan tinju telak mendarat di dada Bora.


Trang!


Buak!


"Agkh!"


Laki-laki itu tersentak dan terkejut segera melompat mundur sambil memegangi dadanya yang terasa sesak setelah menerima pukulan dari orang yang menyelamatkan Seruni.


"Bangsat! Kau, rupanya kau berhasil mengalahkan Simbar Nyawa!" bentak Bora sambil menatap tajam ke arah Pendekar Naga Sakti.


Bora melintangkan pedangnya di depan dada, matanya menatap tajam ke arah Anggala yang berdiri di depan Seruni. Pendekar Naga Sakti memberikan sebuah pil kepada Seruni.


"Seruni, makan pil ini untuk mengobati luka dalam mu," kata Pendekar Naga Sakti sembari memberikan sebuah pil kepada gadis canrik itu.


"Terima kasih, Kak Anggala," ucap Seruni sambil menerima pil pemberian dari Pendekar Naga Sakti itu.


"Ku, akui kau memang cukup hebat anak muda. Kau bisa mengalahkan Simbar Nyawa, tapi aku Bora yang akan membalas kematian sahabatku," kata Bora sambil menatap tajam ke arah Pendekar Naga Sakti. Bora melintangkan pedangnya di depan dada dan menatap penuh kebencian.


"Sahabatmu itu terlalu memaksakan diri memakai ilmu 'Inti Api Beracun, kisanak. Jangan salahkan aku akan kematianya,"


"Huh! Tidak usah banyak bacot, Kau. Heaaa...!"


Bora membentak nyaring sambil melompat ke arah Anggala, sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher pemuda itu. Namun


Anggala cepat melentingkan tubuhnya ke belakang, menghindari sabetan pedang Bora yang mengincar lehernya.


Melihat musuhnya berhasil menghindari serangan pertamanya. Bora segera melompat melanjutkan serangannya sabetan dan tebasan pedangnya yang cukup cepat mencerca titik mematikan di tubuh Pendekar Naga Sakti, namun pemuda dari Lembah naga itu dengan sigap dan lincahnya menghindari setiap tebasan dan tikaman pedang yang mencerca ke arahnya.


Pendekar Naga Sakti dengan begitu lihai ia meliuk-liukkan tubuhnya menghindar serangan pedang Bora.


Bora tampak mendengus kesal karena sudah berusaha mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyerang Pendekar Naga sakti, tapi sampai saat ini usahanya masih belum membuahkan hasil.


Sambil menyabetkan pedangnya ke arah leher Pendekar Naga Sakti kembali, Bora menyarangkan sebuah tendangan ke arah perut Anggala. Namun dengan begitu gesit Anggala menggeser tubuhnya ke samping

__ADS_1


seraya memberikan serangan balasan berbentuk cakar ke arah dada Bora.


Bora terkesiap berusaha menarik tubuhnya ke belakang namun serangan Pendekar Naga Sakti yang tidak disangka-sangka nya itu berhasil mengenai dadanya laki-laki berpakaian hitam itu terjadi sekitar satu tombak ke belakang sambil memegangi dada kanannya yang terkoyak terkena cakaran jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. Pendekar Naga Sakti.


"Kurang ajar!" geram Bora seraya menancapkan pedangnya ke tanah. Laki-laki berpakaian hitam itu mengalirkan hawa murninya ke arah dadanya yang terluka. Setelah itu sejajarkan tangannya di samping tubuhnya seraya mengerahkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya. Tidak butuh lama kedua lengan Bora dari siku hingga ke ujung jari berubah menjadi kehitaman laki-laki itu kemudian menarik kedua tangannya ke depan dada dan menyilang telapak tangan dan jemarinya membentuk cakar, Bora mengerahkan jurus 'Cakar Besi Penghancur'.


"Heaaah...!"


Setelah membentak nyaring, Bora melesat melompat menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti yang dari tadi sengaja tidak memberikan serangan saat Bora mengobati luka dalamnya.


Hawa dingin berbau pahit keluar dari angin serangan Bora


Anggala mencoba menangkis serangan cakar Bora itu, namun Pendekar Naga Sakti cukup terkejut ketika cakarnya beradu dengan lengan laki-laki berpakaian serba hitam itu, bagai beradu dengan bongkahan besi yang begitu keras. Pendekar Naga Sakti segera melompat mundur sekitar dua tombak.


Pemuda itu merapal jurus 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belasnya untuk mengimbangi ilmu 'Cakar Besi'. Bora itu.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favorit


Dan Votenya teman-teman.


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2