
"Bangsat! Heaaa.....!"
Bentakan nyaring Kerta Sura sembari melesat cepat ke arah Aruni. Keris macan hitam di tangannya teracung ke arah deoan.
Trang! Trang!
Bunga api memercik di sekitar dua mata senjata yang saling beradu di udara, suara dentingan keris dan pedang itu terdengar susul menyusul.
"Hup! Hiyaaat....!"
Trang! Trang!
Aruni begitu gesit memainkan jurus-jurus pedang kelelawar putih, sambaran pedang di tangan gadis itu bagai mata kilat yang begitu cepat menyambar. Jika saja Kerta Sura tidak mempunyai pengalaman tinggi dalam bertarung tentu ia akan kelabakan menghadapi jurus 'Pedang Kelelawar Putih'. milik Aruni itu.
Kerta Sura yang menggunakan jurus 'Keris Macan Hitam Menerkam Mangsa'. tampak berusaha mendesak Aruni. Namun jurus pedang dari kitab kelelawar putih pemberian pertapa kelelawar dari goa kelelawar adalah sebuah jurus pedang yang hanya berada satu tingkat di bawah jurus 'Pedang Kayangan'. milik Bidadari Pencabut Nyawa.
"*kurang ajar! jurus-jurus pedang kelelawar putih ternyata cukup sulit di taklukan. Jika aku tidak banyak mengenyam asam-garam dunia persilatan, tentu aku akan di pecundangi gadis ini," batin Kerta Sura sambil melompat menjauh.
"Jurus keris Macan Kuning ini cukup berbahaya, jika aku tidak rajin berlatih. Tentu dalam waktu singkat aku bisa di kalahkanya*," gumam Aruni dalam hati.
Set! Set!
Kerta Sura tampak bersiap dengan sebuah pukulan tenaga dalam yang dialirkan melalui keris macan hitam di tangannya. Tampak cahaya merah mengalir dari pangkal lengan Macan Kuning itu mengalir ke arah keris yang di tegakkan di depan wajahnya.
"Itu ajian 'Keris Macan Hitam Membelah Awan'. Hati-hati, Aruni...!" seru Aruma Sakta memperingatkan sang adik. Aruni tampak hanya mengangguk mendengar peringatan kakaknya.
Perlahan Aruni pun tampak menegakkan pedang kelelawar putih di depan wajahnya. Tampak sinar putih bersinar mulai menyelubungi mata pedang di tangan gadis itu.
__ADS_1
"Jurus 'Pedang Kelelawar Putih Menembus Langit'. Sejak kapan Aruni menguasai jurus pedang tingkat tinggi itu?" desis Aruma Sakta melihat Aruni merapal jurus 'Pedang Kelelawar Putih Menembus Langit'.
"Dia, memang seorang gadis yang pintar, Kak. Bukankah Aruni pergi ke goa kelelawar hanya tiga bulan untuk bertapa?" Cakradana seakan tidak percaya melihat putri bungsu Ki Gading Mageli tersebut.
"Sejak kecil dia memang sangat cekatan dalam berlatih ilmu pedang, tidak di sangka dia sudah menguasai jurus 'Pedang Kelelawar'. tingkat sembilan," kata Aruma Sakta. Melihat Aruni merapal jurus 'Pedang Kelelawar'. tingkat sembilan Aruma Sakta tampak tersenyum tipis, ia yakin Aruni mampu menandingi ilmu kesaktian si Macan Kuning itu.
"Heaaah....!" bentakan nyaring Kerta Sura sambil mengibaskan keris di tangannya ke arah depan. Cahaya merah kehitaman meluncur deras ke arah Pendekar Kelelawar Putih.
"Hiyaaat.....!!" Aruni pun mengayunkan pedang kelelawar putih ke arah depan, kedua tangannya tampak menggenggam gagang pedangnya. Cahaya putih bersinar terang meluncur menyongsong ke arah sinar merah dari keris hitam di tangan Macan Kuning.
Swoss! Swoss!
Buuummm........!!
Blaaarrr..........!!!
Beberapa orang murid Perguruan Bambu Kuning tampak terhuyung karena tanah bergetar dan terguncang bagai di hantam gempa berkekuatan tinggi.
Aruma Sakta dan Cakradana tampak memperkuat kuda-kuda mereka agar tidak terjatuh ke tanah.
"Hup!" Aruni tampak terdorong ke belakang sekitar lima tombak ke belakang, gadis cantik itu tampak menancapkan pedang kelelawar putih di tanah, agar ia tidak jatuh ke tanah.
"Aaaa.........!!" Kerta Sura tampak terpental ke belakang sekitar tujuh tombak ke belakang hingga jatuh bergulingan, laki-laki berpakaian serba kuning itu tampak berusaha bangun sambil memegangi dadanya.
Darah segar tampak mengalir dari sela-sela bibirnya hingga membasahi dagu dan jenggotnya yang sudah berwarna putih. Wajah hitam Kerta Sura yang tadi tampak berwarna hitam kemerahan, kini berubah putih pucat.
"Uhuakh.....!" Kerta Sura memuntahkan darah segar sambil berlutut di tanah. tangan kananya masih menggenggam kerisnya.
__ADS_1
"Guru...!" empat orang murid Kerta Sura langsung menghambur dan memberikan pertolongan kepada sang guru untuk berdiri. Namun begitu mereka melihat ke arah depan, puluhan murid Perguruan Bambu Kuning tampak sudah mengepung mereka berlima.
"Sebaiknya kalian cepat tinggalkan tempat ini. Sebelum kesabaranku habis!" kata Aruni sambil mengacungkan pedang kelelawar putih ke arah Kerta Sura dan keempat muridnya.
Walau nada suara Pendekar Kelelawar Putih tidak meninggi, namun tatapan mata gadis itu yang begitu tajam membuat ke empat orang murid Kerta Sura itu tampak menunduk. Mereka tidak sanggup menatap tajamnya mata Aruni yang begitu tajam bagai mata elang yang siap menangkap mangsanya.
"Guru, kita tinggalkan tempat ini. Kita laporkan saja apa yang terjadi pada Setan Merah Pencabut Nyawa bahwa Perguruan Bambu Kuning tidak mau menerima undangan Partai Teratai Hitam," ucap salah seorang murid Kerta Sura yang paling tua dari keempat orang itu.
"Tunggu pembalasanku, gadis ******. Urusan kita belum selesai!" kata Kerta Sura sambil menunjuk ke arah Aruni.
"Ku tunggu kedatanganmu, kisanak!" tantang Aruni lantang dengan sebuah senyum kemenangan. Baru saja Kerta Sura hendak meninggalkan Perguruan Bambu Kuning, tiba-tiba sebuah suara menggema di seantero tempat itu.
"Tidak usah meninggalkan tempat ini Kak Sura, kami datang membantu!!!"
Semua mata berusaha mencari asal suara tersebut, namun tidak seorang pun yang melihat pengirim suara tersebut.
"Hei....! Siapa pun itu.... Keluarlah....!!!"
.
.
Bersambung....
.
.
__ADS_1