
Anggala dan Wulan Ayu tergepung para prajurit berbaju rompi merah itu.
Wulan Ayu yang dari tadi bersiaga, akhirnya menghunus pedang elang perak dari balik punggungnya.
Sedangkan Anggala bersiap dengan ilmu 'Baju Besi Emas Tingkat Delapan Belas'. tangannya mengeluarkan cahaya putih terang di tengah cahaya matahari yang telah tengggelam di upuk barat.
Tiba tiba
Swing...!
"Aakh....!" Aakh....!"
Sebuah pedang terbang membantai para prajurit yang mengepung Anggala dan Wulan Ayu, setelah membantai lebih dari lima belas orang prajurit pemberontak, pedang itu terbang kembali ke arah pemiliknya yang muncul dari balik pepohonan.
Kelebat bayangan putih itu lansung ada di antara Anggala dan Wulan Ayu, pedangnya terhunus di tangan kanannya.
"Kalian tidak apa apa kisanak?" tanya bayangan putih itu.
"Tidak apa kisanak.! Kami baik baik saja," jawab Anggala tenang.
"Kita pergi dari sini kisanak.!" ajak bayangan putih itu.
"Hup...!"
"Heaa...!" Heaa...!"
Anggala dan Wulan ayu melompat ke atas kuda dan mengebah kuda mereka pergi dari tempat itu.
Para prajurit yang terkejut karena serangan pedang terbang tadi membuat mereka menyingkir tanpa sadar, mereka baru menyadari musuhnya telah melarikan diri.
__ADS_1
Anggala dan Wulan Ayu setelah merasa cukup jauh dari para prajurit yang mengepung mereka tadi, barulah mereka memperlambat lari kuda mereka. Bayangan putih tadi menghampiri Anggala dan Wulan Ayu.
"Siapa kalian? dan kenapa kalian sampai berurusan dengan para prajurit pemberontak itu!" tanya orang itu, ternyata ia seorang pemuda yang cukup gagah.
"Terima kasih kisanak, kau telah membantu kami tadi, kalau tidak kami tentu harus bertarung semalaman ini!" ucap Anggala.
"Kalian mau kemana?" tanya pemuda itu singkat.
"Kami mau menuju kota Raja Galuh Permata, kisanak!" jawab Anggala sambil turun dari kudanya. Wulan Ayu juga ikut turun dari kuda yang di tungganginya, ia berdiri di samping Anggala.
"Ada keperluan apa? Kisanak ke Kota Raja?" tanya pemuda itu, wajahnya tak begitu jelas di kegelapan malam, "Tampaknya kita harus bermalam di sini, di tengah hutan ini," tambahnya sambil mengambil beberapa ranting kayu, yang ada di sekitar mereka.
"Ya. Sepertinya begitu!" jawab Anggala sambil ikut mengumpulkan ranting kayu yang mati, untuk di jadikan api unggun. Setelah berhasil membuat api, barulah tampak wajah pemuda itu, umurnya sekitar dua puluh lima tahunan.
"O..! iya kisanak kenalkan nama saya Arya Geni, putra Patih Kerajaan Galuh Permata, saya Senopati di sana!" ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya Anggala dan ini Wulan Ayu!" jawab Anggala, ia memperkenalkan diri dan Wulan ayu.
"Ada apa kisanak, seperti mengingat sesuatu?" tanya Anggala penasaran.
"Rasanya saya pernah mendengar ayahanda patih menyebut nama putri Wulan Ayu?" jawab Arya Geni, "Ayahanda patih mengatakan kalau putri Baginda Raja bernama Wulan Ayu, kalau tidak salah, tuan putri di kirim ke teman lamanya yang bergelar Malaikat Pemarah.!" tutur Arya geni, mencoba mengingat ucapan ayahnya Patih Jagat Geni.
"Kisanak benar. Yang ada di hadapan kita ini adalah Putri Kerajaan Galuh Permata, Putri Baginda Raja Surya Galuh, Wulan Ayu yang di kenal di dunia persilatan dengan gelar Bidadari Pencabut Nyawa.!" jelas Anggala.
Mendengar penjelasan Anggala, arya Geni lansung berlutut di hadapan Wulan Ayu.
"Maafkan hamba Putri, hamba lancang tak mengenali tuan Putri..!" ucap Arya geni sambil tetap berlutut di hadapan Wulan ayu.
"Bagunlah kak Senopati, kau tiak bersalah, kau malah berjasa menyelamatkan kami dari para prajurit itu.!" ujar Wulan Ayu sambil membuka caping bambunya.
__ADS_1
"Jadi Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu, adalah tuan Putri.?" tanya Arya Geni sambil bangkit dari berlututnya dan kembali duduk di depan perapian, yang mereka buat tadi.
"Begitulah orang orang dunia persialatan memberi saya gelar kanda Senopati!" jawab Wulan Ayu lagi.
Anggala ini siapa? Apakah pengawal pribadi tuan Putri.?" tanya Arya Geni lagi.
"Tidak kak Senopati, kak Anggala adalah kekasih saya," jawab Wulan Ayu, sambil memandang Anggala yang diam sambil memperbesar api di perapian, "Dia Pangeran dari Kerajaan Mandalika, yang ada di utara Galuh Permata!" jelas Wulan Ayu, yang tak mau kekasihnya di pandang rendah orang lain.
"Maadkan hamba Pangeran. Maafkan saya Putri kalau hamba lancang!" ucap Arya Geni tampak menyesal atas perkataannya tadi.
"Tidak apa Kak Senopati, jangan terlalu sungkan kita di sini sesama pendekar, tak ada Pangeran dan tuan Putri," jawab Anggala kalem, tampak di wajahnya ia tidak tersinggung sedikit pun dengan ucapan Arya Geni tadi, yang mengatakan Anggala pengawal pribadi Wulan ayu.
"Panggil saja saya Anggala,!" kata Anggala sambil tersenyum ke arah Arya geni.
"Ya kanda senopati panggil saja nama, jangan terlalu sungkan,!" tambah Wulan ayu meneruskan perkataan Anggala tadi.
"Baiklah kalau itu kemauan tuan putri dan pangeran, jangan panggil hamba kanda panggil saja senopati Arya,!" ujarnya sambil membalas senyum Anggala.
" Kalau boleh tau Anggala pendekar apa?" tanya Arya geni, memecah kesunyian malam, Ia dan Anggala yang masih bangun, sedangkan Wulan Ayu sudah tidur bersandar di bahu kanan Anggala.
"Saya Pendekar Naga Sakti kak Arya!" jawab Anggala, ia tidak bergerak karna menahan tubuh Wulan Ayu yang tertidur.
"Jadi kau pendekar legendaris itu..?" Arya geni tampak terkejut mendengar gelar Anggala.
"Pendekar Naga Sakti bukan hanya saya kak Arya, guru saya Lesmana juga bergelar Pendekar Naga Sakti," kata Anggala.
"Kalau kak Arya Pendekar Pedang Terbang ya..?" tanya Anggala sambil menebak.
"Ya begitulah di Galuh Permata, orang-orang memberi saya gelar Senopati Pedang Terbang!" jawab Arya Geni sambil tertawa kecil, meraka berdua berbagi cerita sampai pagi.
__ADS_1
Begitu matahari terbit mereka barulah mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke ibukota Kerajaan Galuh Permata.