Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Manusia Batu


__ADS_3

Pagi yang begitu indah, cahaya mentari mulai menyinari bumi, burung- burung mulai berkicau menyertai hari yang begitu cerah itu.


.


Jarsa yang semalaman tidak memejamkan mata, dari tadi hanya duduk di atas dipan tidak jauh dari Anggala si Pendekar Naga Sakti yang tertidur lelap.


.


Mak Tarsih dan Lastri telah duluan bangun, mereka berdua menyiapkan masakan untuk sarapan mereka, dan untuk tamu-tamu mereka itu.


.


Wulan Ayu yang baru membuka mata tidak mendapati Lastri di sampingnya, buru-buru bangun dan lansung menuju dapur.


.


"Mak sungainya dimana? Saya mau mandi," Tanya Wulan Ayu sambil melihat ke arah mak Tarsih dan Lastri yang lagi sibuk memasak.


.


"Sungai cukup jauh nak, kalau sumur ada tidak jauh dibelakang, nak Wulan mau mandi di sumur atau di sungai?" Tanya balik mak Tarsih sambil menoleh ke arah Wulan Ayu.


.


"*Saya ingin mandi di sungai saja mak, sekalian cari ikan, apa di sungai itu banyak ikannya mak?"


.


"Kalau ikan, banyak nak Wulan, minta temani Lastri ke sungai, nak Wulan kan tidak tau jalannya?"


.


"Boleh, kalau Lastri tidak keberatan!"


.


"Tidak kok, Lastri pun belum mandi, jadi sekalian kita mandi*!" Jawab Lastri sambil menghentikan kerjaannya.


.


"Baiklah, ayo!" Ajak Wulan Ayu sambil tersenyum.


.


"Tunggu sebentar Lastri ambil pakaian dulu!" Pinta Lastri, ia pun berjalan ke kamarnya untuk mengambil pakaian.


.


Singkat cerita Wulan Ayu dan Lastri kembali dari sungai, mereka membawa ikan cukup banyak hasil tangkapan si Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Ikan-ikan itu di serahkan pada mak Tarsih untuk di bersihkan.


.


Ki Sarwala pun telah kembali dari jaga malam. ia terkejut melihat ada tamu yang tidak ia kenal, dan melihat di depan rumahnya porak poranda bekas pertarungan.


.


Anggala menceritakan tentang kejadian semalam pada Ki Sarwala. Orang tua itu sangat bersyukur karena Anggala dan Wulan Ayu berhasil menggagalkan penculikan terhadap putri satu-satunya itu.


.


Ki Sarwala tampak agak keberatan karena Anggala dan Wulan Ayu memberi kan pengampunan pada Sarja anggota Kelompok Topeng Hitam itu.


.


"*Apa nak Anggala yakin, pemuda ini tidak akan kembali ke Kelompok Topeng Hitam itu?"


.


"Jika ia kembali ke Kelompoknya, kami yang akan menghabisinya K**i*!" Jawab Anggala dengan tenang.


.


"Aki takutnya bajingan ini begitu temannya datang ia akan menyerang dari belakang nak Anggala?!"

__ADS_1


.


Mendengar perkataan Ki Sarwala itu, Sarja lansung berlutut di depan Ki Sarwala.


.


"Ki tolong beri saya kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar dan menebus semua kesalahan saya. Jika Aki tidak mempercayai niat saya, Aki bisa membunuh saya. Saya rela..!!" Ujar Sarja dengan suara sedikit bergetar dan wajah menunduk.


.


"Jika itu tekatmu anak muda, Aki terima keinginanmu, resiko yang Kau hadapi adalah kematian, aku akan senang hati membunuhmu jika Kau berkhianat!" Tegas Ki Sarwala.


Anggala hanya tersenyum mendengar percakapan Ki Sarwala dengan Sarja. Mak Tarsih mengantarkan ubi rebus dengan air kopi.


.


Baru saja mereka minum dan makan ubi rebus masakan mak Tarsih. Mereka di kejutkan suara orang membentak di depan rumah.


"Hei! Pendekar yang ada di dalam rumah, keluarlah!!"


Tampak di depan rumah Ki Sarwala itu. rombongan Kelompok Topeng Hitam telah berada di halaman rumah Ki Sarwala itu.


.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini nak Anggala?" Tanya Ki Sarwala tampak keheranan.


.


"Entahlah Ki? Mari kita lihat!" Kata Anggala mengajak Ki Sarwala, mereka pun lansung melihat ke luar rumah.


.


Begitu mereka keluar dari pintu mereka terkejut melihat siapa? yang ada di depan rumah itu.


