
Kesal di buru oleh Dewi Aurora, Jagat Pati langsung merangsek dengan pukulan jarak jauh. Dua sinar putih melesat dari tangan Warok Singa Merah kedua itu.
Blass....!!"
Burrr.....!!
Tanah tempat Elang Hijau berdiri itu berhamburan terkena dua sinar dari telapak tangan Jagat Pati itu. Namun Aurora telah melentingkan tubuhnya ke udara dengan begitu cepat.
"Hiaaa...!"
Dewi Aurora langsung melesat bagai elang ke arah Jagat Pati. Dua pedang di tangan gadis cantik berbaju hijau itu menyabet dengan cepat ke arah kepala dan leher Jagat Pati.
Set! Wut!
"Hup!"
Jagat Pati cepat menunduk dan menarik kepalanya kebelakang. Jika terlambat sedikit saja tentu pedang putih di tangan Elang hijau itu tentu akan membuat kepala Jagat Pati mengelinding di tanah.
Sret!
Jagat Pati melompat kebelakang sekitar tiga tombak. Warok Singa Merah kedua itu bersiap dengan ilmu 'Cakar Singa Menerkam Mangsa'.
Wut! Wut!
Dewi Aurora mengebutkan pedang di sekitar tubuhnya. Gadis cantik itu bersiap dengan jurus 'Pedang Elang Menembus Awan'. Bayangan pedang putih di tangan Dewi Aurora begitu cepat, sehingga yang terlihat hanya bayangan puluhan mata pedang mengelilingi tubuhnya.
"Sha..!"
Jagat Pati mengembor ke arah Elang Hijau dengan telapak tangan membentuk cakar mirip kuku singa. Hawa panas mendera dari ayunan tangan Warok Singa Merah kedua itu, kebutan telapak tangan Jagat Pati menderu memecah udara.
Trang! Trang!
Berturut-turut cakar tangan Jagat Pati membentur batang pedang di tangan Dewi Aurora itu. Dewi Aurora bergerak cukup cepat sabetan dan ayunan pedangnya begitu teratur. Namun Jagat Pati yang telah banyak mengenyam asam garam dunia persilatan mampu memberikan perlawanan.
Apalagi dengan jurus 'Cakar Singa Menerkam Mangsa'. milik Jagat Pati itu membuat telapak tangannya bagai besi, sehingga telapak tangan Jagat Pati tidak terluka beradu dengan pedang di tangan Dewi Aurora itu.
__ADS_1
"Hehehe...! Gadis cantik, ayo keluarkan lagi jurus-jurus pedangmu itu. Aku Warok Singa Merah ingin melihat sampai dimana kemampuanmu, hehehe...!" tawa jagat Pati. Warok Singa Merah kedua itu tampak agak memandang remeh pada Elang Hijau.
"Rupanya Kau memang ingin mati cepat, bajingan!" bentak Dewi Aurora dengan sengit. Gadis cantik berbaju hijau itu melompat mundur sekitar satu tombak kebelakang. Elang Hijau langsung bersiap dengan 'Jurus Pedang Elang Membelah Mega'. tingkat tujuh, Elang Surga Menembus Awan.
"Hiaaa....!"
Di iringi teriakan melengking Dewi Aurora melesat dengan pedang menyilang di depan dada. Bias cahaya api dari obor yang menerangi tempat itu membuat mata pedang di tangan Dewi Aurora itu seakan bersinar.
Bet! Set! Set!
Begitu jarak Dewi Aurora cukup dekat dengan Jagat Pati. Pedang putih di tangan Elang hijau itu, bergerak bagai kilat ke arah kepala dan dada Warok Singa Merah kedua itu.
"Heaa...!"
Jagat Pati cepat menangkis serangan Dewi Aurora itu dengan cakarnya. Suara dentingan benturan pedang dan cakar saling bersahutan. Sebuah sabetan yang hampir tidak di sangka Jagat Pati berhasil menyambar bahu kirinya.
Sress! Lengan kiri Jagat Pati terkoyak dan langsung mengucur darah segar. Jagat Pati tersentak sambil memegangi lengan kirinya yang berdarah. Jagat Pati cepat menotok jalan darah di sekitar lukanya untuk menghentikan aliran darah dari lukanya.
Jagat Pati mengusap luka di lengan kirinya seraya mengerahkan hawa murni ke arah lukanya. Dalam beberapa saat kemudian luka di bahu Jagat Pati telah mengering.
Sret!
