
"AKi, Mak. Kami permisi dulu, jika ada umur panjang dan kita masih di berikan kesehatan. Kita akan bertemu lagi," ucap Wulan Ayu sambil memeluk Mak Ripah.
"Sama-sama, Nak Ayu. Nanti jika ke Desa Gragan ini, jangan lupa mampir di warung Mak dan Aki. Kami akan membukakan pintu untuk kalian, walaupun tengah malam," jawab Mak Ripah sambil berusaha tersenyum.
Ada rasa berat di hati kedua pasangan tua itu berpisah dengan Anggala dan Wulan Ayu, apalagi selama Wulan Ayu ada di sini kerjaannya selalu terbantu. Padahal Wulan Ayu dan Anggala adalah tamu di penginapan mereka.
"Ki, saya dan Wulan Ayu pamit," ucap Anggala sambil menyalami Ki Syarif. Ki Syarif hanya tersenyum, memang ia jarang ketemu pasangan pendekar yang begitu ringan tangan membantu meringankan beban mereka. Apalagi itu hanya pekerjaan warung yang merupakan pekerjaan pelayan.
"Ini, untuk bekal kalian di jalan. Jangan lupa di makan," kata Mak Ripah memberikan buntilan makanan pada Wulan Ayu.
"Terima kasih, Mak," ucap Wulan Ayu seraya menerima buntilan makanan pemberian mak Ripah.
"Kami permisi, Nyi, Aki," ucap Sudrajat sambil tersenyum.
"Ya. Hati-hati di jalan!" ucap Ki Syarif sambil melambaikan tangan ke arah Wulan Ayu dan Anggala yang mulai mengebah kuda mereka meninggalkan warung itu.
"Sepi lagi kita, Nyi," kata Ki Syarif sambil berjalan memasuki warungnya.
"Iya, Ki. Sepi lagi....,"
.
.
"Heaaa....!"
"Heaaa......!"
Suara ketiga orang itu terdengar mengebah kuda mereka memecah kesunyian di tengah hutan. Kuda-kuda itu berlari menyusuri jalan setapak di tengah hutan yang tampak begitu rimbun.
Tidak ada yang mengeluarkan suara kecuali suara mereka memacu kudanya.
"Hiiikkk.....!" tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik karena terkejut, Ketiga pendekar itu tampak menarik pelana kuda mereka dengan paksa agar kuda-kudae menghentikan larinya.
Sekitar sepuluh orang berdiri tegak dengan gagahnya di tengah jalanan itu, wajah mereka tampak hitam dan begitu juga kulit mereka hitam legam karena terkena sinar matahari.
Orang-orang itu memakai pakaian serba hitam dan golok bergambar kepala harimau di bagian gagangnya terlihat jelas terselip di pinggang mereka.
"Ha ha ha....! Sudah lama jalan ini tidak di lewati juragan kaya, namun hari ini tampaknya kita punya rezeki nomplok. Tiga kuda dengan satu gadis cantik. Ha ha ha....!" tawa salah seorang penghadang itu di iringi tawa teman-temannya.
__ADS_1
"Kami bukan juragan kaya, kisanak. Sebaiknya kalian menyingkir dari jalan kami," kata Sudrajat begitu tenang, sedangkan Anggala dan Wulan Ayu tampak hanya diam memperhatikan.
"Ha ha ha....! Dia menyuruh kita menyingkir dari jalan ini. Apa dia tidak tau ini adalah daerah kekuasaan Penyamun Harimau Hitam..!"
"Ha ha ha....! Sebaiknya kalian serahkan ketiga kuda itu bersama gadis itu. Maka kalian berdua akan kami biarkan pergi dari sini dalam keadaan hidup!" bentak salah seorang anggota Penyamun Harimau hitam yang memiliki rambut panjang melewati bahunya.
"Kalian menginginkan kuda kami dan gadis ini, ambillah jika kalian mau!" kata Anggala sambil tersenyum tipis.
"Mereka salah mencegat orang tampaknya, Kak," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum memandang ke arah Anggala.
"Hup!" Wulan Ayu tiba-tiba melompat dan bersalto langsung mendarat dengan begitu ringan di depan para Penyamun Harimau Hitam.
"Heh!" anggota Penyamun Harimau Hitam tampak terkejut, ada beberapa orang yang sampai tersurut mundur.