.


"K**elompok Topeng Hitam!" Ki Sarwala tampak terkejut melihat orang-orang yang ada di depan mereka itu.


.


.


"Temanmu ada di dalam Kisanak!" Jawab Anggala dengan suara lantang, dengan nada yang begitu dingin.


.


"*Kau apakan dia, hah!"


"Aku tidak berbuat apa-apa pada temannya itu*!" Jawab Pendekar Naga Sakti sengit.


.


"Cincang mereka!!" Perintah Tuja pada anak buahnya, tanpa banyak cerita anak buah Tuja Manusia Batu lansung merangsek menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti dan Ki Sarwala.


.


"Hup....!"


Pendekar Naga Sakti melentingkan tubuhnya ke udara menghindari senjata musuh yang mengarah padanya.


Sedangkan Ki Sarwala melompat ke dalam rumah untuk mengambil golok nya.


.


Sarja yang mendengar keributan di luar rumah lansung melompat keluar dengan senjata trisula di tangannya. Sarja lansung menghadang salah seorang anggota Kelompok Topeng Hitam yang mengejar Ki Sarwala yang menuju dalam rumah.


.


"Sarja! Apa yang Kau lakukan? Kami kesini untuk menjemputnya!" Bentak anggota Kelompok Topeng Hitam itu. ia melompat mundur menghindari senjata trisula Sarja itu.


.


"Aku tidak perlu Kalian jemput aku bisa pulang sendiri! Tapi tidak ke tempat Ki Dukun lagi!" Jawab Jarsa dengan sengit, senjata trisula sepanjang satu hasta tergenggam erat di tangan kanannya.


.

__ADS_1


Bidadari Pencabut Nyawa atau di kenal dengan nama Wulan Ayu lansung melesat Keluar kamar Lastri. Ia lansung menemui Ki Sarwala yang mengambil goloknya.


.


"Siapa Ki yang datang menyerang pagi-pagi begini?" Tanya Wulan Ayu penasaran.


.


"Kelompok Topeng Hitam itu nak Wulan!" Jawab Ki Sarwala sambil buru buru menuju pintu depan rumahnya, sebilah golok telah tergenggam di tangan kanannya.


.


Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa lansung melesat menyusul dan lansung menyerang salah seorang anak buah Manusia Batu yang mengeroyok Pendekar Naga Sakti itu.


.


Buak.!


"Aakh...!"


Anak buah Tuja Manusia Batu yang terkena serangan Bidadari Pencabut Nyawa itu jatuh ke tanah, ia berusaha bangun dan lansung membuka topengnya.


Tampak darah segar mengalir di sela-sela bibirnya.


.


Sret.!


.


Si Bidadari Pencabut Nyawa lansung mengeluarkan kipas elang perak dari balik bajunya, dan membentang di depan dadanya.


.


"Bidadari Pencabut Nyawa!" Kata Tuja tampak terkejut melihat kipas di tangan Wulan Ayu itu. Tuja lansung mengenali siapa gadis cantik bersenjata kipas bergambar elang berwarna perak itu.


.


Ki Sarwala yang baru keluar dari rumahnya lansung membantu Anggala, Wulan Ayu dan Sarja.


.


"Kalau Kau tau siapa aku, sebaiknya Kalian tinggalkan tempat ini!" Bentak Wulan Ayu dengan suara lantang.


.


"Nama besar mu memang cukup menggegerkan dunia persilatan, tapi aku Manusia Batu tidak takut pada siapa pun!" Jawab Tuja Manusia Batu dengan Suara lantang. Wajah brewokan nya tampak memerah karna menahan amarah.


.


"Heaaa....!"


Tuja Manusia Batu lansung merangsek menyerang ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan sebuah pukulan tangan kosong yang cukup cepat.


.


Crang..!


Tinju Tuja beradu dengan daun kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Dengan secepat kilat Wulan Ayu mengusulkan sebuah tendangan ke arah perut Tuja alias Manusia Batu itu.


.


Bung..!


"Aah...!"


Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa tersurut mundur dengan merasakan kakinya bergetar dan sakit, karna menendang tubuh Tuja tadi.


.


Tuja lansung melesat menyusulkan sebuah serangan cepat ke arah Wulan Ayu. Gadis cantik itu terpaksa melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangan Tuja itu.


.


"Bangsat.! Ternyata yang di Katakan Sarja benar. Orang ini kebal terhadap pukulan!" Guman Wulan Ayu dalam hati, ia mengalirkan hawa murni ke kakinya untuk meredakan rasa sakit di telapak kakinya.

__ADS_1


.


__ADS_2