
Matahari yang hampir lewat di atas kepala, suasana warung yang semulanya ramai akan pengunjung kini sepi. Suasana yang tadinya ramai kini menjadi mencekam.
Hanya gelak tawa orang-orang berpakaian hitam dengan baju rompi itu saja yang terdengar. Tanpa sopan santun dan menghargai yang tua mereka memanggil pemilik warung itu seenak perut mereka.
"Ki, kesini kau!" seru salah seorang laki-laki yang wajahnya penuh jambangan dan tak terurus. Wajah laki-laki itu tampak seram.
Aki pemilik warung itu datang dengan tergopoh-gopoh dan setengah ketakutan, "Ya, tuan. Tuan mau pesan apa? Biar aki siapkan," ucap aki pemilik warung itu bergetar.
"Ha ha ha....! Orang tua, cepat sediakan makanan paling enak disini, kalau ada tuaknya sekalian!" bentak si brewok itu.
"Kalau makanan ada Tuan, tapi aki tidsk menyediakan tuak. Di sini tidak ada orang yang menyadap aren atau pun kelapa," jawab aki pemilik warung ketakutan.
"Ya, sudah. Cepat siapkan makanan yang enak-enak!" perintah si brewok.
"Kak Kala Sumba, jangan terlalu kasar. Lihat aki itu sudah hampir terkencing-kencing karena takut," ujar salah seorang temannya.
"Diam kau, Nuran. Kau selalu saja meledekku!" jawab Kala Sumba sambil tertawa.
"Kak, Kemana kita harus mencari Pendekar Naga Sakti itu, kita tidak kenal siapa orangnya?" tiba-tiba Nuran mengalihkan pembicaraan.
"Ha ha ha...! Kita bisa melihat pedang yang di gunakannya, kabarnya dia selalu dengan seorang wanita cantik yang memakai baju serba biru," jawab Kala Sumba dengan lantang.
"Cecunguk seperti kalian mau mencari Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa. Apa tidak salah?" tiba-tiba suara menggema di dalam ruangan warung itu.
Suara batin yang dikirim menggunakan tenaga dalam tinggi. Kala Sumba cukup terkejut, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tertumbuk pada Jaka Kelana dan Singo Abang yang bersama kedua adiknya yang duduk tenang di sebuah meja di sudut ruangan itu.
"Heh...! Apa salah satu dari kalian yang mengirim suara itu? Hah!" bentak Kala Sumba sambil menunjuk ke arah Jaka Kelana.
Jaka Kelana hanya tersenyum sembari menoleh ke arah Kala Sumba, "Kisanak, kau tidak tau siapa yang mengirim suara itu. Kenapa kau menuduh kami?" jawab Jaka Kelana dengan begitu tenang, namun senyum di bibir kakasih Aruni itu membuat Kala Sumba menaruh curiga.
__ADS_1
"Kurang ajar! Kau merendahkanku, Anak Muda?"
"Hajar saja pemuda congkak itu, Kak Sumba! Dia sudah berani memandang rendah Penyamun Kala Hitam!" kata Nuran.
"Aku tidak merendahkan kalian, tapi menurutku sebaiknya kalian urungkan niat untuk mencari Pendekar Naga Sakti itu. Jika kalian masih ingin hidup lama sih," kata Jaka Kelana sambil tersenyum. Sedangkan Singo Abang dan ketiga adiknya hanya senyam-senyum mendengar Jaka Kelana memandang rendah kelompok Penyamun Kala Hitam itu.
"Bangsat! Banyak bacot, habisi...!" perintah Kala Sumba, tanpa banyak bicara empat orang bawahannya langsung bergerak hendak menyerang Jaka Kelana.
"Tunggu!" Jaka Kelana langsung bangun dan berdiri menghadap keempat anggota Penyamun Kala Hitam itu, "Jika kalian ingin adu jotos jangan disini, kita keluar di depan warung tempatnya cukup luas."
Setelah berkata dengan tenang dan tersenyum ringan Jaka Kelana berjalan keluar warung.
"Sahabat, apa kami bantu?" tanya Singo Abang juga ikut berdiri.
"Tidak usah sahabat, biar saya yang akan menghadapi cecunguk sombong ini," jawab Jaka Kelana sambil tersenyum.
"Baiklah, jika itu kemauan sahabat," jawab Singo Abang.
Empat anggota Penyamun Kala Hitam itu langsung menyusul keluar dan segera mengepung Jaka Kelana dari empat penjuru.
Sret!
"Sebaiknya kau hunus pedangmu itu, Kisanak!" bentak Nuran sambil memainkan dan memamerkan jurus-jurus golokya.
"Jangan hanya mengertak kisanak, buktikan!" jawab Pendekar Srigala Putih dengan begitu tenang.
"Mati!" bentak Nuran sembari melonpat cepat sambil mengayunkan goloknya menebas kearah leher Jaka Kelana, Namun dengan begitu sigap pemuda berpakaian putih itu menangkap pergelangan tangan Nuran.
Tap!
__ADS_1
Trang!
Begitu cepat Jaka Kelana bergerak, sehingga golok di tangan Nuran itu menangkis golok penyerang yang lain.
"Heh!" kawanan Penyamun Kala Hitam itu tersentak kaget ketika goloknya di tangkis dengan golok ditangan Nuran itu.
Setalah menangkis serangan golok salah seorang teman Nuran, Jaka Kelana terpaksa berkelit menghindari dua golok lainnnya yang mengincar kepalanya.
"Hup!" Jaka Kelana bergerak meliukkan tubuhnya ke samping dan kaki kanannya bergerak cepat bagaikan kilat menendang dua orang anggota Penyamun Kala Hitam itu.
Buak! Duak!
"Argh....!" dua anggota Penyamun Kala Hitam itu langsung terpental ke tanah dengan kedua golok ditangan mereka langsung terlepas dan jatuh berserakan.
Dua orang anggota Penyamun Kala Hitam itu tampak menggeliat kesakitan di tanah sambil memegangi bagian dada, darah segar kehitaman terlihat keluar dari mulut kedua orang itu.
"Bangsat! Heaaah....!" Nuran kembali melompat ke arah Jaka Kelana dengan sambaran goloknya, dilihat dari serangan dan gerakannya yang lebih cepat. Ilmu golok dan peringan tubuh Nuran berada di atas tiga temannya.
Jaka Kelana hanya menggelengkan kepalanya sebelum menarik cepat tubuhnya kebelakang sehingga golok Nuran hanya lewat di depan wajah pendekar muda dari bukit Kancah tersebut.
Duak! Buak!
Entah bagaimana tanpa Nuran sadari Jaka Kelana tiba-tiba sudah berada disampingnya, dan dengan sangat cepat telapak tangan kanannya bergerak menghantam dada Nuran sebanyak dua kali.
"Akgh....!" keluhan tertahan keluar dari mulut Nuran sambil darah segar menyembur dari mulutnya. Nuran langsung terpental ke arah belakang sekitar satu setengah tombak.
"Hebat juga pemuda itu, Siapa dia?" geram Kala Sumba sembari melompat keluar warung dan langsung menjejak kaki di depan Jaka Kelana yang masih berdiri begitu tenang, sedangkan salah satu bawahannya yang belum terluka tampak ragu menghadapi Jaka Kelana.
.
__ADS_1
Bersambung....