"Kok bengong! Bukankah kalian memintaku tinggal di sini," kata Wulan Ayu sambil tersenyum tipis menyungging.
"Kurang ajar! Rupanya kau punya kepandaian, kau belum tau berhadapan dengan siapa nisanak! he he he...!" tawa anggota Penyamun Harimau Hitam.
"Saka, beri dia pelajaran!" perintah si plontos, rupanya si plontos adalah pimpinan rombongan penyamun tersebut.
Anggala hanya tersenyum memandang ke arah Wulan Ayu yang tampak berdiri tenang tidak jauh dari para penyamun itu.
"He he he...! Kau cantik sekali, jika kau mau jadi istriku kawan-kawanku tidak akan mengganggumu," kata Saka terkekeh sembari tangannya bergerak hendak menyentuh pipi Wulan Ayu.
Krak!
"Aaaa....!" Saka menjerit keras saat tangannya hampir menyentuh pipi Wulan Ayu. Secepat kilat Wulan Ayu menangkap dan mempelintir keras tangan Saja hingga mengeluarkan suara berderak.
Bruk!
"Akgh...!" Saka terdengar mengeluh kesakitan saat tubuhnya jatuh terjerembat ke tanah saat di dorong keras oleh Wulan Ayu.
"Bangsat! Geti, Ireng! Habisi dia...!" bentak si plontos memberi perintah pada dua anak buahnya.
"Heaa...!" Tanpa banyak bicara lagi, Geti dan Ireng langsung melompat menerjang ke arah Wulan Ayu dari dua arah.
Tap!
Tap!
__ADS_1
Begitu santai dan tenang Bidadari Pencabut Nyawa menyambut serangan dua orang anggota Penyamun Harimau Hitam itu. Malah dengan sangat cepat kaki kanannya bergerak memberikan serangan balasan.
Buak! Duak!
"Akgkh..!" Geti dan Ireng terdengar mengeluh tertahan sebelum tubuh mereka terlempar jatuh ke tanah.
Sret! Sret!
Geti dan Ireng langsung menghunus golok mereka begitu melompat bangun, keduanya langsung mengepung Wulan Ayu dengan memutar sambil memperlihatkan jurus-jurus golok mereka.
"Sebaiknya kau menyerah gadis cantik. Atau golok kami ini akan merusak tubuh indahmu itu!" geram Geti sambil menatap ke arah Wulan Ayu.
"Golok kalian itu hanya mainan anak kecil, kisanak!" sahut Wulan Ayu sambil tersenyum tipis, nada suara Bidadari Pencabut Nyawa terdengar meledek membuat Geti dan Ireng naik pitam.
"Bangsat! Heaaah...!" Geti langsung melompat ke arah Wulan Ayu sambil mengayunkan golok di tangannya, namun sungguh tidak di sanggkanya jika Wulan Ayu bergerak menangkap pergelangan tangannya.
Tap!
"Heh!" Geti tersentak kaget, ia cepat berusaha menarik pergelangan tangannnya. Namun usahanya tidak berhasil, Ireng bergerak berusaha membantu dari arah samping.
"Shaaa...!" Ireng menyabetkan goloknya ke arah bahu kiri Wulan Ayu. Namun Bidadari Pencabut Nyawa tampak diam tidak bergeming.
Trang!
"Hah!" Ireng terperanjat setengah mati ketika golok yang jadi andalannya bagai mengenai bongkahan besi begitu menyentuh bahu lawan. Ireng tampak tersurut mundur, tangan kanannya terasa kesemutan akibat serangannya tadi.
"Hup!" Geti tampak berusaha menarik pergelangan tangannya yang di genggam erat Wulan Ayu, namun semakin kuat ia menarik. Genggaman Wulan Ayu terasa semakin kuat.
Wajah Geti mulai memerah menahan malu dan tenaganya pun mulai terkuras, ia sudah berusaha menarik tangannya dengan mengerahkan tenaga dalam. Namun usahanya tetap sia-sia, tenaga dalam Wulan Ayu jauh di atas tenaga dalamnya.
"Bagaimana, Kisanak?" tanya Wulan Ayu sambil tersenyum tipis menyungging, sedangkan wajah hitam Geti tampak semakin hitam karena memerah mengerahkan tenaga.
"Hih!" tiba-tiba Wulan Ayu melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Geti, tentu saja perbuatan Wulan Ayu itu membuat Geti jatuh karena tarikan tenaganya sendiri.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1