"Kurang Ajar. Tidak ku sangka gadis ini mampu melukaiku..," Jagat Pati membathin.
Sementara itu Pendekar Naga Sakti yang berhadapan dengan petinggi perampok Warok Singa Merah tampak telah terlibat pertarungan sengit. Begitu pun dengan Bidadari Pencabut Nyawa terlibat pertarungan dengan orang-orang berpakaian ninja yang berjumlah cukup banyak.
Cahaya merah perlahan keluar dari upuk timur. Suara dingin di puncak gunung pungur ini tidak di rasakan oleh puluhan orang-orang yang sedang terlibat pertarungan.
Pengemis Gila yang berhadapan dengan Datuk Prabang Kara telah mengadu jurus-jurus silat yang mereka miliki, begitu pun dengan Kamandaka dan kedua adik seperguruannya juga telah berhadapan dengan puluhan orang gabungan perampok Walet Hitam dan Perampok Warok Singa Merah.
Cahaya matahari pun mulai menerangi di ufuk timur, namun pertarungan dua kelompok pendekar di puncak gunung pungur belum juga menandakan akan berakhir.
Belasan orang bahkan mungkin sudah puluhan orang anggota Perampok Singa Merah telah terbaring di tanah. Para perampok yang mempunyai kemampuan di bawah tingkat lima puluh telah tewas dan banyak yang terluka parah.
Hingar bingar suara pertarungan menyambut pagi yang cukup cerah. Udara dingin yang di sertai embun pagi bagai salju menyejukkan kulit. Namun tidak bagi para pengeroyok pendekar golongan putih tersebut. Keringat tampak telah mengalir dari tubuh dan wajah para perampok itu.
__ADS_1
Rasa sakit dan nyeri karna terhantam pukulan para pendekar golongan putih tersebut, membuat para perampok itu berkeringat. Mundur adalah hal yang memalukan bagi mereka.
Apalagi puncak gunung pungur ini adalah wilayah yang mutlak bagi mereka sebagai wilayah kekuasaan Perampok Singa Merah.
Kalajengking Merah telah berulang kali jatuh bangun terhantam pukulan tangan kosong Anggala. Begitu pun dengan Si Mata Satu tampak telah menyeka darah dari sudut bibirnya. Dingin udara pagi tidak di rasakan lagi oleh Kalajengking Merah dan Si Mata Satu.
Pendekar Naga Sakti yang memakai jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. di tambah dengan jurus 'Baju Besi Emas tingkat delapan belas. Setiap sabetan dan tikaman senjata di tangan kedua pembesar perampok Warok Singa Merah itu, bagai menghantam batangan besi.
"Hup..!"
Kalajengking Merah mundur beberapa tombak kebelakang. Kalajengking Merah merapal sebuah ajian yang jarang sekali ia gunakan. Ajian Kalajengking Merah. Tidak lama setelah perampok yang bernama asli Garang Amara itu komat-kamit merapal sesuatu, kedua lengannya berubah menjadi jepitan kalajengking berwarna merah.
Si Mata Satu pun tidak tinggal diam. Kepala rampok satu itu menancapkan goloknya ke tanah. Si Mata Satu meningkatkan tenaga dalamnya. Cahaya merah kehitaman menyelubungi kedua tangan Si Mata Satu. Tidak lama cahaya itu membentuk bulatan.
"Jurus Pukulan Lahar Api...!!!"
Bentakan SI Mata Satu melengking nyaring. Cahaya merah itu menyilaukan mata bagi orang biasa. Namun tidak bagi Pendekar Naga Sakti, pendekar muda dari lembah naga itu hanya sedikit menyipitkan matanya.
"Hari ini adalah hari kematianmu Pendekar Naga Sakti!" gertak Si Mata Satu menatap tajam ke arah Pendekar Naga Sakti itu.
"Mulutmu cukup besar di sarangmu Mata Satu! Kematianku bukan di tanganmu! Pencipta mengatur segalanya," balas Anggala dengan senyum tipis menyungging.
"Banyak bacot. Kau...! Heaaa....!!" bentakan nyaring Si Mata Satu mengawali kedua tangannya mendorong kuat ke depan. Dua bola api itu menderu cepat ke arah Pendekar Naga Sakti.
Kalajengking Merah pun melesat dari arah samping mencerca ke arah dada Pendekar Naga Sakti.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like Koment Vote dan favoritnya ya teman-teman. Terima kasih banyak.
.
__ADS_1
.