
Melihat adik-adik seperguruannya jadi mainan dua orang pendekar muda yang tadi mereka anggap remeh, Wajah Jatandra tampak memerah menahan malu dan amarah.
"Bangsat! Heaaa....!" Jatandra melompat ke arah Wulan Ayu sambil melancarkan sebuah pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi, dua larik sinar putih melesat dari telapak tangan laki-laki bergelang empat itu.
"Hup!" Wulan Ayu cepat menegoskan tubuhnya ke udara menghindari pukulan jarak jauh Jatandra itu.
Begitu Wulan Ayu menjejak kaki di tanah, dua orang adik seperguruan Jatandra sudah melesat menyerang sambil mengayunkan golok mereka ke arah punggung Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Hih!" walau cukup kesal, Wulan Ayu begitu cepat menundunduk agak membungkuk. Sehingga golok kedua orang itu lewat di atas kepalanya.
Wulan Ayu bergerak cepat, sikap usilnya tampak timbul. Dengan begitu cepat kedua tangannya menyentil telinga kedua murid Perguruan Gagak Hitam itu.
"Ah!" kedua adik seperguruan Jatandra yang lain melesat cukup cepat sembari menikamkan golok ke arah perut Wulan Ayu dari dua arah.
Bidadari Pencabut Nyawa begitu cepat menarik tubuhnya ke belakang, dengan kedua tangan bergerak menangkap pergelangan tangan keduanya.
Tap! Tap!
Creb! Creb!
"Aakgh!" hanya keluhan tertahan keluar dari mulut kedua orang bergelang satu itu. Perut mereka kini tertusuk golok teman mereka.
Kedua orang itu tampak terhuyung sempoyongan dengan kedua tangan memegangi batang golok yang menancap di perut mereka. Darah tampak mengalir dari mulut keduanya, tidak lama keduanya pun jatuh dan diam tidak berkutik lagi.
"Heaaah...!" Jatandra melesat dengan tangan membentuk cakar, ia menyerang dengan jurus 'Cakar Gagak Kematian'.
"Hiyaaat...!" Wulan Ayu cepat berkelit menghindar sambil memberikan sebuah tendangan ke arah perut Jatandra.
"Heh!" Jatandra cukup kaget, namun ia cepat menarik telapak tangannya yang membentuk cakar dan menapaki tendangan Wulan Ayu itu.
Tap!
__ADS_1
Jatandra terpaksa melompat ke belakang, setelah menangkis tendangan kaki Wulan Ayu yang mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi.
"Kurang ajar, tenaga dalam gadis ini begitu besar. Tapi kenapa aku tidak bisa melihat dari aliran tubuhnya. Apa dia memakai ilmu 'Penutup Batin?" desis Jatandra dalam hati.
Sebagai seorang murid senior di Perguruan Gagak Hitam, Jatandra sudah cukup mempunyai pengalaman menghadapi halang-rintang di dunia persilatan. Baru kali ini Jatandra bertemu seorang gadis muda yang mempunyai ilmu yang begitu tinggi.
Selama ini, Jatandra sudah merasa besar kepala. Walau ia memakai gelang baru berjumlah empat, namun ia cukup di segani di kalangan para senior Perguruan Gagak Hitam.
Merasa jurus tingkat rendah tidak akan mampu menghadapi gadis di hadapannya, Jatandra segera meningkatkan tenaga dalamnya menyiapkan jurus 'Gagak Besi'. tingkat empat.
Baru tingkat empat yang mampu di kuasai Jatandra dari tujuh tingkat ilmu Gagak Iblis, kedua lengan Jatandra tampak mulai berubahe menjadi kehitaman.
"Hmm..!" Wulan Ayu yang melihat Jatandra merapal ilmu kesaktian tingkat tinggi, gadis itu juga tidak mau kalah, ia cepat merapal jurus 'Bidadari Kayangan'.
"Heaaah...!" Jatandra langsung melompat cepat ke arah Wulan Ayu sambil mengayunkan kedua tangannya yang membentuk caka, hawa panas dan bau pahit menyebar dari kedua tangan laki-laki bergelang empat itu.
"Hmm..., jurusnya mengandung racun," gumam Wulan Ayu sambil bergerak cepat menarik tubuhnya ke belakang. Menyadari musuhnya menjaga jarak, Jatandra tampak menyungging senyum merasa di atas angin.
Sret!
"Kipas itu. Apakah itu kipas elang perak yang di katakan guru Gagak Lodra?" gumam Jatandra dalam hati, "Jika benar? Berarti aku sedang berhadapan dengan Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu.".
Wulan Ayu tampak membuka kuda-kuda jurus 'Elang Perak Menyambar Mangsa'. Dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi Wulan Ayu mengibaskan kipas elang perak ke arah Jatandra.
Wuss!
Angin kencang menghembus ke arah Jatandra, sehingga laki-laki memiliki gelang berjumlah empat buah itu terpaksa mengerahkan tenaga dalam agar tidak terdorong.
"Hup! Hiyaaa....!" pekik melengking tinggi Wulan Ayu terdengar nyaring, di ikuti tubuhnya melompat ke udara dan melesat ke arah Jatandra.
"Akan ku coba kekuatan jurus ini!" Jatandra membatin sembari menyongsong dengan kedua tangan yang membentuk cakar.
__ADS_1
Crang!
"Aakgh..!" Jatandra terpekik merasakan tangannya ngilu akibat beradu dengan daun kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Sret!
"Argh..!" lagi-lagi Jatandra harus memekik kesakitan ketika bahu kanannya tersambar ujung kipas elang perak yang mengeluarkan pisau kecil yang begitu runcing.
"Hup!" Jatandra melentingkan dirinya ke arah belakang berusaha menjauh, darah segar tampak mengalir dari luka di bahu kanannya.
"Heaaa....!" empat orang adik seperguruan Jatandra menerjang ke arah Wulan Ayu sambil menyabetkan golok mereka. Begitu cepat dan tangkas Bidadari Pencabut Nyawa bergerak menangkis dengan daun kipas elang perak.
Trang!
Buak! Duak!
Srass!
Salah seorang murid Perguruan Gagak Hitam itu tidak sempat menghindar dari kibasan ujung kipas elang perak yang mengarah ke arah perutnya.
"Aaa...!" jerit kesakitan di iringi tubuh adik seperguruan Jatandra itu terpental ke tanah sambil memegangi perutnya yang terluka, beberapa saat laki-laki tersebut tampak menggelepar di tanah dan kemudian diam tidak bergerak lagi.
"Hih!" Jatandra pun tampak masih memegangi bahunya yang mengucur darah, beberapa orang adik seperguruannya tampak masih mengepung Wulan Ayu. Namun mereka sudah tidak berani menyerang.
.
.
Bersambung.....
.
__ADS_1
.
Bersambung.....